Terungkap, Cara Kerja Bule Bulgaria Pelaku “Skimming” ATM

Mataram (suarantb.com) – Perkara skimming ATM Bank Mandiri dan Bank BNI mulai disidangkan. Terdakwa Yulee Stevanov Chekalarov mendengarkan dakwaannya. Warga negara Bulgaria itu didakwa melakukan upaya perekaman data nasabah. Dari sidang itu pula, terungkap bagaimana cara pelaku melakukan praktik skimming ATM.

Sidang perdana Senin, 14 November 2016 di Pengadilan Negeri Mataram itu dipimpin Ketua Majelis Hakim, Dr. Yapi didampingi hakim anggota, Ferdinand Leander dan Yuli Atmaningsih.

Iklan

JPU Kejati NTB, Wahyudiono mengatakan, terdakwa sengaja dengan tanpa hak mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain dengan tujuan untuk memperoleh informasi atau dokumen elektronik.

“Perbuatan itu dilakukan di ATM Bank BNI di SPBU Meninting, Batulayar dan di ATM Bank Mandiri di Gili Air, Pemenang,” ujarnya membacakan surat dakwaan. Di TKP pertama dilakukan pada waktu antara 17 Februari hingga Maret 2016. Sementara di TKP kedua pada Juli 2016.

Modus yang dilancarkan artis lokal Bulgaria itu dengan memasang kamera tersembunyi di canopy tombol PIN. Aksi terdakwa terbongkar saat dilakukan pemeriksaan oleh pihak vendor pengelola keamanan ATM.

Pada Selasa, 12 Juli lalu, dua petugas dari vendor ATM, yakni PT. Swadharma Sarana Informatika (SSI) Mataram hendak memperbaiki mesin ATM Bank Mandiri Gili Air. Pada saat pemeriksaan, ditemukan kejanggalan pada mesin ATM tipe Procas 280 itu.

“Saksi dari vendor melihat pinpad canopy di ATM. Padahal di mesin keluaran tahun 2014 tidak menggunakan canopy,” kata Wahyudiono. Alat itu pun dicabut. Dari keterangan pihak hotel setempat yang tak jauh dari bilik ATM, alat serupa pernah ditemukan satu hari sebelumnya.

Pada hari itu petugas juga melakukan pemeriksaan berkala di ATM BNI yang berada tepat di sebelah ATM mandiri tersebut. Terdakwa terlihat mondar-mandir di sekitar TKP.

“Terdakwa kemudian berbincang dengan petugas. Intinya dia menawarkan petugas itu pekerjaan mudah dengan penghasilan banyak,” ujarnya. “Terdakwa menawarkan para petugas itu gaji Rp 26 juta per bulan,” imbuhnya.

Kelakuan terdakwa itu memancing rasa curiga. Mesin ATM pun diperiksa menyeluruh. Ternyata ditemukan barang bukti lain, diantaranya komputer mini berisi SD Card, Wifi, Port LAN, Port USB, Konektor Catu Daya, LAN-Hub, dan dua modul adaptor dan kabel di belakang mesin ATM.

Keterangan saksi Ahli Elektro dari Unram, kata Wahyudiono, dijelaskan bahwa alat-alat tersebut berfungsi untuk mengambil gambar, merekam dan menyimpan data.

“Bahwa alat-alat tersebut sebagai sarana untuk dapat digunakan sebagai rangkaian perbuatan guna memperoleh informasi elektronik,” kata Wahyudiono. Dari pengakuan terdakwa, alat itu diperoleh dari situs jual beli online Alibaba saat terdakwa berada di Filipina.

Sementara di ATM BNI SPBU Meninting, terdakwa berdalih sebagai penyewa bilik ATM yang kosong. Diduga untuk memuluskan aksinya melakukan hal serupa seperti di ATM Bank Mandiri, Gili Air. Terdakwa pun disebut menggunakan nama Lim Hong saat berbisnis dengan pemilik SPBU.

“Satu unit bilik disewa selama satu tahun sebesar Rp 15,5 juta. Dia juga membayar listrik, kebersihan, dan keamanan Rp 3 juta kepada pemilik SPBU,” terangnya. Fakta itu terungkap dari kuitansi di dalam tas yang ikut diamankan saat terdakwa ditangkap di Padangbai, Bali, Agustus lalu.

Dari cek lapangan, di ATM BNI itu ditemukan laptop, hardisk eksternal, kamera mini, dan modem.

“Bahwa pemasangan alat-alat elektronik pada salah satu ruang ATM kosong di SPBU Meninting tersebut adalah tanpa hak dari Bank BNI dan atas kejadian tersebut kepercayaan masyarakat terhadap sistem keamanan perbankan dan terhadap pihak bank menjadi berkurang,” jelas Wahyudiono.

Atas rangkaian perbuatan itu, Yulee didakwa pasal 30 ayat (2) juncto Pasal 46 ayat (2) dan pasal 31 ayat (1) juncto pasal 47  UU Nomor 11 Tahun 2008 juncto pasal 64 KUHP juncto pasal 53 ayat (1) KUHP.

Ketua majelis hakim kemudian menunda sidang hingga Senin, pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. Penasehat Hukum terdakwa, Ni Luh Putu Sukreni dan Yan Mangandar Putra memilih tidak mengajukan eksepsi.

Mereka mengatakan, terdakwa Yulee disebut tidak ada sangkut paut dengan alat skimming yang ada di ATM BNI SPBU Meninting. Namun diakui bahwa terdakwa memang pernah memasang alat di ATM.

“Pasang kamera itu tujuannya cuma ingin tahu cara kerjanya saja. Dia tahu alat ini waktu traveling di Filipina,” kata Sukreni ditemui usai persidangan.

Ia pun menampik jika kliennya itu anggota dari jejaring pelaku skimming lintas daerah. “Dia ini bukan jaringan. Dia kerja sendiri. Dia pasang alat itu tapi tidak sempat bekerja. Belum ada data yang diambil,” pungkasnya. (szr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here