Tergiur Harga Murah, Pemesan PCR Palsu Terancam Penjara 6 Tahun

Tersangka pengguna surat hasil tes swab palsu saat digelandang polisi di Mapolres Loteng.  (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – ARO, warga Tangerang, Banten ini hanya bisa menyesal telah nekat menggunakan surat keterangan hasil tes swab palsu saat hendak pulang ke kampung halamannya. Hanya karena tergiur harga yang murah, wanita 25 tahun ini kini harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Ia ditangkap aparat Polres Loteng, pada Jumat, 23 Juli 2021 dan terancam hukuman penjara selama 6 tahun.

Menjadi salah satu dari tiga orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus surat keterangan hasil tes swab palsu, ARO mengaku tidak menyangka ulahnya bakal berakhir pilu. Harapannya untuk bisa pulang kampung dan bertemu keluarganya sementara ini pun pupus.

Iklan

Bermula dari pertemuannya dengan PEH (37) teman sesama pegiat wisata di kawasan Senggigi yang kini juga sudah ditetapkan sebagi tersangka dalam kasus yang sama, ARO mengaku ditawari bisa memperoleh surat keterangan hasil tes swab secara mudah, praktis serta murah.

Tidak hanya itu, ARO juga tidak perlu melakuan tes di laboratorium. Cukup dengan membayar Rp500 ribu, surat keterangan hasil tes swab PCR sudah bisa diperoleh. Harga tersebut memang sangat murah jika merujuk harga surat keterangan hasil tes swab PCR resmi yang berkisar antara Rp 1 juta sampai Rp 1,3 juta.

ARO sendiri semakin tertarik, setelah mengetahui sudah ada empat orang lainnya yang sukses menggunakan surat palsu tersebut untuk bisa terbang ke daerah-daerah yang saat ini tengah menerapkan PPKM level 4. “Saya hanya ditawari dan karena murah, saya mau saja,” ujar ARO, Senin, 26 Juli 2021.

Ia mengaku butuh surat tersebut karena ingin pulang ke rumah orang tuanya di Tangerang Banten. Lantaran sudah cukup lama tidak pulang. Namun apa daya, ia pun kini hanya bisa menyesali perbuatannya dan menyampaikan permohonan maaf serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya tersebut. “Sekali lagi mohon maaf,” ucapnya lirih.

Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP I Putu Agus Indra Permana, SIK., mengatakan tersangka ARO sendiri dijerat dengan pasal 263 ayat 2 sub pasal 263 ayat 2 KUHP, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. Ancaman hukuman tersebut sama dengan tersangka lainnya yakni PEH dan MF (44) namun dengan pasal yang berbeda. Masing-masing pasal 263 ayat 1 Jo 55 jo 56 KUHP dan pasal 263 ayat 1 sub Pasal 263 ayat 1 KUHP.  “Kita sudah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus ini. Dan, kini masih memburu terduga pelaku lainnya,” jelasnya.

Kepada masyarakat, Agus berpesan jangan sekali-kali mengulangi apa yang dilakukan oleh para tersangka. Jika tidak mau berurusan dengan aparat penegak hukum. “Masyarakat harus waspada, jangan melakukan hal serupa, kalau tidak mau berurusan dengan aparat kepolisian,” terangnya seraya menegaskan pihaknya bakal menindak tegas siapapun yang melakukan tindakan melanggar hukum. (kir)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional