Terjerat Kasus ITE, Begini Nasib Suami dan Tiga Anak Baiq Nuril Maknun

Mataram (suarantb.com) – Setelah dua tahun tanpa kejelasan tak disangka Nuril tiba-tiba dipanggil dan ditahan. Ia mengira kasus itu sudah selesai. Kasus ITE yang menjerat Baiq Nuril Maknun memaksa dirinya meninggalkan suami dan anaknya.
Ia terpaksa harus merasakan dinginnya ruang tahanan. Sudah lebih sebulan ia berpisah dengan anak dan suaminya. Kini suami dan anaknya tinggal berempat di rumah.

Setelah Nuril ditahan, Isnain mengurus tiga anaknya sendiri. Anaknya yang sulung  duduk di bangku kelas VIII SMP. Sedangkan anak kedua duduk di bangku SD kelas V  dan anak bungsu masih usia 5 tahun.

Iklan

Saat dilakukan penahanan, anak bungsunya ikut bersama Nuril. Sementara Isnaini harus mengejar waktu dari Gili Trawangam ke Polres Mataram. Anak bungsu yang belum mengerti apa-apa itu melihat secara langsung ibunya ditahan.
“Ibu sekolah dulu nggih. Ibu nginep. Nanti pulang sama mamiq,” tutur  Isnaini menirukan kata istrinya kepada suarantb.com Sabtu, 6 Mei 2017.

Isnaini terpaksa berhenti bekerja. Ia mengganti peran Nuril mengurus 3 orang anaknya. Selama 2 bulan terakhir, Isnaini mengaku tidak bisa bekerja. Ia memutuskan berhenti bekerja demi mengurus anaknya. Baginya sangat sulit mencari pekerjaan baru.

Apalagi ia sudah terbiasa bekerja di Gili Trawangan yang sangat jauh dari rumahnya di Labuapi. Tidak mungkin ia meninggalkan anaknya. Apalagi anak bungsunya masih berumur 5 tahun.

“Kalau kerja lagi di sana, nginep, anak-anak tidak ada yang nganter sekolah,” ujarnya.
Ia pernah mencoba bekerja dan menitip anak bungsunya ke kakek-neneknya. Namun, baru dua hari bekerja ia harus berhenti. Anak bungsunya itu tidak betah tinggal bersama kakek dan neneknya. Sampai saat ini, Isnaini mengaku tidak bekerja. Ia merasa sangat sulit memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Selain itu, ia menceritakan  saat awal-awal penahanan istrinya, kondisi  psikis anaknya terguncang. Anaknya sering menangis karena mengetahui ibunya tak kunjung pulang.  Sebagai seorang ayah, Isnaini berusaha memberikan pemahaman kepada kedua anaknya yang sudah besar. Ia mengatakan bahwa ibu mereka  sebenarnya tidak bersalah. Sembari meminta anaknya untuk mendoakan supaya ibunya dibebaskan. Anak bungsu yang belum mengerti apa-apa itu  dihibur setiap hari. Ia mengaku terbiasa mengurus anak-anaknya.

Selama ini, Isnaini mendapat banyak dorongan dari keluarga agar kuat menjalani kenyataan itu. Keluarga selalu menasihatinya bahwa semua yang dialami adalah ujian dari Allah. Ia juga didukung oleh tetangga-tetangganya. Bahkan mereka membantu mencari pengacara untuk Nuril. Namun lagi-lagi karena tidak ada uang, Isnaini merasa sungkan dengan tetangga.

Sementara itu, akibat kasus yang menjeratnya, Nuril harus rela kehilangan pekerjaannya sejak 2015. Ia diberhentikan kepala sekolah tanpa alasan yang jelas. Setelah diberhentikan, Nuril tidak pernah bekerja lagi. Bahkan Isnaini mengaku mental istrinya jatuh karena bolak-balik memenuhi panggilan kepolisian selama pemeriksaan. Trauma membuat Nuril takut bekerja lagi. “Mental istri untuk kerja lagi itu merasa agak trauma,” jelasnya.

Isnaini mengaku pernah mengupayakan damai dengan kepala sekolah itu. Namun, sang kepala sekolah enggan untuk mencabut laporannya. Selama upaya damai itu, kepala sekolah selalu mengatakan sudah memaafkan Nuril tetapi dengan catatan proses hukum tetap berjalan. Ia juga pernah diminta untuk mengembalikan nama baik pihak kepala sekolah. Namun, Isnaini tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut.

Sementara itu  pelapor, H. Muslim, S. Pd., M. Ed tidak merespon permintaan klarifikasi yang diajukan suarantb.com. Baik melalui pesan singkat  maupun  telepon. (bur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here