Terindikasi Penggelembungan Suara, Tiga Kotak Suara di Lobar Dihitung Ulang

Kotak suara dibuka saat rekapitulasi KPU Provinsi NTB. (Suara NTB/ndi)

Mataram (Suara NTB) – Memasuki pembacaan hasil rekapitulasi suara untuk Kabupaten Lombok Barat pada proses rekapitulasi suara KPU Provinsi NTB, Kamis, 9 Mei 2019 kemarin berlangsung cukup alot. Karena sejumlah saksi parpol yang hadir menyerukan kepada KPU agar melakukan perhitungan ulang untuk tiga kotak suara di Kecamatan Sekotong.

Permintaan dari para saksi parpol untuk membuka kembali tiga kotak surat suara tersebut lantaran terindikasi kuat telah terjadi penggelembungan suara. Sebab dari hasil perhitungan internal sejumlah partai yang berbasiskan data C1 ditemukan ada selisih perolehan hasil dengan data DA1 hasil rekapitulasi kecamatan.

Iklan

Pihak Bawaslu kemudian merekomendasikan kepada KPU untuk membuka ketiga kotak suara tersebut.

“Pertama  memang ada keberatan dari saksi terkait adanya perubahan suara antara data C1 dan data rekapitulasi kecamatan. Kemudian kami dari  Bawaslu mengeluarkan rekomendasi untuk membuka kotak suara tersebut,” ujar komisioner Bawaslu NTB, Itratif.

Tiga kotak suara yang diduga terindikasi telah terjadi kecurangan yakni di TPS 15, 18 dan 27 Desa Pelangan Kecamatan Sekotong. Indikasi kecurangan pada tiga TPS tersebut juga telah menjadi catatan dalam form DB2 yakni berisi tentang rekomendasi permasalahan di tiga TPS tersebut.

“Itu juga tercatat dalam DB2. Sehingga kita rekomendasi agar dilakukan rekapitulasi ulang berdasarkan data C1 Plano,” tegas Itratif.

Atas rekomendasi dari Bawaslu tersebut, KPU kemudian menunda untuk menetapkan hasil perolehan suara dari Lombok Barat tersebut, karena KPU memerintahkan kepada KPU Lobar untuk membuka kotak suara di tiga TPS tersebut. “Karena rekomendasi itulah tadi makanya pleno untuk Lobar di pending, meskipun tinggal satu kecamatan saja,” jelas Itratif.

Selain itu, para saksi juga meminta kepada KPU Provinsi untuk memberikan sanksi kepada jajarannya di Lombok Barat yang telah melakukan kecurangan. Sebab, sebelumnya dua kotak suara yang sudah dibuka telah terbukti terjadi penggelembungan suara yang cukup seginifikan.

Sejumlah caleg dari dapil II Lobar-KLU juga nampak hadir untuk memantau proses rekapitulasi. Mereka adalah Umar Said, caleg petahana Golkar dan Nouvar F Farinduan caleg dari partai Gerindra.

Farin yang dikonfirmasi mengaku bahwa pada proses rekapitulasi di tingkat kecamatan di Sekotong pernah kehilangan suaranya. Namun karena dia terus mengawalnya, sehingga suara bisa diselamatkan.

“Ya suara saya sempat hilang, tetapi kemudian muncul kembali. Karena kita kawal betul berdasarkan data C1 yang kita punya,” katanya saat ditemui di arena rekapitulasi KPU Provinsi NTB.

Ketua KPU Provinsi NTB, Suhardi Soud juga menyampaikan bahwa dari 10 kabupaten/kota, dua daerah masih belum selesai yakni Loteng dan Mataram. Tujuh Daerah sudah ditetapkan dan hanya Lobar yang masih pending karena harus melakukan rekapitulasi ulang tiga kota suara. “Ya jadi kita rekapitulasi ulang sesuai catatan dalam DB2. Dan untuk rekapitulasi Loreng dan Mataram kita akan lanjutkan pada tanggal 11,” pungkasnya. (ndi)