Telan Rp 1,5 Miliar Sebulan, RPH Banyumulek Tak Difungsikan

0

Mataram (Suara NTB) – PT. Gerbang NTB Emas (GNE) untuk sementara waktu menghentikan aktivitas pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek, Lombok Barat. Kecuali hari-hari besar keagamaan. Persoalannya, biaya yang dikeluarkan tak sebanding dengan penghasilannya.

Direktur Utama PT. GNE, Drs. H. Syahdan Ilyas, MM., mengakuinya. Dalam hitung-hitungan kasar. Rata-rata jika RPH Banyumulek melakukan pemotongan sapi 5 ekor sehari. Dengan harga rata-rata 1 ekor Rp 10 juta. Artinya, dalam sehari harus tersedia modal Rp 50 juta.

IKLAN

Jika dalam sebulan, dipotong 150 ekor, maka biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 1,5 miliar. Jika dihitung kembali selama setahun, maka 1.800 ekor harus tersedia.

“Ini belum termasuk biaya-biaya lain, listrik, pengemasan, pemasaran, termasuk upah petugas. Bayangkan, berapa besar biaya yang harus ke luar,” kata Syahdan Ilyas kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Rabu, 21 Februari 2018 kemarin.

Karena itu, sementara waktu, RPH Banyumulek masih menunggu kerjasama investor untuk mengembangkannya. PT. GNE akan melakukan restrukturisasi pengelola RPH Banyumulek dalam rangka efisiensi.

“Kita masih mencarikan rumusan bagaimana agar RPH Banyumulek ditangani oleh pihak-pihak yang profesional. Yang berat soal pemasarannya,” demikian Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Provinsi NTB ini.

Penonaktifan operasional RPH Banyumulek ini, lanjut H. Syahdan, mempertimbangkan ketersediaan aset yang dikelola PT. GNE saat ini, nilainya Rp 23 miliar. Apalagi pengajuan penambahan penyertaan modal oleh eksekutif ke legislatif tak mendapat dukungan penuh seluruh fraksi yang ada di DPRD NTB.

Karena itulah, H. Syahdan mengatakan, lebih memilih fokus mendukung kegiatan-kegiatan usaha yang selama ini cukup menguntungkan bagi perusahaan. Misalnya usaha pembuatan beton, perbengkelan dan saat ini dikembangkan usaha cuci kendaraan.

Usaha beton yang mampu memberikan penghasilan besar, rencananya akan dikembangkan dengan pembaruan mesin-mesin cetak beton. Sayangnya, keinginan untuk peremajaan mesin yang usianya telah puluhan tahun ini tak mendapatkan lampu hijau. Dengan lima unit mesin yang digunakan saat ini, H. Syahdan mengatakan kelimpungan menerima pesanan.

Tahun 2017 lalu, dari hasil RUPS 2018, PT. GNE telah melebihi pendapatan dari yang ditargetkan. Keuntungan tahun lalu, mencapai Rp 1,5 miliar. untuk tahun ini, target pendapatan masih dalam pembahasan. (bul)