Tekan Laju Lakalantas dengan Buku “Fiqih Lalu Lintas”

Emil menunjukkan buku menekan kecelakaan dengan pendekatan fiqih. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Angka kecelakaan di Provinsi NTB terbilang cukup tinggi. Korbannyapun sebagian besar usia produktif. Karena itu, PT. Jasa Raharja (Persero) Wilayah NTB mengambil inisiatif menekan kasus lakalantas dengan pendekatan buku fiqih lalu lintas.

Kepala Jasa Raharja Cabang NTB, Emil Feriansyah Latief menjelaskan, buku fiqih lalu lintas ini berisi cara dan adab berkendara serta beberapa edukasi lain dari sudut pandang agama Islam. Buku disebut sebagai bentuk ikhtiar meningkatkan adab masyarakat dalam keselamatan berkendara di jalan. Jasa Raharja NTB bekerjasama dengan stakeholder terkait, diantaranya tuan guru, dan Ditlatnas Polda NTB dan diterbitkan tahun 2021.

Iklan

“Kita bagikan secara gratis sebanyak 500 buah,” kata Emil. Dibagikan secara gratis kepada sejumlah kalangan. Mulai dari kalangan pesantren, masjid dan masyarakat umum.  Jika dilihat dari peta titik-titik rawan kecelakaan lalu lintas, Keacamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat termasuk zona merah. Kemudian Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur zona oranye.

Disusul Kecamatan Mataram, Kecamatan Jonggat, Kecamatan Batukliang,  Kecamatan Praya, Kecamatan Selong, dan Kecamatan Plampang masuk zona kuning. Sisannya zona hijau tingkat lakalantasnya. Berdasarkan usia, tingkat kecelakaan lalu lintas di NTB didominasi usia pelajar (6-25 tahun) sebesar 44 persen. Disusul usia prouktif antara 26-55 tahun sebesar 37 persen dan lansia 35 ke atas sebesar 17 persen dan balita atau 5 tahun ke bawah sebesar 2 persen.

Berdasarkan jenis kelamin, laki laki mendominasi angka kecelakaan sebesar 73 persen dan 27 persennya perempuan. Dan berdasarkan profesinya, pelajar/mahasiswa mendominasi angka kecelakaan sebesar 35 persen, disusul wiraswasta 21 persen. Kemudian buruh dan petani 18 persen , lain-lain 12 persen. tidak bekerja 8 persen, dan Ibu Rumah Tangga 7 persen, serta TNI Polri 1 persen.

“Banyak yang tidak sadar kecelakaan lalu lintas bisa meningkatkan kemiskinan karena kepala keluarga hilang, mata pencaharian hilang, jadi buku ini menggambar hal hal semacam itu dari perspektif agama. Dan para korban ini rata-rata usia emas dan usia produktif,” tambahnya. Pendekatan fiqih untuk menekan laju kecelakaan lalu lintas di NTB menurutnya sangat relevan dengan karakteristik masyarakat yang dikenal agamais. Karena mayoritas muslim.

Kedepan, kehadiran buku tersebut juga akan bisa menjadi panduan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam ikut membantu sosialisasi tentang keselamatan berlalu lintas. Pasalnya, buku berukuran tebal itu juga bisa menjadi bahan khutbah jumat. (bul)

Advertisement