Tekan Kontraksi Ekonomi NTB, Pemprov Jalankan Rekomendasi BI dan BPS

H. Ridwan Syah, H. Amry Rakhman. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB memperkirakan ekonomi NTB pada triwulan II – 2020 akan mengalami kontraksi minus 7,25 persen sampai minus 7,65 persen. Untuk menekan kontraksi ekonomi yang begitu besar, Pemprov NTB menjalankan rekomendasi Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang juga sudah melakukan kajian.

Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M.TP mengatakan, BI dan BPS merekomendasikan kepada Pemda agar masyarakat tetap berproduksi di tengah pandemi. Sehingga ekonomi NTB tidak mengalami kontraksi yang terlalu besar.

Iklan

‘’Rekomendasi dari BI dan BPS, bagaimana kita tetap  mempertahankan  produksi khususnya terkait dengan IKM dan UKM agar tetap berproduksi di tengah pandemi,’’ kata Ridwan dikonfirmasi di Mataram, Rabu, 17 Juni 2020.

Kebijakan Pemprov melalui program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang dengan memberdayakan IKM dan UKM lokal dinilai langkah yang sudah on the right track. Langkah yang dilakukan ini selain bertujuan memenuhi kebutuhan hidup masyarakat miskin dan hampir miskin terdampak Covid-19. Sekaligus kebijakan yang diambil mendorong IKM dan UKM tetap berproduksi di tengah pandemi Covid-19.

‘’Kebijakan Pak Gubernur dengan memberikan barang-barang pokok JPS Gemilang dengan membeli produk-produk IKM dan UKM langsung dua penanganan. Pertama, memenuhi kebutuhan hidup masyarakat terdampak. Sekaligus menolong IKM dan UKM supaya tetap berproduksi,’’ terangnya.

Langkah yang telah dilakukan ini akan dilanjutkan pada fase berikutnya, yakni pemberian stimulus ekonomi. Pemprov mengalokasikan anggaran sekitar Rp100 miliar untuk memperkuat IKM dan UKM pada fase pemulihan ekonomi NTB. ‘’Kita harus bergegas memperkuat IKM dan UKM sesuai saran-saran BI,’’ katanya.

Sebenarnya, kata Ridwan, pemberdayaan IKM dan UKM untuk tetap menjaga pertumbuhan ekonomi NTB tidak cukup. Karena ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi seperti investasi, ekspor dan lainnya.

‘’Makanya langkah paling pas sekarang ini adalah melanjutkan dalam skala yang lebih besar melakukan recovery dengan  mempertahankan produksi dan meningkatkan produksi IKM dan UKM kita. Terutama yang terkait sektor pertanian, peternakan, kelautan dan lainnya,’’ katanya.

Di masa pandemi ini, sektor yang paling terpuruk adalah sektor pariwisata. Di dalamnya ada sektor perdagangan, transportasi, akomodasi dan makan minum. Sektor perdagangan akan cepat dipulihkan sangat tergantung dari penanganan Covid-19.

Supaya daya ungkit JPS dengan memberdaakan IKM dan UKM lokal menjadi lebih besar bagi ekonomi NTB. Maka apa yang dilakukan Pemprov NTB melalui program JPS Gemilang dengan melibatkan IKM dan UKM lokal perlu juga diikuti Pemda kabupaten/kota. Bantuan JPS yang diberikan ke masyarakat sedikit tidak jangan berupa uang tunai, tetapi berupa sembako yang barangnya merupakan produk IKM dan UKM lokal.

‘’Makanya Pak Gubernur pada JPS tahap III mengubah polanya. Lebih melibatkan kabupaten/kota. Supaya kabupaten/kota juga bisa masuk dalam kerangka berpikir yang sama dalam pemberdayaan IKM dan UKM. Karena sesungguhnya IKM dan UKM itu di kabupaten/kota,’’ terangnya.

Dalam JPS Gemilang tahap II, Pemprov melibatkan 535 IKM dan UKM di seluruh NTB. Dengan pelibatan IKM dan UKM, Pemprov kemudian sudah punya klasternya. Sehingga mereka tetap berproduksi di tengah pandemi. Selain itu, Pemprov juga melaksanakan program padat karya yang kegiatannya tersebar di sejumlah OPD.

Terpisah, Kepala Bappeda NTB, Dr. Ir. H. Amry  Rakhman, M. Si mengatakan bahwa memang pada triwulan II, ekonomi NTB akan mengalami kontraksi. Namun dengan pemberdayaan IKM dan UKM yang dilakukan saat ini, ekonomi NTB diperkirakan akan bangkit pada triwulan III dan IV.

‘’Perekonomian kita triwulan I masih positif. Triwulan II memang minus. Kalau minus triwulan II, maka peluangnya di triwulan III dan IV berpeluang positif. Ekonomi NTB akan bangkit pada triwulan III dan IV sebagai tahap pemulihan,’’ katanya.

Begitu Covid-19 sudah mulai mereda, sektor perhubungan akan mulai terbuka. Maka sirkulasi orang dan barang akan terjadi. Sehingga sektor pariwisata NTB akan mulai bangkit kembali di triwulan III dan IV.

Namun ia mengatakan pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III dan IV kemungkinan tak mencapai target sebesar 5 – persen. Tetapi ia optimis ekonomi NTB akan bergerak positif pada triwulan III dan IV. ‘’Apakah bisa bertahan setengahnya (dari target),  sepertiganya. Ini sedang kita analisis,’’ katanya. (nas)