Tempat Ibadah Dijadikan Sumber Pangan

Salah satu konsep pemanfaatan pekarangan sebagai tempat bercocok tanam(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Keberadaan tempat-tempat ibadah tidak selalu dikonotasikan sebagai tempat puja puji manusia kepada tuhannya. Pemprov NTB menginisiasi peran tempat ibadah sangat strategis untuk dijadikan sumber pangan.

Tempat-tempat ibadah biasanya memiliki halaman yang luas. Namun kerap tak dimanfaatkan secara optimal. Padahal, jika kreatif, pekarangan tempat ibadah bisa dijadikan alternatif sumber pangan untuk kebutuhan dapur masyarakat sekitar, bahkan jadi sumber ekonomi.

Iklan

Pekarangan dapat dimanfaatkan sebagai Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Bercocok tanam dengan semi teknologi. Menggunakan polybag. Jenis tanaman yang dapat ditanam adalah tanaman pangan. Diantaranya, cabai, tomat, terong, bawang dan sejenisnya. Selain itu, pekarangan juga dapat dimanfaatkan untuk memelihara ikan dengan sistim bioflok.

“Untuk memenuhi kebutuhan pangan kita, asal kreatif bisa memanfaatkan lahan pekarangan yang kita miliki. Kita mencoba melakukan gerakan memanfaatkan pekarangan, dengan memulai dari tempat-tempat ibadah,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Drs. H. Fathul Gani, M. Si di ruang kerjanya, Kamis, 11 Juni 2020.

Kementerian Pertanian RI telah menginisiasi optimalisasi pemanfaatan pekarangan melalui konsep Rumah Pangan Lestari (RPL). RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Apabila RPL dikembangkan dalam skala luas, berbasis dusun (kampung), desa, atau wilayah lain yang memungkinkan, penerapan prinsip Rumah Pangan Lestari (RPL) disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

Apalagi disaat corona seperti saat ini, pemasukan berkurang, aktifitas di luar rumah terbatas. Sementara tingkat konsumsi meningkat. Fathul Gani mengatakan, biaya rumah tangga sangat pokok dan tidak kecil. Jika hanya mengandalkan membeli kebutuhan dapur dari pasar, tentunya sangat memberatkan. Karena itu, keberadaan pekarangan rumah dapat dijadikan alternatif mengurangi pengeluaran, bahkan menjadi sumber pendapatan (hasil produksi bisa dijual melalui tukang sayur keliling).

Di NTB, terdapat 285 KRPL. 197 diantaranya aktif. Pemerintah daerah ingin mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangannya dengan menjadikan rumah ibadah sebagai percontohan.

“Kalau rumah-rumah ibadah sudah bisa dilihat hijau, menghasilkan pangan, bahkan hasilnya bisa dijual, yang datang beribadah bisa kita harapkan termotivasi melakukan hal yang sama,” kata mantan Kabag Humas Setda Provinsi NTB ini.

Untuk menggerakkan tempat ibadah sebagai sumber pangan. DKP NTB berencana akan menggandeng Kemenag untuk mensosialisasikannya kepada pengelola rumah-rumah ibadah. Sementara ini, DKP juga tengah mengupayakan memperbanyak sumber-sumber bibit.

Salah satunya yang dilibatkan adalah Pramuka. Kwartir NTB kini sudah dijadikan sumber bibit tanaman pangan yang akan dibagikan ke rumah-rumah ibadah dan masyarakat yang ingin mengembangkan pekarangannya untuk bercocok tanam.

Pemerintah desa juga bisa bergerak, mendorong rumah ibadah di sekitar desanya sebagai sumber bibit. Nantinya pembibitan rumah-rumah ibadah bisa dikomersilkan (dijual), atau bisa dibagikan kepada keluarga-keluarga yang tak mampu untuk mengurangi pengeluaran sehari-harinya. Hanya dengan memanfaatkan pekarangan sebagai tempat bercocok tanam. (bul)