Terhenti, Kapal Rute Badas-Surabaya dan Kapal Cepat Badas-Moyo

Tampak suasana Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa. (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Aktivitas penyeberangan kapal cepat rute Labuhan Badas- Pulau Moyo-Pulau Medang akhirnya terhenti di usia pelayaran yang belum genap satu tahun. Pasalnya kapal yang pelayaran perdananya diluncurkan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc pada 1 Mei 2019 lalu, tidak beroperasi lagi. Begitu pula dengan rute kapal penumpang Badas-Surabaya juga telah berhenti sejak Januari lalu.

Dengan hengkangnya kapal ini, maka apa yang menjadi harapan masyarakat menjadi pupus. Padahal operasional kapal ini diharapkan dapat mendukung mobilitas penyeberangan ke wilayah Pulau Moyo dan Pulau Medang. Sekaligus menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat setempat.

Iklan

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Badas melalui Bagian Status Hukum dan Sertifikasi Kapal, Anwar Musadat, yang dikonfirmasi Sabtu, 18 April 2020, membenarkan sudah berhentinya pelayaran kapal cepat dengan rute Badas-Pulau Moyo.

Berhentinya operasi kapal cepat ini, lantaran beberapa kendala. Pertama sejak peluncuran, ada kesulitan kapal di posisi sandar. Kemudian pelayaran kedua mengalami kerusakan, karena air surut membuat  kapal tidak mempunyai tempat sandar. Penumpang juga mulai sedikit dan subsidi mulai dicabut. Dengan beberapa pertimbangan yang ada, sehingga pelayaran tidak lagi berjalan.

‘’Selain dari subsidi yang mandeg dari provinsi, juga kerumitan ketika sandar ke sana. Kapal itu lepas bendera, artinya angkat tangan karena beberapa kali mengalami kerusakan. Mesin rusak ketika masuk di areal di Pulau Moyo. Sehingga diputuskan seperti itu, demi keselamatan dan pelayaran,’’ ungkapnya.

Sekarang ini, lanjutnya, kapal cepat tersebut sudah beroperasi di Poto Tano-Kayangan. Di Poto Tano sendiri juga sudah ada dermaga khusus disiapkan. Sedangkan di Kayangan sendiri juga nyandar di pelabuhan tradisional setempat.

Selain, kapal cepat rute Badas-Moyo, pelayaran KMP Swarna Bahtera Badas-Surabaya juga terhenti pada Januari 2020 lalu. Kendala utamanya juga karena subsidinya sudah habis tahun 2019. Mengenai kenapa tidak dilanjutkan subsidinya di tahun 2020, tentunya kewenangan dari pemberi subsidi yakni Dinas Perhubungan Provinsi NTB. ‘’Kaitan dengan subsidi, baik yang KMP Swarna Bahtera maupun yang ke Pulau Moyo,’’ ujarnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, saat ini sedang beroperasi tiga kapal perintis yang disubsidi penuh oleh Kementerian Perhubungan. Dihadirkan kapal perintis ini sebagai bentuk perhatian pemerintah untuk memperlancar akses antarpulau, termasuk Sumbawa.

‘’Yang disubsidi penuh kementerian, ada tiga kapal perintis. Menghubungkan antara Timur dan Barat, Utara ke Selatan. Dua kali masuk shift di Sumbawa, berarti enam kali. Itu aktif sampai sekarang. Tapi itulah masyarakat tidak tahu. Tarifnya murah sekali. Ke Makassar misalnya tarifnya dari sini hanya Rp45 ribu atau Rp50 ribu,’’ tandasnya. (arn/ind)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional