Terkendala Modal, Petani Kopi Serahkan Pesanan ke Pemda

0
Sejumlah pekerja sedang membersihkan kopi yang baru dipanen. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Kopi NTB sudah dipesan dalam jumlah yang cukup fantastis 1.450 ton oleh buyer dari lima negara pada ajang pameran kopi terbesar di dunia, Coffex Istanbul Istanbul Turki, 15-18 September 2021.

Melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI di Istanbul, Indonesia mengirim tiga perwakilan, kopi NTB, kopi Jawa, dan kopi Sumatera pada pameran kopi yang diikuti oleh 20 negara ini. Berbeda dengan perwakilan lainnya yang hanya membawa kopi kemasan, NTB membawa rombongan dari petani dan eksportir kopinya langsung, juga contoh-contoh biji kopi (green bean) hingga kopi olahannya. Permintaan yang masuk pun di luar dugaan.

IKLAN

Lalu Thoriq, petani sekaligus eksportir kopi yang diikutkan dalam ajang ini menyatakan tidak menyangka besarnya permintaan yang masuk. Dari buyer Mesir 30 kontainer diminta atau setara dengan 600 ton. dari Arab Saudi dan Aljazair juga sebanyak 10 dan 20 kontainer (30 kontainer = 600 ton). Kemudian dari Libya dan Turki meminta 12 kontainer atau setara dengan 250 ton.

Permintaan tersebut sudah disanggupi, menurut pemilik UD. Berkah Alam Coffee ini, masih memungkinkan jika melihat potensi produksi kopi NTB yang mencapai hampir 6.000 ton setahun. Lalu Thoriq mengatakan, begitu permintaan tersebut masuk, ia langsung berkoordinasi dengan kelompok-kelompok tani kopi yang ada di Pulau Lombok, di Sumbawa, dan di Bima Dompu.

“Saya saja punya lahan binaan 1.500  hektare di Lombok Utara dengan 700 petani, potensi produksinya yang sudah kita data baru 600 ton. Belum lagi yang lain-lain, masih memungkinkan kita penuhi,” katanya.

Tahun 2022 mendatang permintaan dari lima negara itu harus dipenuhi, karena itu, harus sudah disiapkan sejak sekarang. Thoriq menambahkan, permintaan tersebut sudah tidak lagi atas nama pribadi, atau perusahaannya, melainkan atas nama Indonesia, khususnya NTB.

Melihat besarannya, total nilai permintaan kopi NTB ini mencapai hampir Rp50 miliar. tentu modal yang tidak kecil bagi petani. Karena itu, diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan tersebut.

“Nanti pemerintah daerah yang atur, apakah melibatkan perusahaan daerah, karena membutuhkan modal yang tidak sedikit. Tugasnya pemerintah nanti, siapa kita mau harapkan,” imbuhnya.

Dari sisi produksi tak dikhawatirkan. Namun untuk membeli ke petani harus menggunakan dana segar langsung. Sehingga pemerintah daerahlah yang sangat diharapkan untuk memfasilitasinya. Bisa saja pemerintah daerah membuat korporasi khusus untuk memenuhi permintaan ini. Thoriq mengatakan, ini menjadi peluang bagi daerah untuk menambah pendapatannya.

“Kalau tidak kita penuhi, bisa malu karena sudah disanggupi. Dan ini sudah menjadi isu nasional, membawa nama Indonesia. disana ada pak Konjen dan atase yang melihat sendiri bagaimana antusiasnya buyer-buyer yang memesan,’’ katanya. Karena itu, Thoriq berharap secepatnya juga ada koordinasi di tingkat daerah, mempersiapkan pemenuhan permintaan tersebut.(bul)