Teken Kerja Sama dengan Investor, HKTI NTB akan Datangkan 10 Juta Ekor Sapi Australia

Ketua DPD HKTI NTB H. Rumaksi meneken kerja sama dengan Dirut PT Karya Hoqi mendatangkan sapi dari Australia. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB akan mendatangkan 10 juta ekor sapi ras Brahma dari Australia. Jutaan ekor sapi tersebut akan didatangkan secara bertahap dan berlangsung selama lima tahun ke depan. Hal ini ditandai penandatangan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HKTI NTB H. Rumaksi Sjamsuddin dengan Direktur Utama (Dirut) PT Karya Hoqi, H. Bachtiar di kediaman pribadi H. Rumaksi pada Rabu malam lalu .

Direktur Utama PT Karya Hoqi, H. Bachtiar kepada wartawan menjelaskan, sapi yang didatangkan itu akan digemukkan oleh petani-petani NTB. Pilihan mendatangkan sapi Australia karena tidak ada bibit sapi di Indonesia. Kebutuhan daging sapi di Indonesia sejauh ini masih sangat kurang. Sehingga harus impor dari luar negeri.

Iklan

Sekali mendatangkan bisa 25 ribu ekor. Jutaan sapi tersebut tidak bisa didatangkan sekaligus. Menurut Dirut PT Karya Hoqi tersebut, pihaknya sudah sangat pengalaman untuk mendatangkan sapi dari negeri Kanguru tersebut. Ia menyatakan tidak main-main dalam bisnis sapi. Harapannya, melalui kegiatan penggemukan sapi yang dikerjsamakan dengan HKTI NTB ini, masyarakat NTB bisa beternak sapi dan dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Dikatakan, kerja sama mendatangkan sapi dari Australia ini baru dimulai setelah pihak Pelindo siap dengan pelabuhan sandarnya. “Kita tunggu dari Pelindo, kalau sudah siap kita datangkan,” terang Bachtiar.

Ketua DPP HKTI NTB yang juga Wakil Bupati Lotim, H. Rumaksi mengatakan, kerja sama dengan Karya Hoqi ini merupakan investasi yang besar. Nilainya tembus Rp 300 triliun. Sebanyak 10 juta sapi Australia ini akan disalurkan ke seluruh NTB. Sebagai Wabup, diutamakan masyarakat Lotim.

Wabup yang juga secara ex officio Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Lotim menginginkan adanya akselerasi pengentasan kemiskinan di Lotim. Tumbuhkan ekonomi masyarakat miskin. Syarat menerima, sepanjang memiliki komitmen dan lahan tempat membuat kandang tempat memelihara maka siap diberikan. “Mau perorangan atau kelompok boleh,” sebutnya

Salah satunya di pondok-pondok pesantren (Ponpes) yang ada di seluruh NTB. Satu ponpes bisa diberikan 500 sampai 2.000 ekor. Biaya pendidikan di Ponpes bisa diambil dari keuntungan memelihara sapi Australia. Cara pembagian keuntungannya kata Wabup tidak sama seperti sistem ngadas. “Ini bukan pengadas, kalau pengadas itu untung bagi dua,” terangnya.

Petani peternak yang diberikan ini sekadar menjaga dan memelihara sapi. Diyakinkan, memelihara sapi dari HKTI akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan sistem ngadas. Sebagai ilustrasinya, sapi dengan bobot 400 kg misalnya diberikan ke peternak, dalam jangka empat bulan ke depan bobotnya meningkat menjadi 550 kg berat hidup, maka 150 inilah yang dibayar oleh HKTI ke peternak. Jumlah itulah yang menjadi keuntungan peternak.

Harga berlaku ketentuan pasar, yakni Rp 55 ribu perkilogram berat hidup. Artinya, selama empat bulan saja beternak sapi ras brahma Australia, peternak bisa memperoleh Rp 8,2 juta. “Ini macamnya kita titip sapi,” sebutnya.

Sekretaris DPD HKTI NTB, Iwan Setiawan menambahkan, bentuk perjanjian dengan PT Karya Hoqi ini adalah mendatangkan sapi bakalan. Katanya ini adalah bagian dari upaya nyata HKTI NTB yang hampir setahun terakhir melakukan gerakan jemput bola sejumlah program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

HKTI dan Karya Hoqi sudah sudah periksa lokasi Pelabuhan Gili Mas Pelindo III sebagai lokasi sandar kapal pengangkut sapi Australia. Katanya, banyak yang menyebut ide mendatangkan sapi Australia dianggap ide gila. Akan tetapi, hal ini coba benar-benar dibuktikan.

Ada dua jenis sapi yang akan didatangkan. Sapi yang bisa dipotong langsung dan sapi yang akan dipelihara. Sapi potong ini dibawa ke Rumah Potong Hewan di Banyumulek Lombok Barat. RPH dengan kapasitas 250 ekor ini akan difungsikan oleh HKTI NTB. Seiring perkembanganya, HKTI ke depan akan coba membangun RPH dengan kapasitas yang lebih besar. “Ke depan kita akan buat RPH terbesar di NTB dengan kapasitas 1.000 ekor perhari,” demikian Iwan. (rus)