Tempat Wisata Dibuka, Wisatawan Harus Patuhi Protokol Covid-19

Objek Wisata Tanjung Bias Desa Senteluk Kecamatan Batulayar mulai dibuka. Saat berkunjung ke objek wisata ini wisatawan harus tetap mengikuti protokol kesehatan. (Ekbis NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Pemerintah Desa (Pemdes) Senteluk Kecamatan Batulayar membuka kembali wisata Pantai Tanjung Bias. Hampir tiga bulan objek wisata favorit keluarga itu terpaksa ditutup sebagai dampak pandemi Covid-19.

“Kita senang kalau dibuka lagi, kita bisa berjualan . Soalnya tiga bulan kita tidak ada pendapatan,” ujar Makbul salah seorang pemilik lapak dangan kuliner di kawasan itu belum lama ini.

Iklan

Pihaknya juga mengaku akan siap menerapkan protokol kesehatan, mulai dari menyediakan tempat cuci tangan, hingga pengaturan jarak tempat duduk pengunjung nantinya.

Sementara itu Kepala Desa Senteluk, Fuad Abdurrahman yang dikonfirmasi mengaku jika para pedagang menyambut baik dibukanya kembali tempat wisata itu. “Terutama masyarakat kita yang ada di lapak (dagang), bagaimana segera membuka wisata kita,”ungkapnya.

Meski dibuka, Fuad memastikan jika protokol kesehatan harus tetap diterapkan. Mengingat kondisi masih dalam pandemi Covid-19. “Jadi segala sesuai terkait protokol kesehatan harus kita jalankan. Berkaitan dengan tempat cuci tanggan, hand sanitizer sama batasan pengunjung ketika duduk di tempat wisata,” jelasnya.

Tak bisa dipungkiri dampak covid-19 itu memaksa 53 warung di sana ditutup hampir selama tiga bulan. Sehingga wajar para pemilik lapak itu senang ketika mengetahui jika wisata Pantai Tanjung Bias itu segera dibuka.

Meski akan dibuka, pihaknya masih akan berkoordinasi lagi dengan pihak kecamatan, kabupaten hingga aparat penegak hukum. “Memang kita buka ini agak kita paksakan segera agar bisa menyesuaikan keadaan yang disini. Tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan,” tegasnya.

Sebelumnya rencana dibukanya kembali objek wisata di Lobar juga sedang dipersiapkan oleh Pemkab Lobar melalui Dinas Pariwisata (Dispar). Bahkan beberapa kali pihak Dispar melakukan forum diskusi dengan para pelaku wisata terkait persiapan menuju new normal.

Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid dalam Focus Group Disscussion yang digelar Dispar mengatakan, saat ini Lobar sedang menuju ke era kenormalan baru atau berada pada masa transisi. Untuk itu, ada perubahan dari yang sebelumnya sering didengungkan yaitu dari larangan berkumpul ke diperbolehkannya berkumpul, namun dengan catatan.

“Dulu kita melarang orang kumpul, tapi sekarang boleh kumpul dengan catatan yaitu kita ingin mengatur dan memastikan orang kumpul itu menjalani protokol kesehatan Covid-19,” ujar bupati beberapa waktu lalu.

Dalam hal ini, bupati meminta agar ada kerjasama antara TNI-Polri, unsur organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, termasuk para kepala desa. “Setelah SOP ini jadi kemudian dibutuhkan koordinasi yang dimotori oleh para camat, dengan mengundang kepala desa,” tegas Fauzan.

Bahkan, untuk lebih memaksimalkan tercapainya tujuan pembukaan pariwisata di era transisi new normal, bupati meminta adanya supervisor baik dari Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, maupun Ikatan Dokter Indonesia, atau gabungan dari ketiganya.

Bupati Fauzan juga berharap agar puskesmas-puskemas yang ada di Lobar harus siap untuk membantu. “Kalau kita lihat letak-letak puskesmas kita di Kabupaten Lombok Barat alhamdulillah tidak terlalu jauh dengan lokasi-lokasi pariwisata, misalnya untuk Senggigi satu jalur dengan Meninting, kemudian Narmada ada dua bahkan rumah sakit juga ada, begitu juga dengan Sekotong dan tempat-tempat lain,” ujarnya.

Fasilitas-fasilitas kesehatan pemerintah ini, sebut Fauzan, harus siap mem-back up tempat pariwisata dalam kaitannya dengan kebijakan untuk menerapkan transisi kehidupan baru. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional