Terapung di Laut Dua Jam hingga Diselamatkan Kapal Nelayan

Mataram (suarantb.com) – Muhammad Zakaria, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berhasil lolos dari maut setelah kapal yang ditumpanginya tenggelam di perairan Batam Kepulauan Riau, akhirnya tiba di rumahnya di Dusun Sesela Lendang, Desa Sesela Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat. Ia disambut haru pihak keluarga. Zakaria berhasil selamat setelah terapung di laut selama kurang lebih dua jam sebelum kapal nelayan yang kebetulan lewat menyelamatkannya.

Kepada suarantb.com, Zakaria menceritakan bagaimana ia berjuang selama dua jam mempertahankan hidupnya di tengah laut sebelum kapal nelayan yang kebetulan lewat berhasil menyelamatkannya.

Iklan

“Seperti tiba-tiba datang nelayan ini,” ujar Zakaria menceritakan kronologis kejadian, Minggu, 6 November 2016.

Zakaria mengatakan saat terapung selama dua jam, dirinya terus berteriak meminta pertolongan. Suara Zakaria sempat hilang. Suaranya baru bisa normal setelah tiba di Lombok.

“Ini, baru saja dia kembali suara saya ini. Setelah teriak terus minta tolong,” ujarnya.

Ia menceritakan dirinya sempat pasrah jika pada saat itu nyawanya dicabut. Pasalnya selama dua jam terapung di tengah laut sambil berteriak minta tolong, ia belum juga melihat tanda-tanda datangnya bantuan. Kondisi itu juga yang membuat Zakaria memutuskan membuka pakaian luar yang dikenakan. Setelah membuka semua pakaian, ia kemudian menelentangkan tubuh dan membiarkan dirinya terombang-ambing dibawa ombak.

“Saya pasrah. Capek saya berenang dan berteriak. Saya kemudian membuka pakaian saya kemudian terlentang. Saya biarkan sudah tubuh saya ke mana-mana,” tuturnya.

Zakaria mengatakan telah empat tahun bekerja sebagai TKI di Malaysia. Sebelum kejadian yang menimpanya tersebut, kapal yang ditumpangi sempat karam beberapa mil dari bibir pantai. Saat itu, ia dan beberapa penumpang lain diminta turun untuk mendorong kapal tersebut. Setelah berhasil melewati karang, Anak Buah Kapal (ABK) lantas memintanya untuk kembali naik ke dalam kapal. Tidak berselang lama setelah memutuskan melanjutkan perjalanan, kapal tersebut kemudian terbalik.

  Kisah Sumartini, TKW NTB yang Lolos Hukuman Mati dan Hafal Alquran 18 Juz

“Kita sempat turun. Kapal itu kan karam dia, segini tingginya air itu,” ujarnya menunjuk lutut sebagai perumpamaan ketinggian air.

“Namun kita disuruh dorong kapal ini. Setelah itu, disuruh kita naik lagi, dia hidupkan lagi kapalnya. Pertama satu mesinnya hidup, kemudian dua, tiga, empat dan langsung ngebut. Coba kalau kita berhenti saja di sana, mungkin selamat semuanya,” katanya.

Selain sempat membentur karang, cuaca buruk dan kelebihan penumpang diduga penyebab tragedi tersebut. Tidak diberikannya pelampung kepada penumpang sebagi standar keselamatan juga menyebabkan banyaknya korban yang tenggelam.

“ABK itu saja yang pakai pelampung. Kita mana dikasi. Dia (ABK) suruh kita jongkok berdesak-desakan,” kenangnya.

Warga RT IV Dusun Sesele Lendang ini mengatakan rasa syukurnya karena bisa lolos dari tragedi maut tersebut. Ia mengaku sangat sedih karena banyak korban yang meninggal, dan di antaranya adalah salah seorang rekan yang juga sahabatnya ketika bekerja di Malaysia.

“Teman saya satu tempat kerja meninggal. Mayatnya sudah ada tapi belum diketahui,” ucapnya.

Salah satu momen yang sulit ia lupakan dari peristiwa tersebut yakni meninggalnya salah seorang penumpang yang lehernya terjerat tali jangkar. Ia menceritakan bagaimana korban tersebut meninggal dengan kondisi mata melotot.

“Saya melihat bapak itu. Dia enam keluarganya, semuanya meninggal. Satu dari yang enam itu, lehernya terjerat tali pelampung. Mayatnya sudah ditemukan, mati dia,” kenang Zakaria.

Pria yang mengaku belum menikah ini mengatakan dirinya pulang menggunakan kapal tersebut karena berstatus TKI ilegal. Ia menyebut dirinya melarikan dari tempat awal ia bekerja karena menerima gaji yang tidak sepadan dengan pekerjaan yang dilakukan.

“Saya kabur. Gaji saya sedikit. Rata-rata yang kabur itu pasti gara-gara gaji,” katanya.

  Tiap Bulan, Disos Terima Pemulangan Warga NTB Korban TPPO

Sementara itu, ayah Zakaria Ahmad Junaidi menyebut dirinya trauma dengan kejadian yang menimpa anaknya. Ia menyampaikan tidak akan memberikan izin kepada Zakaria untuk menjadi TKI lagi.

“Lamun bau jaq engkah juluq. Mendot uah leq bale (kalau bisa berhenti. Diam saja di rumah),” ujar Junaidi.

Kepala Dusun Sesela Lendang Munawar menyatakan sangat bersyukur melihat warganya tersebut selamat. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan.

“Saya bersyukur melihat warga saya selamat. Kita ucapkan terima kasih lah Kepada Dinas sosial, Polisi yang telah mengantar,” katanya.

Atas kejadian tersebut, Munawar juga meminta kepada warga menjadikan peristiwa yang menimpa Zakaria sebagai pelajaran. Siapa pun yang nantinya memilih menjadi TKI agar menggunakan jalur resmi.

“Kalau bisa jangan lagi lah ilegal. Lebih baik yang resmi saja. Kalau misalkan tidak tahan ya jangan kabur (dari majikan). Upayakan pindah dengan cara baik-baik,” sarannya. (ast)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here