Terbongkar, Paket Plus-plus Penari Bugil Kafe di Senggigi

Tersangka penari bugil di salah satu kafe kawasan Senggigi, Batulayar, Lombok Barat, Jumat, 7 Februari 2020 digiring penyidik Subdit IV Ditreskrimum Polda NTB. (Suara NTB/why)

Giri Menang (Suara NTB) – Jasa plus-plus berbalut karaoke pribadi terbongkar. Salah satu kafe di kawasan Batulayar, Lombok Barat diam-diam menyediakan penari bugil. Pelanggannya ditarik ongkos Rp3 juta setiap jam.

Tarian erotis disusupkan dalam paket karaoke. Seorang penyidik menceritakan, ruangan dengan fasilitas tarian bugil tampak luarnya sama saja. Ukurannya memang lebih besar, sekira 3×6 meter persegi.

Iklan

Ruangan di lantai dua itu hanya ditambahi fasilitasi biliar dan toilet pribadi. Seperti layaknya kamar karaoke, ada set perangkat pengeras suara, televisi, dan sofa yang cukup untuk 10 orang. Suasana kamar dibuat remang-remang.

“Ruangannya itu sudah disegel. Diberi garis polisi,” ungkap Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto, Jumat, 7 Februari 2020 didampingi Kasubdit IV Remaja Anak Wanita Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujewati.

Di ruangan itu, dua penari bugil, YMB alias N (23) dan SM alias KR (23) ditangkap Rabu petang lalu. Dua wanita asal Cilegon dan Serang, Banten itu tertangkap basah sedang berjoget tanpa busana. Hanya sepatu hak tinggi yang menutupi kulit tubuh mereka.

Seketika itu pula mereka bergegas ke toilet. Itupun cuma untuk mengenakan pakaian dalam. Mereka sedang melayani pelanggan yang memesan lewat tersangka DA (43), pria asal Cilegon, Banten. “Dia papinya,” ucap Artanto.

Untuk bisa menikmati layanan plus itu, pelanggan harus merogok kocek Rp3 juta. Tentunya, dua wanita itu harus dipesan dulu. DA meminta calon pelanggannya untuk membayar via transfer. Sekurang-kurangnya membayar uang muka untuk pemesanan kamar karaoke.

“Dua wanita ini partner song yang melayani paket khusus tarian bugil atau striptis. Sudah deal baru bisa dilaksanakan. Untuk berdua, Rp3 juta satu jam,” sebutnya.

Pujewati menambahkan, tersangka DA menjual paket itu sembunyi-sembunyi. Ketika pelanggan datang memesan kamar karaoke, DA menawari dengan tambahan layanan pemandu lagu.

“Yang ini (striptis) tambahan paket plus. Untuk sementara kita baru temukan indikasi pornografi. Untuk dugaan eskploitasi masih kita dalami,” jelas Pujewati.

Bersaksi kepada penyidik, DA mengaku tidak mendapatkan keuntungan pribadi dari penjualan paket striptis tersebut. meskipun dia tahu bahwa pihak manajemen mencantumkan larangan perbuatan tindakan asusila di dalam kamar karaoke.

“Memang saya ada dikasi aturan sama manajemen. Uangnya ke mereka semua. Sama kamar. Saya tidak ada,” kata DA. Sementara barang bukti yang disita antara lain uang tunai Rp6,4 juta, dua setel pakaian dalam wanita, nota pembayaran, empat ponsel, dan bukti transfer antarrekening.

Para tersangka itu dijerat dengan pasal 33 juncto pasal 7 dan 4 dan pasal 34 juncto pasal 8 dan atau pasal 36 juncto pasal 10 UU RI No44/2008 tentang Pornografi, yang ancaman hukumannya paling lama penjara 15 tahun dan denda maksimal Rp15 miliar. (why)