Terkendala Standarisasi, Banyak Produk UMKM Belum Diakomodir Retail Modern

Mataram (suarantb.com) – Sedikitnya jumlah produk-produk yang dihasilkan UMKM di NTB yang diakomodir oleh retail modern yang bertebaran di NTB diakui pelaku UMKM, H. Nasrin H Muhtar terkendala oleh standarisasi. Standarisasi yang dipatok retail modern memang menjadi penentu masuk tidaknya produk tersebut dalam list barang yang dipasarkan.

“Memang banyak teman-teman yang mengeluh belum bisa diterima pasar modern, karena pasar modern punya standar. Nah standar itu yg belum bisa dimasuki teman-teman UMKM,” ujarnya saat dikonfirmasi suarantb.com, Selasa, 14 Maret 2017.

Iklan

Diakui Nasrin baru beberapa produk UMKM yang berhasil menembus standarisasi tersebut. Salah satunya produk kue olahan berbahan dasar kacang-kacangan, Nutsafir. Karena produk tersebut memang telah menargetkan retail modern sebagai salah satu pangsa pasarnya.

Melihat fakta ini, pria yang terkenal dengan sebutan Dokter Jamu ini menyampaikan seharusnya retail modern dengan ‘good will’ langsung mengakomodir produk UMKM. “Sebenarnya yang seharusnya menyesuaikan, yang membantu itu retail modern itu,” ucapnya.

Dengan perannya sebagai investor di daerah dan mendapatkan penghasilan dari masyarakat NTB, sudah seharusnya retail modern berlaku demikian. Tidak dengan jalan menurunkan standar, melainkan memberi perlakuan istimewa terhadap produk-produk UMKM di daerah.

“Seharusnya ada upaya supaya dalam satu toko retail modern itu paling tidak 10 persen atau kalau bisa sampai 30 persen itu produk hasil UMKM kita. Harus ada perlakuan khusus untuk UMKM di sini supaya UMKM ini ada masuk di sana,” ungkapnya.

Menurut pengusaha obat herbal ini, jika jumlah pelaku UMKM di NTB mencapai 100 ribu orang. Sementara yang masuk retail modern hanya produk dari dua orang, yang telah diakomodir baru 0,002 persen. Jika jumlahnya ada seribu UMKM, Nasrin menyebut setidaknya produk dari seratus orang tersebut bisa masuk retail modern.

“Kalau perlu mereka panggil semua pelaku UMKM ini, terus jelaskan kalau mau masuk itu syaratnya ini-ini. Kalau ada kesulitan kita diskusi. Kalau pun ada kurangnya sedikit, mungkin bisa terima begitu,” ucapnya.

Ditambahkannya pula, seharusnya pemerintah terus mendorong agar retail modern untuk melakukan ini. Setidaknya produk-produk unggulan daerah, seperti produk olahan dari sapi, jagung dan rumput laut (Pijar) harus masuk.

Bahkan jika perlu, ia mencontohkan langkah yang bisa diambil oleh retail modern adalah mengumpulkan semua produk UMKM dan memilih sekitar 20 produk untuk diakomodirnya. “Paling tidak di satu retail modern itu ada 20 lah produk UMKM yang dia akomodir,” tambahnya.

Salah satu retail modern di NTB, PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau Alfamart yang mengaku telah mengakomodir sejumlah produk UMKM memang menetapkan kriteria-kriteria khusus. Seperti memenuhi syarat Disperindag, izin PIRT, BPOM, sertifikasi halal, label kadaluarsa, dan kuat pasarannya di NTB.

Merchandising Alfamart Branch Lombok, Dery S Alami, mengakui pihaknya memang menetapkan persyaratan dan selektif dalam memilih produk yang akan diakomodir Alfamart. Ini dilakukan untuk menghindari kerugian yang dialami pihak pemasok produk.

“Takutnya nanti return (dikembalikan ke pemasok). Jadi kita harus selektif juga, karena kasihan kalau dibalikin, modal mereka kan juga besar,” ungkapnya. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here