Terapkan Protokol Covid-19, Instalasi Radioterapi RSUD NTB Adaptasi Alur Pelayanan

0
Kepala Instalasi Radioterapi RSUD NTB, dr. Hadi Nurhadi, Sp.Onk. Rad (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Pandemi virus corona (Covid-19) yang masih berlangsung memaksa fasilitas kesehatan terus memberikan pelayanan terbaik. Salah satunya ditunjukkan Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) NTB yang memberlakukan screening (pemeriksaan) pasien berlapis untuk menghindari potensi penularan.

“Di masa pandemi ini kami ada screening khusus untuk pasien kami. Jadi selain screenin secara umum di depan (pintu masuk rumah sakit, Red), ada juga dari kami,” ujar Kepala Instalasi Radioterapi RSUD NTB, dr. Hadi Nurhadi, Sp.Onk. Rad kepada Suara NTB, Minggu, 5 Juli 2020.

IKLAN

Pemeriksaan yang dilakukan antara lain mengecek apakah pasien yang membutuhkan layanan radioterapi memiliki gejala seperti batuk, sesak, dan apakah memiliki riwayat datang dari daerah berisiko atau memiliki kontak dengan pasien positif.

Untuk memaksimalkan pemeriksaan, Instalasi Radioterapi RSUD NTB juga memanfaatkan mesin Computed Tomography (CT) Simulation yang dimiliki. “Jadi kami bisa langsung melakukan CT scan kalau pasiennya ada keluhan. Jadi kalau ada pneumonia, radang paru, atau yang lain bisa terlihat semua. Kalau dia normal, tentu kita lanjutkan seperti biasa,” ujar Hadi.

Di sisi lain, untuk menekan potensi penularan Covid-19 Instalasi Radioterapi RSUD NTB juga memberlakukan jadwal penyemprotan disinfektan secara ketat. Dimana selama pandemi berlangsung, proses disinfeksi dilakukan setiap kali pergantian pasien.

Hal tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh mesin dan ruang perawatan di instalasi tersebut terbebas dari bakteri dan virus. “Kalau dulu kita tiga hari sekali, sekarang setiap ada pasien kita disininfeksinya,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mengatur jadwal perawatan pasien secara ketat. Dimana seluruh pasien yang membutuhkan terapi radiasi hanya dibolehkan datang di jadwal yang telah ditentukan pihak rumah sakit.

Dengan begitu, interaksi antara pasien dapat dikurangi sehingga pembatasan fisik sebagai bagian dari protokol Covid-19 dapat diterapkan. “Pasien yang masuk satu per satu. Jadi setiap pasien ada jamnya masing-masing. Itu adaptasi kami selama pandemi ini,” ujar Hadi.
Diterangkan, selama pandemi berlangsung pihaknya sangat mengatensi pelayanan bagi pasien kanker yang sempat menurun. Terutama dengan berkurangnya pemeriksaan bagi pasien yang berasal dari Pulau Sumbawa.

“Faktor terberat kami ada pasien dari Sumbawa, Sumbawa Besar, Dompu dan Bima yang berkurang. Karena kemarin dan penyeberangan dibatasi, jadi banyak pasien yang tidak bisa ke sini,” jelas Hadi. Untuk itu, pihaknya juga terus memantau kondisi pasien dengan memastikan perawatan melalui sambungan telepon.

Menurutnya, pelayanan radioterapi adalah salah satu pelayanan yang tidak boleh ditunda baik dalam situasi pandemi sekalipun. Hal tersebut telah menjadi rekomendasi Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dilihat dari sisi kedaruratannya.

“Jadi pasien memiliki hak mendapatkan pelayanan terus menerus. Kalau pasien memerlukan radiasi, silahkan datang. Kalau sudah terjadwal tidak boleh ditunda-tunda,” jelas Hadi. Selama pandemi, Instalasi Radioterapi RSUD NTB merawat 30-35 pasien per hari, dimana sebelum pandemi jumlah pasien yang dirawat dapat mencapai 45 – 60 orang per hari.

“Kanker ini bisa kambuh kapan saja. Ada juga pasien dengan keluhan yang berat seperti nyeri, sesak napas, atau pendarahan. Karena ada banyak yang tidak bisa datang, kita panggil pasien lain yang bisa dan masih ada di Lombok,” ujar Hadi.

Dengan upaya penerapan protokol Covid-19 yang dilakukan pihaknya, pasien diharapkan memiliki keyakinan dan tidak takut untuk berobat ke rumah sakit. Ditekankan Hadi, seluruh alur pelayanan di Instalasi Radioterapi RSUD NTB telah disesuaikan untuk meminimalisir potensi penularan virus tersebut.

“Kita berharap pasien tidak perlu takut juga. Dari kami, kita yakinkan (dengan protokol) itu. Ada pembatasan fisik, dan lain-lain. Jadi setiap pasien punya jamnya masing-masing untuk datang ke sini,” pungkasnya. (bay/*)