TGB Kuatkan Sinyal Dukungan untuk Dr. Zul

Mataram (Suara NTB) – Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (NW), Dr. TGH. M. Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) memperkuat sinyal dukungannya untuk Dr. Zulkieflimansyah (Dr.Zul) tampil di Pilkada NTB 2018. TGB menegaskan, Dr. Zul adalah salah seorang pengurus NW. Dan menurut TGB pula, adalah sesuatu yang sangat wajar jika NW menawarkan kadernya yang potensial untuk tampil memimpin NTB.

TGB bersama Dr zul
TGH. M. Zainul Majdi & Dr. Zul

“Kalau ada orang yang melihat, misalnya, ada kader Nahdlatul Wathan, atau bahkan ada putra NTB yang berkualitas, ya sah-sah saja untuk kemudian ditawarkan sebagai calon pemimpin. Dan beliau ini termasuk yang sangat potensial,” ujar TGB kepada Suara NTB, Selasa, 9 Agustus 2016.

Iklan

Pernyataan itu disampaikan TGB untuk menjawab pertanyaan menyangkut kehadiran Dr. Zul dalam acara penutupan Muktamar NW di Pondok Pesantren Nurul Haramain, Narmada, kemarin.

 Menjelang penutupan muktamar, TGB dan Dr. Zul terlihat berbincang sangat akrab. Sementara, di halaman rumah, puluhan pengurus NW dan panitia Muktamar tampak bersiap menjelang acara penutupan muktamar.

Usai penutupan muktamar, Dr. Zul juga tampak berbincang cukup serius dengan Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah yang sempat disebut-sebut sebagai duet ideal untuk Dr. Zul jika kelak tampil di 2018.

TGB menganggap, kehadiran Dr. Zul di kegiatan itu sebagai sesuatu yang wajar adanya. Menurutnya, Dr. Zul hadir dalam kapasitasnya sebagai pengurus NW yang lama, sekaligus sebagai kader yang akan kembali menjadi bagian dari Pengurus Besar NW periode berikutnya.

“Beliau ini sebenarnya pengurus Nahdlatul Wathan. Salah satu unsur di kepengurusan PB di periode yang lalu. Dan juga Insya Allah akan ikut di kepengurusan yang sekarang juga. Jadi beliau ini ikut, yang utama adalah sebagai salah satu pengurus di Pengurus Besar Nahdlatul Wathan,” ujar TGB.

Ulama yang juga menjabat sebagai Gubernur NTB dan Ketua DPD Partai Demokrat NTB ini pun tak keberatan jika ada yang menafsirkan kehadiran Dr. Zul dalam sudut pandang politik. “Terserah saja yang menafsirkan. Dan masalah kiprah Nahdlatul Wathan berdakwah melalui jalur politik ya tidak perlu dipertanyakan lagi,” ujarnya.

Soal calon pemimpin NTB, TGB menegaskan bahwa salah satu modal utama yang harus dimiliki pemimpin NTB 2018 mendatang adalah rekam jejak. Rekam jejak itu bisa dilihat dari kedekatan figur tersebut dengan masyarakat.

“Dan saya pikir kita semua tahu bahwa beliau (Dr. Zul), termasuk juga beberapa yang lain, punya cukup pengalaman untuk bersama dengan masyarakat. Termasuk untuk konteks beliau, ya melaksanakan pendidikan, kemudian kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, kegiatan sosial. Pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kapasitas SDM secara keseluruhan untuk daerah kita,’’ ujarnya.

TGB menambahkan, Dr. Zul juga patut menjadi kebanggaan NTB karena memiliki kualifikasi keilmuan yang mumpuni. “Integritas juga bagus,” imbuhnya.

Ia menambahkan, salah satu tantangan yang akan dihadapi calon pemimpin NTB di 2018 mendatang sangat berkaitan erat dengan status NTB sebagai provinsi pelopor moeslim tourism. Selain itu, sang calon pemimpin diharapkan bisa meneruskan rencana memanfaatkan posisi geostrategis NTB, dalam hal ini untuk pengembangan aspek kemaritiman melalui global hub di Lombok Utara. Juga bagaimana mengelola potensi mineral yang besar di NTB yang menuntut pola pemanfaatan yang lebih berkelanjutan, yang juga bisa memberikan kemanfaatan yang lebih nyata untuk masyarakat.

Tantangan semacam ini, menurut TGB, membutuhkan tipe pemimpin yang berpikiran terbuka. “Yang visioner, yang mau dan mampu membangun jejaring nasional dan internasional. Karena, kalau kapasitas kita, hanya mengandalkan kemampuan yang ada di dalam daerah, sangat tidak cukup untuk melejitkan potensi yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, dalam sambutannya sesaat sebelum menutup Muktamar NW, TGB berpesan kepada para pengurus dan panitia muktamar NW untuk tidak berhenti mengembangkan diri. TGB menganalogikan NW sebagai sebuah ‘cekungan’ atau ‘lembah’ yang mampu menampung air. Analogi serupa, menurutnya juga berlaku untuk organisasi Islam yang lain seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan organisasi lainnya.

Karena itu, TGB secara khusus mengingatkan para pengurus NW untuk tidak saling membandingkan dengan organisasi lain. Bahkan, menurutnya, jika ada anggapan bahwa organisasi lain lebih baik ketimbang NW, ada baiknya jika penilaian itu diamini sembari terus melakukan koreksi terhadap organisasi dan diri sendiri.

Sebab, TGB meyakini bahwa kemauan untuk terus mengoreksi diri akan membuat ‘cekungan’ yang bernama NW ini semakin besar kemampuannya dalam memberikan manfaat bagi umat. Ia mengingatkan, tugas para pengurus NW adalah melakukan perbaikan terus menerus agar ‘cekungan’ yang bernama NW ini bisa semakin dalam sehingga menampung air yang lebih banyak dan lebih jernih.

“Kita benahi ‘cekungan’ kita. Kita perdalam lagi. Kalau ada kotoran-kotoran, kita bersihkan. Kalau ada enceng gondoknya, atau lumut-lumutnya, atau lumpur-lumpurnya, kita singkirkan, supaya dia menampung air yang banyak dan air yang ditampung itu tetap jernih,’’ ujar TGB yang disambut riuh tepuk tangan dari hadirin.

Senada dengan TGB, Dr. Zul pun menilai saat ini NW sudah berhasil meluaskan jejaringnya. Jejaring itu tidak lagi hanya sebatas Pulau Lombok dan NTB. Organisasi yang didirikan oleh Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid ini menurutnya, telah menjadi bagian dari kekuatan Islam di dunia internasional. Tampilnya NW di pentas internasional, menurutnya juga ditandai dengan kemauan NW untuk memperluas cakrawala keilmuan para kadernya yang tak sungkan menimba ilmu dari peradaban barat.

‘’Banyak tokoh muda NW kita berkesempatan bukan hanya belajar di Timur Tengah, tapi juga di negara-negara barat seperti Eropa dan Amerika,’’ ujar Dr. Zul.

Dr. Zul yakin, sikap yang demikian, akan membuat NW semakin kaya dengan khazanah ilmu. “Dengan pengalaman dan jaringan yang semakin luas, NW sebagai organisasi akan banyak belajar dan berubah. Insya Allah akan banyak berkiprah untuk agama, bangsa dan negara,’’ pungkasnya. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here