Tekan Kasus Kematian Pasien Covid-19, NTB Skrining 23.000 Lansia dan Penderita Penyakit Komorbid

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Tingkat kematian pasien Covid-19 di NTB masih cukup tinggi, sebesar 5,95 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata tingkat kematian pasien Covid-19 secara nasional yakni sebesar 3,76 persen.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A mengatakan, salah satu langkah yang dilakukan NTB untuk menekan kasus kematian pasien Covid-19, dengan melakukan skrining atau deteksi dini kepada 23.000 lansia dan penderita penyakit komorbid di seluruh NTB. Masyarakat yang menderita penyakit komorbid dan lansia diskrining lewat Puskesmas.

Iklan

‘’Biar ketemunya masih dalam kondisi segar. Karena kita pengalaman, bahwa yang sepuh-sepuh dan punya penyakit komorbid (banyak) meninggal,’’ kata Eka dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Senin, 28 September 2020.

Eka menyebutkan, total lansia dan penderita penyakit komorbid level satu dan level dua di NTB sebanyak 23.000 orang. Mereka inilah yang prioritas dilakukan skrining Covid-19.

‘’Kita prioritaskan 23.000 lansia dan penderita penyakit komorbid level satu dan level dua,’’ sebutnya.

Ketika dilakukan skrining di Puskesmas, kemudian dilakukan rapid test hasilnya reaktif. Maka langsung dilakukan tes swab. Jika ada yang positif Covid-19, maka langsung dilakukan penanganan, sehingga diharapkan potensi kematian dapat ditekan.

Eka menjelaskan, pihaknya sudah bersurat ke kabupaten/kota dan Puskesmas seluruh NTB untuk melakukan skrining kepada lansia dan penderita penyakit komorbid sebanyak 23.000 orang tersebut. ‘’Minggu ini kita minta teman-teman (petugas kesehatan) sudah mulai melakukan skrining. Kita lihat juga nanti kendalanya di lapangan apa. Skrining ini akan terus berjalan,’’ ucapnya.

Berdasarkan data Pemprov NTB saat kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 3.158 orang. Sebanyak 938 lansia yang tercatat terpapar Covid-19. Kemudian manula sebanyak 211 orang. Sedangkan bayi sebanyak 88 orang, anak-anak 92 orang dan dewasa 1.829 orang.

Eka menjelaskan, ada perubahan indikator terkait Covid-19 yang mulai dipakai minggu ini. Jika sebelumnya, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 saja yang dihitung. Sekarang, pasien yang berstatus probable atau sebelumnya disebut Pasien Dalam Pengawasan (PDP) juga akan dihitung.

Kasus probable adalah  orang-orang yang secara linis mengarah ke gejala Covid-19, namun hasil laboratorium  tidak ada. Dengan masuknya kasus probable dalam penghitungan, Eka mengatakan akan berpengaruh terhadap zonasi risiko Covid-19 di kabupaten/kota. Seperti zona merah, oranye, kuning dan hijau.

‘’Data  yang akan banyak berubah anak yang probable dan positif Covid-19,’’ katanya.

Eka menyebutkan, jumlah anak-anak yang suspek dan probable di NTB sekitar 800 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 orang yang meninggal. Sementara, anak-anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 sekitar 230 orang. Dan meninggal sebanyak 5 orang.

‘’Kalau ada pasien probable yang meninggal, maka masuk dalam hitungan sekarang. Memang WHO mintanya begitu dari dulu. Tetapi Indonesia belum patuh. Sekarang,  sesuai standar WHO, karena kasus probable juga dihitung,’’ ucapnya. (nas)