Tentukan Bentuk Ujian, Sekolah Sekolah Diberikan Kebebasan

Ilustrasi Sekolah. (Wikimedia Commons)

Mataram (Suara NTB) – Ada yang cukup berbeda pada rangkaian Ujian Nasional (UN) tahun 2020 ini. Di tahun ini tidak ada lagi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan diganti menjadi Ujian Sekolah. Sekolah diberikan keleluasaan atau kebebasan untuk membuat soal maupun konsep Ujian Sekolah.

Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Purni Susanto, S.Pd, M.Ed., ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 4 Februari 2020 mengungkapkan pada Permendikbud nomor 43 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ujian yang Diselenggarakan Satuan Pendidikan dan Ujian Nasional, ada beberapa perubahan dalam komponen soal. Terkait USBN berubah menjadi Ujian Sekolah atau dalam Permendikbud itu disebut ujian yang diselenggarakan satuan pendidikan.

Iklan

Di samping perubahan nama, juga ada perubahan substansi dan struktur berupa komponen soal. Kalau tahun lalu USBN hanya berbentuk tes, tapi di tahun ini bisa berbentuk tes, berbentuk portofolio, penugasan, atau bisa berbentuk lainnya dalam bentuk rekam jejak dari siswa itu sendiri. Sekolah diberikan kewenangan membuat bentuk atau soal ujian sekolah. Sedangkan USBN tahun lalu, soal dibuat oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dengan tambahan adanya komposisi soal dari pemerintah pusat.

“Guru bisa melaukan evaluasi sendiri, dan bisa memadukan tiga atau empat komponen tersebut. Bisa dipadukan satu komponen, atau dua kompnonena atau tiga komponen sekaligus. Tidak sperti tahun sebelumnya yang seragam menggunakan tes tulis, diserahkan ke sekolah untuk membuat soal,” jelas Purni Susanto yang juga Sekretaris 2 Panitia UN Provinsi NTB.

Pihaknya akan membuat edaran mengenai aturan tersebut kepada sekolah dalam waktu dekat. Pihaknya dari Dinas Dikbud NTB bertugas mengkoordinir, sekolah sebagai pelaksana dipandu oleh pengawas sekolah. Meski demikian, pihaknya menyarankan agar sekolah berkoordinasi dengan sekolah-sekolah yang lain.

“Saya menilai ini cukup bagus, dari segi kemerdekaan sekolah, sekolah lebih merdeka. Sekolah juga punya peluang membuat soal sesuai karakteristik mata pelajaran, dan juga karakteristik sekolah dan peserta didik,” ujar Purni Susanto.

Sementara itu, pihak sekolah juga menyambut baik perubahan tersebut. Kepala SMAN 8 Mataram, Hj. Suprapti yang dihubungi terpisah mengatakan kebijakan tersebut sangat tepat, karena guru membuat soal sesuai pedoman dan bisa mengukur kompetensi siswa. Pihaknya juga akan mengikuti petunjuk dari pemerintah pusat. “Kriterianya sudah ada, semua guru sudah berpedoman pada petunjuk. Ujian sekolah sepenuhnya sekolah yang menentukan. Guru membuat soal sesuai dengan indikator-indikator dalam kompetensi dasar yang diujikan,” kata Suprapti. (ron)