Ternak Mati di Seloto Dipastikan Karena Sakit

Ilustrasi ternak sapi. (Suara NTB/dok)

Taliwang (Suara NTB)– Dinas Pertanian (Distan) Sumbawa Barat, memastikan ternak yang mati di desa Seloto bukan karena pencemaran limbah melainkan karena sakit Septicaemia Epizootika (SE) atau biasanya dikatakan penyakit ngorok. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil uji laboratorium di Bali terhadap 10 sampel hati, ginjal dan jeroan ternak yang mati.

“Hasilnya laboratorium sudah kita terima dan ternak tersebut positif sakit SE bukan karena pencemaran limbah, kami juga berencana untuk turun ke Seloto untuk menjelaskan hasil uji sampel tersebut,” ungkap Kadistan Suhadi, SP., M. Si kepada Suara NTB, Jumat, 19 November 2021. Hasil tersebut juga diperkuat dengan temuan di lapangan bahwa kasus kematian ternak juga tidak terjadi di Seloto saja melainkan di Tapir, Seteluk, dan Brang Ene juga ada kejadian.

Iklan

Dirinya berharap dengan adanya hasil uji laboratorium tersebut, tidak lagi muncul spekulasi negatif di tengah-tengah masyarakat. Karena jujur saja akibat isu yang beredar terkait pencemaran tersebut masyarakat merasa was-was ketika ingin memberikan rumput asal Jorok Liang ke ternak mereka. Untuk itu, dalam waktu dekat Distan berencana untuk turun ke Seloto guna memberikan  pemahaman terhadap kondisi riil yang dialami ternak mati tersebut. Harapannya tidak ada lagi isu liar yang berkembang di masyarakat. “Kami tetap akan turun memberikan informasi lanjutan ke masyarakat terkait hasil uji laboratorium itu,” sebutnya.

Karena harus diakui memang keberadaan lokasi pemurnian emas di desa Seloto kerap ditolak oleh masyarakat. Sehingga isu yang berkembang saat ini di masyarakat seolah-olah lokasi pemurnian emas menjadi penyebab hewan ternak mati. Padahal faktor tersebut belum bisa disimpulkan karena harus dilakukan pengujian oleh lembaga khusus. Karena saat ini sudah ada hasil uji laboratoriumnya, maka masyarakat juga diharapkan untuk tidak terprovokasi isu yang menyesatkan terkait pencemaran tersebut. “Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi isu negatif atas kematian ternak tersebut karena hasil laboratoriumnya negatif mati karena limbah tercemar,” tukasnya. (ils)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional