Terduga Pelaku Bantah Lakukan Kekerasan pada Rabitah

Mataram (suarantb.com) – TKW asal KLU, Sri Rabitah mengaku dipukul sejumlah oknum selama berada di agensinya di Qatar.

Menindaklanjuti masalah ini, KBRI Doha, Qatar telah melakukan pemanggilan terhadap pelaku yang diduga memukul Rabitah. Demikian disampaikan Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan TKI BP3TKI Mataram, Noerman Adhiguna, Senin, 13 Maret 2017.

Iklan

Melalui surat yang dikirim KBRI Doha, Noerman menjelaskan pihak KBRI telah melakukan pemanggilan kepada terduga pelaku penyiksaan pada Rabitah yang disebut bernama Umar. Namun Umar membantah telah melakukan penyiksaan dan mengaku tidak mengenal Rabitah.

“Tanggal 27 Februari 2017 pukul 10.00 saudara Umar telah dipanggil KBRI Doha. Ia mengaku bekerja di Qatar pada agensi yang bersangkutan sejak 2011. Umar mengaku tidak tahu kejadian mengenai Sri Rabitah,” jelasnya.

Nama lain yang disebut Rabitah juga menyiksanya, Yati dilaporkan telah kembali ke Indonesia pada 2016. Ini berdasarkan informasi yang didapat dari Umar. Selanjutnya KBRI Doha juga menyatakan telah meminta pada Umar dan pihak agensi untuk memberikan data rinci tentang Sri Rabitah. Awalnya agensi menolak. Namun setelah didesak, akhirnya bersedia melakukan pengecekan data.

“Agensi meminta waktu satu-dua hari untuk melakukan pengecekan data, karena seperti diketahui data tersebut diterima pada tahun 2014,” ujarnya.

Untuk memastikan tanggal kedatangan Rabitah, KBRI juga mendatangi Dirjen Keimigrasian di Qatar untuk melakukan pengecekan data. Data yang diperoleh dipastikan Rabitah datang ke Qatar pertama kali pada 18 Juli 2014 dan meninggalkan Qatar pada 5 November 2014.

Sementara itu, pihak RS Hamad Qatar yang diduga menjadi lokasi operasi Rabitah juga telah ditemui tim KBRI. Pihak RS Hamad Qatar membenarkan Rabitah pernah tercatat sebagai pasien pada 2014. Saat itu telah dilakukan tindakan USG dan ditemukan banyak batu ginjal. Sehingga harus dilakukan tindakan operasi.

“Pihak RS Qatar meyakinkan bahwa sesuai prosedur yang berlaku di Qatar, pihak RS hanya dapat melakukan tindakan atas izin dan sepengetahuan pasien,” jelasnya.

Operasi kemudian dilakukan pada 11 Agustus 2014, sekitar tiga pekan setelah Rabitah tiba di Qatar. Sesuai permintaan RS, BP3TKI telah mengirimkan surat resmi meminta rekam medis terkait penanganan Sri Rabitah. Noerman mengaku BP3TKI tengah menunggu informasi dari RS Qatar.

“Jadi bisa disimpulkan berdasarkan informasi yang dihimpun dan hasil koordinasi di lapangan hingga 27 Februari 2017, KBRI Doha belum dapat memastikan fakta ada atau tidak adanya tindakan pencurian organ. Termasuk juga tindak kekerasan oleh oknum atas nama Umar dan Yati,” terangnya.

Sementara itu, pihak PPTKIS yang dihubungi BP3TKI mengaku siap membantu biaya pengobatan Sri Rabitah. Dan juga bersedia membayarkan gajinya, jika slip gaji dari pihak agensi tidak ditemukan. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here