Terduga Pencuri Laptop Kepala BPK Diciduk

Tersangka pencurian laptop dan jam tangan Kepala BPK NTB, Fahmi (kanan) dalam pengawalan penyidik Polsek Mataram, Selasa, 3 Maret 2020. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terduga pelaku pencurian, Fahmi (32) kalap. Aksinya di Monjok Timur, Selaparang, Mataram ketahuan penghuni rumah. Takut kepergok, residivis kasus curanmor ini menyuapi korbannya dengan pisau. Dia memang berhasil kabur namun akhirnya bisa ditangkap Polsek Mataram. “Korban sempat berteriak maling. Dia lalu cepat-cepat pakai senjata tajamnya. Dia bisa kabur,” kata Kapolsek Mataram AKP Rafles Girsang, Selasa, 3 Maret 2020.

Korbannya, asisten rumah tangga mengalami luka di langit-langit mulutnya karena tersayat pisau yang dibawa Fahmi. Korban dirawat dengan delapan jahitan. Fahmi memang sudah berniat menyasar rumah tersebut. Sebelumnya masuk memanjat tembok pada Sabtu, 29 Februari 2020, dia sudah mondar-mandir memantau situasi. Malam harinya dia menginap di musala dekat sasaran. “Tiga hari dia menginap,” kata Rafles.

Iklan

Dia tahu rumah itu kalau pagi sepi ditinggal pemilik. Namun dia tak menyangka ada asisten rumah tangga yang menunggu rumah. Sukses melompati pagar, Fahmi langsung membongkar lemari. Yang dia temukan hanya duit Rp80 ribu. Sebelum beranjak ke kamar lain, Fahmi kepergok. Sehabis melukai korbannya, Fahmi kabur. Pelariannya walaupun berhasil namun tidak mulus. Fahmi terekam CCTV rumah. Modal rekaman CCTV dipakai Polsek Mataram.

Pelaku teridentifikasi sebagai Fahmi. Senin kemarin Fahmi ditangkap di rumahnya di Selagalas, Sayang-Sayang, Cakranegara, Mataram. Barang bukti pisau dan betel yang dipakai Fahmi beraksi ikut disita. Rafles mengatakan, Fahmi memang sudah jadi buruan.

Fahmi diduga mencuri jam tangan dan leptop Kepala BPK Perwakilan NTB. Jam tangan sudah dijualnya seharga Rp100 ribu. sementara leptop dijual Rp1,4 juta. penadahnya dua orang sudah ditangkap Polresta Mataram. “Dia ini residivis kasus Curanmor. Pemakai narkoba. Mantan pengedar juga. Pengakuannya dia mencuri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pungkas Rafles. (why)