Telan Rp1,3 Miliar, Manfaat Bendungan Tiu Bulu Dipertanyakan

Taliwang (Suara NTB) – Keberadaan bendungan Tiu Bulu di desa Lamuntet, kecamatan Brang Rea, dipertanyakan masyarakat setempat. Pasalnya, hingga saat ini belum bisa memberikan dampak yang maksimal bagi pertanian yang ada di desa tersebut. Terlebih lagi, bangunan ini ditaksir menghabiskan anggaran miliaran rupiah untuk tahap pembangunannya.

Data yang berhasil dihimpun Suara NTB, untuk proses rehabilitasi bendungan ini ditaksir bisa menghabiskan anggaran sekitar Rp1,3 miliar tahun 2012 lalu. Selain itu, bendungan ini juga kembali mendapat kucuran anggaran sekitar Rp400 juta di APBD tahun 2016 untuk pembangunan lantai dari bendungan ini.

Iklan

Tetapi, hingga saat ini belum bisa dirasakan manfaatnya secara luas oleh masyarakat setempat. Parahnya lagi, lahan pertanian di Lamuntet terancam tidak bisa melakukan tanam kedua karena keterbatasan pasokan air.

Warga desa Lamuntet, Abdurrahman kepada Suara NTB di forum Yasinan, mengatakan, para petani desa Lamuntet, pada musim tanam kedua ini tidak menanam. Hal tersebut terjadi karena minimnya pasokan air ke area persawahan di desa ini.

Kondisi ini kembali diperparah dengan adanya kendala lain seperti belum tersedianya mesin pompa air di wilayah setempat. Sehingga masyarakat tidak ada cara lain untuk bisa menyambung hidup karena semua sarana penunjang pertanian belum bisa maksimal. Warga setempat juga sempat berharap di tahun 2017, keberadaan bendungan ini bisa maksimal. Tetapi faktanya sangat berbeda, karena sampai dengan saat ini juga belum ada titik terang terkait bendungan ini.

“Kami sangat berharap kepada Pemerintah untuk menyikapi masalah ini dengan cepat, jika masalah ini terus berlarut dikhawatirkan setiap tahunnya petani di Lamuntet tidak bisa melakukan tanam kedua,” ungkapnya.

Dikatakannya, terkait persoalan ini, pihak desa sudah sempat melaporkan kondisi terkini di Lamuntet. Tetapi hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari Pemerintah untuk menyikapi masalah bendungan ini. Karena jika melihat dari potensi air yang ada saat ini masih sangat banyak. Hanya saja air ini tidak masuk ke areal persawahan warga, karena lokasinya yang sangat tidak memungkinkan. Untuk itu warga setempat sangat berharap supaya dana miliaran rupiah untuk bendungan ini tidak sia-sia dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

“Kita sudah laporkan masalah ke dinas terkait (PU-PRPP) tetapi hingga saat ini belum ada tindak lanjut supaya bisa memaksimalkan keberadaan bendung ini,” sesalnya.

Menanggapi masalah tersebut, Asisten II Setda Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. Amry Rakhman M. Si, Selasa, 8 Mei 2018 mengaku sudah memerintahkan dinas terkait untuk melakukan pengecekan terkait bendungan ini. Hanya saja, hingga saat ini belum ada laporan dari dinas yang menaungi masalah ini. Sehingga untuk langkah selanjutnya terhadap bendung ini belum bisa dilakukan.

Pihaknya juga sudah pada komitmen awal terhadap semua yang berhubungan dengan masalah embung, bendungan, dan jaringan irigasi untuk bisa diselesaikan dengan baik. Sementara untuk proses pembiayaan, pihaknya perlu mengacu pada skala prioritas daerah. Jika sifatnya sangat mendesak dan penting maka akan dilakukan Perkada dengan biaya yang terduga.
“Saya belum ada laporan hasil pengecakan yang telah dilakukan oleh dinas terkait. Tetapi yang jelas masalah yang sudah disampaikan di forum yasinan ini akan tetap kita tindak lanjuti,” tandasnya. (ils)