Terkesan Tak Diurus, Bangunan Agrowisata Tak Kunjung Dioperasikan

Proyek agrowisata gula aren di Kekait Gunungsari ini mubazir, karena tak kunjung dimanfaatkan. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Sejumlah proyek mangkrak bernilai miliaran rupiah di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) hingga saat ini dibiarkan tak kunjung dioperasikan. Kondisi bangunan terkesan tak diurus, sehingga terbengkalai begitu saja. Warga mendesak agar pemerintah ada jalan keluar untuk mengoperasikan bangunan tersebut.

Seperti bangunan agrowisata terletak di Dusun Kekait Daye Desa Kekait Kecamatan Gunungsari yang dibangun dengan nilai Rp 1,4 miliar mangkrak semenjak dibangun 2018 lalu. Ada juga proyek pasar seni dan kuliner di areal Pura Lingsar senilai Rp 3,1 miliar lebih.

Iklan

Pantuan media di lokasi bangunan agrowisata gula aren di Kekait, bangunan yang terbengkalai selama tiga tahun ini dibangun di lokasi kurang strategis, karena berada di bawah tebing pinggir sungai besar yang membentang menuju Pusuk.

Jalan yang menghubungkan antara Lobar dengan Kabupaten Lombok Utara (KLU). Untuk masuk ke lokasi ini cukup sulit. Dari pintu masuk menuju agrowisata, terdapat jalan setapak dengan kondisi memprihatinkan. Masih jalan tanah dan berlubang. Sama halnya dengan kondisi bangunan pasar seni, art shop dan kuliner di areal pura Lingsar. Kondisinya terbengkalai, tak terurus. Selain itu, bangunan UPT Gula Aren di Wadon Kekait dan Langko yang belum  dioperasikan maksimal.

Ketua LSM Kasta NTB DPD Lobar Zulfan mempertanyakan kelanjutan pengorganisasian dari sejumlah proyek yang belum dimanfaatkan semenjak selesai dibangun. Salah satu faktor utama yang diketahuinya, bahwa bangunan itu belum diserahterimakan ke Pemda atau Pemdes. ‘’Dulu bangunan itu kalau tidak salah diusulkan oleh kelompok petani gula aren “Bukit Tuan”. Pengurus kelompok ini yang susul proposal ke Kementerian Perdagangan,’’ tambahnya.

Untuk saat ini kadang-kadang bangunan agrowisata itu hanya difungsikan untuk tempat menampung mahasiswa yang mengadakan penelitian. “Padahal kalau dimanfaatkan menjadi tempat wisata itu sangat bagus, apalagi pemilik lahan di pintu masuknya itu sudah mulai membenahi lahannya dan sudah menyediakan tempat parkir yang luas,”jelas dia belum lama ini.

Sementara itu, Sekretaris Disperindag Lobar L. Agha Parabi tak menampik kondisi sejumlah bangunan yang belum dimanfaatkan tersebut.  Pihaknya sudah berkoordinasi dengan BUMDes dan desa sebagai penerima. “Kita minta segera ditindaklanjuti bahkan setelah itu segera dilakukan rapat dengan BUMDes untuk pemanfaatannya. Tapi sampai sekarang kami menunggu dari desa, belum ada kejelasannya,”aku dia. Pihaknya pun sudah melakukan serah terima bangunan itu dan dilengkapi peralatan.

Camat Lingsar Marzuki mengaku kondisi pasar seni di lapangan banteng sekitar Pura Lingsar memang masih belum dimanfaatkan. Namun pihak desa sudah bersurat ke Pemda untuk bisa dimanfaatkan. Lokasi itu pun masih dilakukan penataan oleh pihak desa. “Desa sudah bersurat untuk pemanfaatannya,”ujarnya. (her)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional