Tekong TKI Selundupkan Sabu Dalam Jok Mobil

Dirresnarkoba Polda NTB Helmi Kwarta Kusuma Putra (kiri) menginterogasi penyelundup 2,6 kg sabu dari Batam ke Lombok via darat, Rasid (tengah) usai penangkapan Kamis, 24 September 2020.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Sabu seberat 2,6 kg melenggang mulus sepanjang perjalanan Batam-Mataram. Bandar asal Lombok Timur, Rasid alias Acit (35) menyembunyikannya di dalam jok mobil yang dikendarainya. Rombongan pelesir ke Lombok ini malah berakhir di hotel prodeo.

Rasid dikenal punya banyak rumah dan tanah di kampung halamannya, Cepak Daya, Aikmel, Lombok Timur. Pria ini menjadi tekong TKI di Batam, Kepulauan Riau. Dia menjembatani TKI asal Lombok menyeberang ke Malaysia. Begitu sebaliknya.

Iklan

“Itu saya dapat dari hasil saya bekerja di Batam. Dari situ saya kumpulkan untuk beli rumah dan tanah,” kata Rasid ketika dihadirkan di Mapolda NTB usai ditangkap Kamis, 24 September 2020.

Aktivitasnya sebagai tekong ini juga yang melancarkan aksi penyelundupannya. Sabu dari Malaysia dipesan dan dikirim secara gelap. Perantaranya, TKI yang pulang dari Malaysia lewat jalur tikus. Bisnis haramnya sejak tahun 2018 makin moncer. Dia menikahi wanita asal Subang, Jawa Barat. Makin ke sini, Rasid dipercaya seorang bandar untuk memegang kendali peredaran sabu di wilayah Lombok. Di tahun 2020 ini, total lima kali pengiriman dijalaninya.

Namun, pengiriman terakhir pada Kamis (24/9) lalu gagal. Pergerakannya tercium Ditresnarkoba Polda NTB di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. Rasid terhenti setelah perjalanan darat dari Senin (21/9). Mulai dari Batam. Singgah di Padang. Lalu tanpa henti menuju Lombok. Rombongan keluarga serta mertuanya rencananya hendak diboyong berlibur ke Lombok usai menghadiri pernikahan di Padang, Sumatera Barat.

Mobil Avanza warna Hitam bernomor polisi BH 1892 HO digeledah di tempat. Anjing pelacak Unit Satwa Polda NTB tidak bisa dikelabui. Akhirnya ditemukan lima paket besar sabu seberat 2,6 gram. Serta lima butir ekstasi seberat 5 gram. Rasid mengantongi upah pengiriman Rp30 juta. Upah itu yang membuat Rasid percaya diri membiayai liburan 12 orang keluarganya. Bus mini Isuzu Elf BA 7993 AO disewa khusus. Biaya transportasinya saja habis hampir 34 juta.

Direktur Resnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra menerangkan, Rasid sudah diintai sejak dua bulan belakangan ini. “Tujuannya ke sini liburan. Tetapi dia sambil membawa narkoba,” ujarnya. Rasid diduga kuat merupakan pemain besar yang menguasai pangsa pasar bisnis haram narkoba di Lombok Timur. cara mainnya dia membawa sendiri sabu yang dijualnya memanfaatkan jaringan yang sudah dia bangun selama di Batam dulu.

“Makanya untuk dia ini kita juga tetapkan tersangka tindak pidana pencucian uang. Semua hartanya kita telusuri. Untuk jaringan narkoba, silakan kumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Nanti kita tinggal tangkap, kita seret ke TPPU,” tegasnya. Rasid diduga memupuk kekayaan dalam bentuk tanah, rumah, dan kendaraan. Helmi menganalisa, wajar jika Rasid memiliki kekayaan. Upah pengiriman narkobanya berkisar antara Rp30 juta sampai Rp40 juta per satu kali pengiriman.

“Kalau hanya buruh, kalau hanya tekong, masa tiga tahun sudah bisa kumpulkan kekayaan sebanyak itu,” imbuhnya. Selain pengembangan ke jaringan Rasid yang lainnnya. Tim Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga dilibatkan. Helmi mengatakan, penyidik sudah melihat rumah Rasid. Mereka juga menggeledah rumah tersebut. ”Tetapi, tidak ditemukan barang bukti sabu,” bebernya. (why)