Telan Korban, Tambang Emas Ilegal di Empang Ditutup

Esty Setyo Nugroho. (Suara NTB/ind)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Lubang tambang emas ilegal di lokasi Desa Gapit, Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa yang menelan korban jiwa ditutup pihak kepolisian pada Kamis, 7 Oktober 2021. Pihak kepolisian sudah memasang garis polisi dan tidak memperbolehkan warga melakukan penambangan di lokasi setempat.

Kapolres Sumbawa, AKBP. Esty Setyo Nugroho, SIK menyampaikan, pasca dilakukannya evakuasi terhadap empat korban, lokasi sudah disterilkan dan dipasang garis polisi. Pihaknya juga sudah memasang spanduk imbauan dan peringatan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas penambangan di lokasi. Sebab selain ilegal juga sangat membahayakan. “Saya sudah perintakan kapolsek dan anggota dari Reskrim untuk bersama kepala desa dan perangkat desa yang ada agar lubang itu ditutup. Jangan sampai membahayakan keselamatan yang lain. Kita juga pasang peringatan untuk tidak lagi melakukan aktivitas serupa,” kata Kapolres saat dikonfirmasi wartawan, Kamis, 7 Oktober 2021.

Iklan

Dijelaskan Kapolres, terhadap jenazah keempat korban, pihaknya sudah menawarkan dilakukan otopsi untuk mengetahui secara jelas penyebab kematian. Namun pihak keluarga menolak dan menerima dengan ikhlas kematian korban dan segera dikebumikan. Pihaknya pun sudah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan dugaan sementara korban meninggal karena keracunan gas. “Dugaan karena keracunan gas. Saat petugas masuk, mencium bau menyengat. Bukan karena jenazahnya, karena memang ada gas di situ,” ungkapnya.

Pihaknya meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas serupa, karena sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Kegiatan tersebut selain tanpa izin, juga kontruksi pertambangan ada aturan dan tekniknya. “Saya imbau untuk tidak lagi melakukan aktivitas serupa, karena sangat berbahaya,” pinta Kapolres.

Kapolres juga sudah memerintahkan kepada jajaran untuk tetap memantau aktivitas seperti ini. Supaya tidak kembali terjadinya kejadian serupa. Hanya saja, diakui Kapolres, kegiatan ilegal seperti ini selalu dilakukan secara sembunyi dan jaraknya jauh dari pemukiman. Seperti lokasi tambang ilegal yang ada di Gapit, lokasinya sekitar 10 kilometer dari pemukiman. Karenanya, kepada masyarakat yang melihat adanya aktivitas serupa agar segera melapor untuk bisa ditindaklanjuti. “Kita tetap memberikan peringatan bahwa penambangan liar ada pelanggaran pidana dan ada ancaman hukuman yang bisa dikenakan. Tetapi bukan hanya langkah refresif yang dilakukan tetapi juga langkah preventif dengan cara sosialisasi dan menyampaikan imbauan. Jadi sebelum langkah refresif, kita tetap memberikan imbauan kepada masyarakat,” imbuhnya.

Lebih jauh dijelaskan Kapolres, empat jenazah penambang emas tersebut ditemukan pada Rabu, 6 Oktober 2021. Jenazah korban ditemukan oleh warga yang kebunnya berada di dekat lokasi. Warga yang biasanya meminta minum ke camp para penambang itu curiga, karena tidak ada orang di lubang tambang itu. Selain itu, kecurigaan warga bertambah, karena mencium bau busuk dari dalam lubang tambang. Warga tersebut, kemudian bergegas kembali ke desa guna memberitahukan warga lainnya atas temuannya. Mendapatkan laporan tersebut, pihak kepolisian dan sejumlah pihak terkait bersama masyarakat langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP.  Proses evakuasi cukup lama. Mengingat, lubang tambang itu sangat sempit dan memiliki kedalaman 17 meter. Jadi, jenazah para penambang itu harus dikeluarkan satu persatu. Evakuasi jenazah juga harus dilakukan dengan hati-hati. Mengingat kondisinya sudah mulai membusuk. Sebab, saat ditemukan, jenazah para penambang itu mengapung di atas air di dalam lubang. Diketahui keempat korban  yakni M. Ridwan (26) dan M. Robi Rifa’i (19), warga Desa Gapit, Kecamatan Empang. Kemudian M. Said  (32) dan Safaruddin (23), warga Desa Kakiang, Kecamatan Moyo Hilir.(ind)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional