Tempat Pembuangan Sampah di Sandubaya Ditutup

0
Lokasi menuju TPST Sandubaya ditutup.  Dinas Lingkungan Hidup memasang portal agar kendaraan pengangkutan sampah tidak lagi membuang sampah di lokasi tersebut. Sementara, lahan seluas 25 are ini rencananya akan ditukar guling oleh Pemkot Mataram. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram masih mencari opsi relokasi tempat pembuangan sampah terpadu di Kecamatan Sandubaya. Alternatifnya lahan seluas 25 are bisa saja dijual atau ditukar guling. Sementara, lokasi pembuangan sampah ditutup.

Menurut Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh dikonfirmasi, Senin, 24 Agustus 2020, relokasi tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Sandubaya sedang berproses untuk mencari lahan baru. Beberapa opsi kebijakan bisa saja diambil. Di antaranya, menjual lahan itu atau ditukar guling dengan lahan lainnya.

IKLAN

“Iya, bisa ditukar guling atau dijual,” ungkapnya.

Keberadaan TPST ini diakui menjadi sorotan para wakil rakyat di Senayan, Jakarta. Karena lokasinya yang berdekatan dengan gudang Badan Urusan Logistik (Bulog). Oleh karena itu, TPST Sandubaya ditutup dan petugas Dinas Lingkungan Hidup langsung membuang sampah ke TPA Kebon Kongok.

“Iya, jadi sorotan DPR RI,” sebutnya.

Menurutnya, lokasi tersebut sangat cocok dikembangkan sebagai lokasi perumahan. Dengan luas Kota Mataram yang sempit, sedang kebutuhan perumahan tinggi. Sebelum pengembangan terlebih dahulu direncanakan untuk akses jalan. Namun demikian, pengembangan harus sesuai dengan konsep rencana tata ruang wilayah (RTRW).

Ahyar belum mengambil kesimpulan. Dia menyerahkan ke Sekretaris Daerah serta OPD teknis untuk mengkaji sebelum mengambil opsi terbaik. “Nanti dululah. Biarkan Pak Sekda kaji dulu,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, M. Nazaruddin Fikri menambahkan, TPST sudah menjadi kebutuhan untuk mengakomodir volume sampah di Kecamatan Sandubaya dan Kecamatan Cakranegara.

Pasalnya, dua kecamatan ini memiliki volume sampah tinggi akibat aktivitas ekonomi. Apalagi tempat pembuangan sampah di pasar swasta dan empat TPS ilegal ditutup, sehingga fokus masyarakat membuang sampah ke TPST Sandubaya.

“Di sana ada pasar dan pertokoan. Bekas bungkus plastiknya banyak,” tambahnya.

Kebutuhan serta space telah disampaikan ke Walikota, Wakil Walikota dan Sekda. Menurutnya, lahan yang dibutuhkan cukup 20 are untuk melayani dua kecamatan. Dia memberikan gambaran bahwa produksi sampah per hari mencapai 270 ton. “Sudah ada hitungannya. Tapi jumlahnya fluktuatif,” terangnya.

Nazaruddin menegaskan, TPST Sandubaya bukan tidak ideal. Tetapi Bulog merasa terganggu dengan bau dari tumpukan sampah. Gudang Bulog termasuk objek vital negara yang dikhawatirkan mengganggu kualitas beras. Untuk relokasi TPST ditawarkan di sekitar Sandubaya dan Cakranegara. Pertimbangannya adalah lahan tersedia, juga jangkauan pelayanan pengangkutan lebih dekat. (cem)