Terduga Pelaku Pembunuhan Siswa SMP Segera Diadili

Praya (Suara NTB) – Penyidik Polres Lombok Tengah (Loteng) telah menuntaskan penyidikan terhadap kasus dugaan pembunuhan terhadap Uswatul Hasanah, siswa SMP asal Desa Mangkung. Berkas penyidikan dengan tersangka MRA (15) asal desa yang sama juga sudah dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Praya untuk segera disidang.

“Berkas penyidikan sudah lengkap dan sudah kita kirim ke Jaksa,” aku Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Arjuna Wijaya, SIK, kepada Suara NTB, Selasa, 27 September 2016.

Iklan

Selanjutnya, berkasnya akan diselidiki oleh jaksa untuk mengetahui apakah ada yang kurang dari berkas tersebut. Jika kemudian berkasnya sudah dinyatakan lengkap, maka tersangka sudah bisa dilimpahkan ke pengadilan untuk disidang. Pihak kepolisian sejauh ini belum mendapat informasi terkait kekurangan berkas. “Kita kirim berkas sudah lengkap. Tapi kalaupun ada yang masih kurang nanti akan kita lengkapi kembali,”  janjinya.

Diakuinya, sampai berkas dikirim ke Jaksa, terduga pelaku belum juga mau mengakui perbuatannya. Pelaku masih saja membantah kalau dirinyalah yang memperkosa dan membunuh korban. Walaupun dari semua saksi-saksi yang diperiksa, diakui kalau terduga pelakulah yang membunuh korban.

Meski pelaku tidak mau mengakui perbuatanya, bukan berarti akan menghentikan proses penyidikan. Karena selama barang bukti dan keterangan saksi dinyatakan lengkap, kasus tetap akan dilanjutkan. “Nanti pengadilan yang membuktikan. Apakah memang terduga pelaku bersalah atau tidak,”  ujarnya.

Hanya saja, sikap ngotot terduga pelaku bisa menjadi bumerang bagi terduga pelaku. Jika tetap tidak mengaku, namun dari fakta persidangan terbukti benar terduga pelaku sebagai pelakunya, maka hukuman yang diterimanya bisa lebih besar. “Sikap ngotot pelaku ini, bisa saja makin memberatkan hukuman. Jika pada persidangan terduga pelaku terbukti benar melakukan pembunuhan,” tegasnya.

Disinggung rencana psikotes untuk mengetahui kondisi mental dan kejiwaan terduga pelaku, Arjuna mengaku sebelumnya memang ada. Hanya dalam prosesnya, rencana ini urung dilakukan atas beberapa pertimbangan. Tapi rencana ini bisa saja dilakukan, jika pihak Lapas Anak menginginkannnya.

“Untuk psikotesnya tergantung pihak Lapas Anak, dibutuhkan atau tidak. Tapi kalau kita, psikotesnya tidak dilakukan. Meski sebelumnya sudah ada rencana untuk itu,” pungkas Arjuna. (kir)