Terpidana Penipuan Rp18 Miliar jadi Tersangka TPPU

Lahan di Pantai Pandanan, Sekotong, Lombok Barat yang diperjualbelikan tersangka TPPU H Zaenudin yang ternyata milik orang lain. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Terpidana penipuan Rp18 miliar, H. Zaenudin bakal mendekam lebih lama dipenjara. Mafia tanah ini ditetapkan menjadi tersangka tindak pidana pencucian uang. uang hasil penipuan tersebut diduga digunakan membeli aset bergerak dan tidak bergerak.

Kasubdit II Perbankan Ditreskrimsus Polda NTB AKBP I Komang Satra menerangkan, H Zaenudin disangka melanggar pasal 3 juncto pasal 4 UU RI No8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Iklan

“Yang bersangkutan sudah ditahan. Kan sedang menjalani pidana,” ujarnya dikonfirmasi akhir pekan lalu.

Zaenudin diduga menyamarkan hasil kejahatan penipuannya dengan membeli sejumlah aset. Antara lain, menjadi 69 sporadik untuk lahan seluas 40 hektare di kawasan Buwun Mas, Sekotong, Lombok Barat, pembelian mobil, dan sepeda motor.

“Nilai asetnya sedang dihitung. Penelusuran ini yang membutuhkan waktu. Kita sudah gandeng PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan),” kata Satra.

Kasus itu mulai ditangani setelah pidana penipuan Rp18 miliar dengan terpidana H. Zaenudin dinyatakan inkrah.

Pengadilan Negeri Mataram pada 29 Maret 2019 lalu menghukumnya dengan pidana penjara 3,5 tahun. Di tingkat banding turun menjadi 2,5 tahun penjara. Di tingkat kasasi, Juli 2019, hukuman Mamiq Zen ini diperberat lagi menjadi 3 tahun penjara.

Modusnya, Zaenudin menawarkan lahan kepada investor, Andre Setiadi Karyadi. Andre kena iming-iming Zaenudin yang menawarkan tiga titik lahan. Yakni di Pandanan dan Meang, Sekotong, Lombok Barat; serta di kawasan Pantai Surga, Jerowaru, Lombok Timur. Total luasnya 8 hektare.

Zaenudin pada tahun 2011 sukses meyakinkan Andre untuk membeli tiga bidang tanah di lokasi-lokasi tersebut seharga Rp18 miliar. Meskipun, Zaenudin cuma bermodalkan sporadik. Sementara di lahan-lahan itu tanah masih atas nama orang selain Zaenudin.

Korban tidak bisa memproses balik nama. Namun Zaenudin tetap menyakinkan korban dengan jaminan 11 sertifikat tanah lain. Jaminan itu sebagai pegangan korban selama proses balik nama tanah yang diperjualbelikan tersebut.

Namun ternyata, setelah uang ditransfer, sporadik tidak kunjung bisa dibalik nama. Apalagi disertifikatan. Rupanya, lahan di Pandanan itu milik PT Graha Wita Santika. (why)