Temerodok, Bertahan di Tengah Gempuran Produk Luar

Selong (Suara NTB) – Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini terdapat jajanan yang diproduksi pabrik dengan kemasan menarik. Jika hal ini tidak diantisipasi, maka produk jajanan tradisional akan kalah saing. Namun tidak bagi temerodok, penganan khas Desa Sakra Kecamatan Sakra Lombok Timur (Lotim).

Temerodok merupakan jajanan tradisional yang terbuat dari ketan dan beberapa bahan lainnya yang diwariskan secara turun temurun dan berbentuk unik, seperti hidung dan kuping gajah serta berbagai bentuk lainnya dengan cita rasa yang berbeda.

Iklan

Kue temerodok yang saat ini sudah merambah pasar nasional, merupakan salah satu makanan yang sangat digemari oleh masyarakat. Bahkan, tak jarang wisatawan sengaja datang ke Desa Sakra untuk sekadar mendapatkan kue temerodok ini.

Baiq Rabiah, salah satu pedagang kue temerodok di Desa Sakra menuturkan, awalnya kue temerodok dibuat untuk sekadar menjadi makanan ringan oleh masyarakat di Desa Sakra. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, katanya, kue yang sudah mulai dipasarkan ke luar daerah ini semakin digemari oleh masyarakat, sehingga dijajakan di pinggir jalan. Saat itu, wanita paruh baya ini bahwa ia bertuga yang mamasarkannya di simpang empat Desa Sakra.

“Dulu pertama kali saya bertiga berjualan temrodok ini di pinggir jalan, namun dua orang teman saya itu saat ini sudah meninggal. Untuk pedagang yang lain-lain ini bisa saya katakan kemarin ia jualan,”ujarnya menggunakan bahasa khas Desa Sakra, pada Suara NTB, Senin (28/8).

Hingga di usianya yang menginjak sekitar 70 tahun ini, ibu dari empat orang anak yang bermukim di Dusun Bunut Tunjang Kuta Timuk Desa Sakra ini mengaku menikmati pekerjaannya sebagai pembuat sekaligus pedagang kue temerodok, meski keuntungan yang didapatkannya tidak seberapa. Namun dengan tekat yang kuat menggaungkan makanan khas tradisional Desa Sakra, Baiq Rabiah tetap semangat menekuni usahanya tersebut.

Untuk bersaing sesama pedagang temerodok maupun dengan produk-produk luar, Baiq Rabiah mengaku dirinya mengutamakan rasa pada kue temerodok, meski harus mengeluarkan banyak rupiah. Misalnya, katanya, untuk pembuatan temerodok sebanyak lima trai, modal yang dihabiskan sebesar Rp 700.000 dengan rincian untuk telur sebesar Rp 200.000, tepung Rp 150.000, minyak Rp 120.000, gula sebanyak enam kilo seharga Rp 14.000 per kilo, belum lagi harga gas. Selain itu, jatanya, untuk ongkos goreng biasanya ia memberikan upah sebesar Rp 50.000 dan pembuatan Rp 75.000 dan beberapa lainnya.

Sementara, katanya, untuk penjualan keuntungan tidak terlalu signifikan didapatkan. Pasalnya, untuk hari-hari biasa penjualan yang didapatkan berkisar antara Rp.100.000 hingga Rp.300.000 per harinya. Namun apabila dihari Jumat dan Sabtu, penjualan yang didapatkan bisa mencapai Rp 500.000 ke atas. Akan tetapi, hasil penjualan itu masih masuk modal produksi. “Untuk keuntungan bersih tidak seberapa,” tambahnya. (yon)