Tetebatu Miliki Tujuh Modal Besar Menangkan Kompetisi Desa Wisata Terbaik Dunia

Salah satu paket wisata di Tetebatu adalah wisatawan bisa melihat proses pembuatan kopi khas desa yang berada di kaki Rinjani tersebut. Wisatawan juga bisa menggoreng kopi dan membawanya sebagai oleh-oleh. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) resmi menetapkan Tetebatu mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi desa wisata terbaik dunia tahun 2021 yang digelar United Nation World Tourism Organization (UNWTO). NTB mengaku optimis Tetebatu dapat memenangkan kompetisi tingkat dunia tersebut dengan tujuh modal besar yang dimiliki saat ini.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPBD) Lombok Timur, Muhammad Nursandi mengatakan ada sembilan indikator yang dilihat dalam kompetisi tersebut. Sebanyak tujuh indikator yang bernilai global sudah dimiliki Desa Wisata Tetebatu. Dikonfirmasi disela-sela kunjungan Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, Sabtu, 28 Agustus 2021 di Desa Tetebatu Lotim, Sandi menyebutkan tujuh modal besar yang dimiliki Desa Tetebatu.

Iklan

Pertama, hutan Tetebatu yang berada di selatan Gunung Rinjani berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Hutan tropis Tetebatu membantu menstabilkan iklim dunia dengan menyerap karbondioksida dari atmosfer. Pembuangan karbon dioksida ke atmosfer diyakini berpengaruh terhadap perubahan iklim melalui pemanasan global.

“Oleh karena itu, hutan  Tetebatu memiliki peran penting dalam mengatasi pemanasan global hari ini. Selain itu, hutan selatan Rinjani di Tetebatu merupakan rumah bagi flora dan fauna endemik nasional,” jelasnya.

Kedua, dalam perdamaian dunia. Tonggak awal perdamaian dunia dalam konteks saling pengertian, dan toleransi di desa-desa pedalaman. Kemunculan ini setidaknya dimulai dengan Desa Tetebatu yang telah menjadi desa wisata sejak tahun 1930 hingga sekarang.

Tentu saja, kata Sandi, melihat keragaman berbagai suku, agama, budaya, dan latar belakang pengunjung di seluruh dunia berpotensi menjadi ancaman terutama daerah pedesaan. Oleh karena itu, dengan representasi Desa Wisata Tetebatu, membuka transformasi inklusivitas universal perdamaian dan kerukunan internasional dalam konteks daerah pedalaman.

Ketiga, pergeseran paradigma lokal dalam hal pariwisata negatif. Ia menjelaskan, masyarakat pedesaan di hampir seluruh nusantara mendiskreditkan posisi perempuan yang bekerja di sektor pariwisata. Keberadaan mereka tidak diterima dengan baik oleh masyarakat jika mereka sudah bekerja di sektor pariwisata.

Biasanya mereka akan menjadi keluarga yang terbuang dan dipojokkan oleh lingkungannya sendiri. Paradigma ini kemudian dilawan dengan keberadaan desa wisata Tetebatu yang mulai memperkenalkan dan mempromosikan nilai-nilai inti pariwisata yang melibatkan tokoh agama, budaya, tokoh masyarakat setempat untuk mengatur kesetaraan individu, hak, dan kesempatan yang sama dalam kesataraan gender.

“Dengan demikian, perempuan berperan sangat penting dalam pembangunan desa Tetebatu,” terangnya.

Keempat, keaslian desa yang terjaga. Keindahan bentang alam, perkebunan, pertanian, peternakan, perbukitan, air terjun, budaya, seni dan tradisi yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari menjadi paduan nilai yang sangat tinggi untuk dilestarikan, dijaga dan dirawat dengan langkah awal pelibatan masyarakat. Dalam aspek ini, masyarakat sangat ramah dan terbuka terhadap pengunjung.

Layanan inilah yang kemudian menjadi nilai tambah yang membuat pengunjung nyaman dan aman. Sehingga, tak sedikit tamu yang menjadikan tuan rumah sebagai ayah atau ibu angkatnya sendiri di Tetebatu dan sering kembali berkunjung.

Kelima, Tetebati menjadi salah satu pelopor desa wisata di Indonesia Timur. Tak jarang  pengunjung mengatakan Tetebatu adalah Ubud kedua yang dulu ada. Perbedaan yang paling dominan adalah keberadaan seni dan kultur masyarakat setempat.

Namun dalam konteks subtansi tradisi pedesaan dan alam memiliki karakteristik yang sama. Sejak kedatangan dr. Soedjono di Tetebatu pada tahun 1920, Tetebatu telah menjadi rumah bagi pengunjung dari seluruh dunia di Lombok yang difasilitasi Soedjono.

Berawal dari aktivitas pengunjung Tetebatu yang menjadi cikal bakal desa Tetebatu diperhatikan dan memotivasi perkembangan desa wisata lainnya di kawasan timur Indonesia sebagai daerah eksplorasi lanjutan.

Keenam, Desa Tetebatu memiliki  Pendidikan Anak Usia Dini atau Sekolah PAUD Pariwisata. Di mana seluruh rangkaian kegiatan mengenalkan lingkungan, budaya, dan toleransi telah diperkenalkan sejak dini.

Kegiatan ini jarang dilakukan oleh kebanyakan desa wisata pedalaman lainnya. Lingkungan ini kemudian membentuk kepribadian anak-anak yang inklusif terhadap kemajuan pariwisata secara universal. Hal ini juga sering sebagai lokus pemahaman lintas budaya (cross culture understanding).

Keterlibatan baik pengunjung maupun anak-anak dari keluarga pengunjung internasional seringkali memilih tempat ini untuk menitipkan anak-anaknya untuk belajar aktivitas sehari-hari dan menjadi lingkungan bermain bersama. Tinjauan ini setidaknya Tetebatu yang berada pada desa pedalaman, telah menyematkan destinasi ramah anak dan keluarga sehingga memberikan rasa aman dan nyaman pada pengunjung internasional.

Dan terakhir, kehidupan lokal yang harmonis. Suasana desa yang damai sangat ideal bagi pengunjung yang ingin beristirahat dan bersantai mencari ketenangan.

Sungai yang terbentuk di kaki gunung Rinjani memberikan energi positif bagi pikiran dan motivasi hidup serta melakukan aktivitas selanjutnya. Hal ini didukung pula oleh keseimbangan kearifan lokal.  Kesetaraan gender, rantai penggerak ekonomi lokal, sosial budaya, dan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

“Potensi inilah yang kemudian dibentuk menjadi wisata berbasis masyarakat Tetebatu untuk merasakan pengalaman hidup di pedesaan bersama penduduk lokal Tetebatu dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal,” terang Sandi.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata NTB, Ahlul Wakti, S.T., M.T., mengatakan setelah resmi diusulkan ikut lomba desa wisata tingkat dunia, Tetebatu akan dibenahi dengan memperkuat inovasi. “Inovasi itu tak mesti modern. Tetapi inovasi itu bagaimana hutan dan lingkungan yang ada sekarang lebih lestari dengan kegiatan zero waste. Itu yang perlu kita tonjolkan,” katanya.

Kemudian, kata Ahlul Wakti, Pemprov melalui Dispar NTB akan memfasilitasi pelatihan pelaku wisata di sana yang bergerak di sektor perhotelan, pokdarwis, porter dan guide.

“Harus dipenuhi sekarang adalah persyaratan minimal menjadi zona hijau pariwisata. Dengan melakukan CHSE dan vaksinasi masyarakat. Minimal 70 persen pelaku wisata dan masyarakat di sini divaksinasi,” katanya.

Sekretaris Desa Tetebatu, Hermiwandi menyebutkan jumlah turis asing yang berkunjung setiap bulan sebelum pandemi Covid-19 mencapai 250 – 300 orang. Namun, di masa pandemi Covid-19, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung turun. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional