Terlalu Lama Tidak Masuk Sekolah, Anak Terancam Kehilangan Memori Emas

Muazar Habibi (Suara NTB/dys)

Mataram (Suara NTB) – Hampir 7 bulan siswa siswi di Kota Mataram tidak masuk sekolah. Termasuk juga peserta didik di TK PAUD. Tentu saja ini berdampak buruk pada perkembangan psikologis anak.

Psikolog Universitas Mataram, Dr. Muazar Habibi, menyebut banyak dampak signifikan pada psikologis anak jika sekolah terlalu lama tidak dibuka. Tidak hanya itu, ada dampak turunan seperti terjadinya tindak kekerasan pada anak.

Iklan

Berdasarkan hasil penelitian diungkapkan Muazar, ialah terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang jauh meningkat mencapai 98 persen di masa pandemi pada periode pertama di tiga bulan pertama. Bahkan kata Muazar, naiknya mencapai 88 persen termasuk KDRT pada anak-anak.

Banyaknya kasus kekerasan pada anak sebagai akibat ketidaksiapan orang tua menghadapi tantangan di tengah pandemi. Ketidaksiapan orang tua menyebabkan anak jadi korban. Padahal bagaimana kesiapan orang tua ini, sejatinya akan mampu nantinya mengeliminasi kasus-kasus yang pernah terjadi selama ini.

Khusus untuk jenjang PAUD, Muazar menyebut masa PAUD setiap anak memiliki apa yang disebut sebagai masa masa golden years atau masa emas pertumbuhan anak.  Anak usia 2-6 tahun sangat berkembang pada aspek kognitif anak.  “Maka dibutuhkan stimulus pada anak,” jelasnya, Kamis, 15 Oktober 2020.

Hanya saja dampak dari tidak adanya pertemuan tatap muka dengan sesamanya menyebabkan tidak terbangunnya stimulus pada anak.

“Anak anak butuh bertemu dengan kawannya, bayangkan tiga enam bulan anak PAUD tanpa bertemu gurunya tidak berinteraksi dengan temannya,” ungkapnya.

Dampaknya ialah anak akan kehilangan banyak momen emas yang dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan anak. Di masa emas tersebut, anak butuh banyak interaksi dengan yang lain, termasuk guru dan temannya. “Maka dia akan kehilangan. Maka harus segera diusahakan agar masuk, karena jika tidak akan kehilangan 1/4 memori kehidupannya,” ujarnya.

Dia pun menyinggung orang tua yang dipaksa mendadak jadi seorang guru, yakni orang tua harus berhadapan dengan laptop dan gadget untuk mengajari anak-anaknya.  “Bagaimana orang tua bukan guru lalu berhadapan dengan laptop. Lalu orang tua jadi stres, maka korbannya adalah anak. Apalagi jika anaknya lebih dari satu,” bebernya.

Dosen FKIP Unram ini juga menambahkan ada banyak perbedaan dan perubahan yang dialami para siswa akibat terlalu tidak masuk sekolah. Di antaranya ialah anak-anak jadi sangat manja. Dia mencontohkan, seorang lulusan SD yang akan masuk SMP sangat manja dan ingin pulang terus dan tidak betah di sekolah.

“Anak anak SD yang mau masuk SMP manjanya luar biasa pengen pulang terus. Seolah-olah sekolah itu sebagai neraka, karena sudah terbiasa dengan gadget. Maka orang tua harus punya tips aman kembali ke sekolah. Agar orang tua tidak mengalami tergagap. Ketika Covid-19 kemarin orang tua gagap harus belajar lewat hp. Agar nanti ketika anak kembali ke sekolah maka harus dipersiapkan,” pesannya. (dys)