Terancam Digusur, Pemilik Rumah Makan Asano Ingatkan Pemkot Mataram

Mataram (Suara NTB) – Pemilik usaha rumah makan Asano, Erizal, dan puluhan pemilik usaha yang mendirikan bangunan di samping barat Mataram Mall, akan ditertibkan oleh Pemkot Mataram. Meski pasrah, Erizal mengingatkan Pemkot Mataram dengan mengatakan kebijakan ini hanya akan menciptakan pengangguran baru.

Hal itu disampaikan Erizal kepada wartawan yang mewawancarainya soal rencana penertiban yang tahapan sosialisasinya sudah dimulai oleh Pemkot Mataram dengan memasang papan peringatan di kawasan tersebut.

Iklan

Erizal menuturkan, ia telah mengelola bisnis rumah makan Padang tersebut sejak tahun 1989. Selama mengelola usaha tersebut, ia bukannya tidak memberikan kontribusi kepada Pemkot Mataram. Setiap bulannya, ia membayar biaya sewa lahan sebesar Rp 6 juta kepada Pemkot Mataram dengan kuitansi resmi.

“Saya bayar (sampai) ke bagian belakang ini setiap bulan, pertahun, permeter. Bayar ke pemerintah daerah, per meter. Belum termasuk PBB, pajak dan lain-lain. Yang bangun ini bukan pemerintah, saya yang bangun dengan duit sendiri,” ujarnya dengan lantang.

Menurut Erizal, dulunya, lokasi mereka berjualan ini kondisinya sangat buruk. Lalu, untuk mengimbangi kehadiran Mataram Mall yang bangunannya yang cukup megah kala itu, para pedagang setempat mulai membenahi bangunan tempat mereka berjualan.

“Pas saya ngebangun itu Pol PP-nya datang. Suruh stop. Saya bilang kenapa mesti di-stop? Saya langsung pergi ke Walikota, akhirnya diizinkan oleh Walikota,” tandasnya.

Erizal tidak sependapat, jika alasan penggusuran adalah demi melakukan normalisasi sungai yang bagian atasnya tertutup oleh bangunan pertokoan di barat Mataram Mall tersebut. Menurutnya, normalisasi bisa dilakukan tanpa harus menggusur bangunan-bangunan tersebut.

“Kali ini ndak ada masalah sebenarnya. Kali yang di utara sana itu, dari barat ke timur itu bisa digali. Gali, belokkan ke dinas pemadam kebakaran,” ujarnya.

Erizal juga menyinggung, drainase yang berada di sisi sebelah timur jalan yang saat ini menurutnya sudah tertutup tanah. Menurutnya, jika fungsi drainase itu dimaksimalkan, maka langkah penggusuran tidak perlu dilakukan.

Ia menegaskan, permasalahan kemacetan di kawasan tersebut sebenarnya juga bisa disiasati dengan membuat jalan di samping barat Mataram Mall itu menjadi jalan satu arah.

Jika kebijakan ini nantinya tetap berujung pembongkaran bangunan-bangunan tersebut, Erizal menegaskan dirinya belum memiliki bayangan akan melakukan langkah seperti apa. Yang jelas, ujar Erizal, kebijakan ini hanya akan menambah jumlah pengangguran karena usaha-usaha tersebut bisa saja tutup sehingga karyawannya tidak lagi memiliki pekerjaan. Erizal memperkirakan, dari 30 lebih bangunan yang ada di kawasan itu, ada ratusan jiwa yang menggantungkan mata pencaharian mereka di sana. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here