Terinspirasi Corona, Guru Honorer Bikin Pembersih Tangan Otomatis

I Gusti Bagus Dian Sanjaya bersama Wakasek dan guru SMP 1 Labuapi memperlihatkan alat pembersih tangan otomatis buatannya. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Tenaga honor di SMP 1 Labuapi Lombok Barat I Gusti Bagus Dian Sanjaya (28) berhasil menciptakan alat Hand Sanitizer Micro Controller atau alat pembersih tangan otomatis. Pria asal Gerung yang mulai tertarik terhadap dunia IT sejak kuliah ini membuat alat pembersih tangan otomatis ini terinspirasi dari Pandemi Corona yang tengah melanda hampir semua negara.

Ia melihat masyarakat yang menggunakan Pembersih tangan secara manual (menyentuh) sehingga rawan menularkan Corona. Ditemui di SMP 1 Labuapi tempatnya bertugas, Senin, 13 Juli 2020, Gusti sapaan akrab guru Matematika ini menuturkan awal mula menciptakan alat ini pada bulan Maret, kemudian alat itu baru selesai dirakit bulan April.

Iklan

“Saya tergerak menciptakan alat ini saat pandemi covid-19 untuk memudahkan penggunaan pembersih tangan, tidak Perlu disentuh (tekan) tapi bisa secara otomatis menggunakan sensor,” terang dia.

Pria lulusan IKIP Mataram ini mengaku, untuk merakit alat sensor pembersih tangan otomatis ini butuh ketelitian. Beberapa perangkat yang diperlukan seperti alat sensor, kabel OTG, USB, mainboard, power bank dan ciprok.

Perakitan alat modifikasi ini jelas dia butuh proses karena instalasi perlu diprogram untuk memadukan agar perangkat bisa berjalan. Awal merakit alat ini sekitar bulan Maret lalu, ia menyiapkan semua perangkat yang diperlukan.

Beberapa alat yang dipesan secara daring seperti main board dan komponen hardware lainnya. Perangkat yang dipesan pun butuh waktu karena menunggu pengiriman dari luar daerah.

“Semua kompnen yang dipasang, saya pesan dari online,” jelas dia.

Setelah semua perangkat siap, ia pun mulai merakit. Perakitan butuh waktu hanya satu sampai dua hari. Namun butuh proses uji simulasi di program komputer, apakah rangkaian alat tersebut bisa berjalan.

Kalau uji simulasi menggunakan software tidak berjalan, maka disitu pasti ada masalah pada program sehingga perlu dilakukan perbaikan lagi. Kalau ujinya berjalan, maka perangkatnya bisa dirangkai.

Untuk sumber energi menghidupkan alat ini bisa menggunakan baterai, power bank dan listrik. Kalau menggunakan listrik, bisa dipasang alat penghubung menggunakan cas ponsel. Tegangan alat portabel buatannya bisa 50 volt atau lebih. Ia mengaku, untuk merakit alat ini tidak butuh dana besar, hanya Rp120 ribu.

Pembuatan alat ini juga diharapkannya bisa diterapkan oleh masyarakat. Untuk membantu masyarakat dalam pembuatan alat ini, ia sudah membuat video tutorial di media sosial sehingga bisa dilihat oleh masyarakat.

“Saya sudah berbagi pembuatan alat ini secara gratis melalu media sosial agar masyarakat bisa membuat sendiri,” ujarnya.

Dengan alat buatannya ini, masyarakat bisa dengan mudah mengambil cairan pembersih tangan tanpa menyentuh menggunakan tangan. “Karena kalau ditekan (sentuh Red) otomatis bisa tertuar ke yang lain, kalau alat ini cukup menjulurkan tangan dibawah sensor, cairan bisa keluar sendiri,” imbuh dia.

Ia mengaku mulai menggeluti dunia IT, sejak 2011 ketika duduk di bangku kuliah. Awalnya ia mengenal program perancangan software, lalu ia mempelajari tentang analisis data barulah yang ketiga ia menekuni penanganan eletronik 2014. Ia belajar bersama komunitas info teknik.

Saat itu ia belum bisa merancang alat elektronik, sehingga tahun 2017 ia sudah bisa membuat running teks yang pertama. Lalu ia pun terus memperdalam pengetahuannya, sehingga ia pun mampu mengembangkan software sehingga mampu membuat karya keduanya alat pembersih tangan otomatis.

Selain itu ia berhasil menciptakan aplikasi e-raport, aplikasi ini pun menjadi hak patennya. E raport ciptaannya pun sudah banyak beli oleh sekolan lainnya.

Wakil Kepsek SMP 1 Labuapi, Lilik Fadlilah mengatakan Agus adalah tenaga honor yang awalnya menjadi guru Matematika, namun ia diperbantukan sebagai tenaga IT.

“Alhamdulillah pak Agus ini orangnya ulet dan tekun, belau bisa menciptakan alat pembersih tangan otomatis,” jelas dia. Pihak sekolah hanya memberikan dana Rp200 ribu kepada Agus untuk membuat alat ini. Alat ini pun bisa diselesaikan April lalu dengan kondisi sederhana, namun sangat bermanfaat. (Her)