Tebet Jadi Kantong Kemiskinan di KSB

Taliwang (Suara NTB) – Kelurahan Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang, menjadi wilayah termiskin di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) di tahun 2017. Bahkan di lingkungan ini, tercatat sekitar 204 jiwa hasil verifikasi Basis Data Terpadu (BDT) Kementerian Sosial (Kemensos) dari jumlah sebelum di verifikasi 5.759 jiwa. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan desa dan wilayah lain yang ada di KSB.

“Memang Telaga Bertong (Tebet) salah satu kantong kemiskinan terbesar yang kita miliki saat ini. Data yang ada juga menunjukkan yang sama dan kita tidak bisa mengelak dari fakta tersebut. Jika dibandingkan dari semua wilayah, desa Poto Tano yang paling rendah tingkat kemiskinan sekitar 35-127 jiwa hasil BDT tahun 2017 ,” terang Kepala Dinas Sosial (Disos) KSB, dr. H. Syaifuddin, kepada Suara NTB, Senin, 9 April 2018.

Dikatakannya, menyikapi masalah ini, pihaknya bersama dengan DPMD akan segera membangun sinergi untuk bisa mengeluarkan status Tebet sebagai kantong kemiskinan KSB. Bahkan dua dinas memiliki peran masing-masing, khusus untuk DPMD, pendekatannya lebih kepada institusional. Baik dengan pengalokasian anggaran lebih untuk mengintervensi kemiskinan maupun kebijakan lainnya.

Sementara Disos, akan lebih mengambil peran, terkait upaya pendapatan sebagai penerima program baik Pariri maupun PKH. Bahkan dalam upaya tersebut, akan lebih kepada pendekatan perorangan dan keluarga miskin. Hal ini juga akan dibarengi dengan porsi anggaran lebih kepada keluarga miskin yang berada di wilayah tersebut.

“Kita akan lakukan kolaborasi dalam penanganan masalah kemiskinan yang ada di lokasi Tebet. Sehingga penanganan yang akan kita lakukan bisa maksimal,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, selain program khusus bagi penduduk miskin hasil BDT, di lokasi kantong kemiskinan juga akan diintervensi dengan program lain. Sehingga dengan pola keroyokan yang akan dilakukan tersebut, penanganan kemiskinan diharapkan akan jauh lebih maksimal. Tentu program penanganan kemiskinan juga akan melibatkan CSR perusahaan. Hal ini dilakukan, karena jika hanya mengandalkan uang dari APBD saja, dianggap tidak akan bisa maksimal.

“Kita akan keroyok masalah masyarakat miskin dengan semua program, sehingga kedepannya angka penurunan kemiskinan di KSB akan lebih maksimal dan wilayah sebagai kantong kemiskinan juga semakin bisa ditekan,” tandasnya. (ils)