Teater Kampus di NTB Belum Berani Ambil Resiko

Mataram (suarantb.com) – Sejumlah pegiat teater dari tiga kelompok teater kampus di Kota Mataram berkumpul mendiskusikan geliat teater kampus pada masa lalu dan tantangan yang akan dihadapi di masa yang akan datang.

Dalam kesempatan yang dihadiri beberapa tokoh teater NTB tersebut, beberapa masukan bermunculan terkait fenomena teater kampus sebagai bagian dari eksistensi kesenian di NTB.

Iklan

Salah seorang Seniman Teater NTB, Kongso Sukoco menyebut teater kampus di daerah ini masih belum berani mengambil resiko untuk menentukan arah dan tujuan kesenian teaternya.

“Kita mesti punya pertanyaan mendasar tentang kesenian. Kita juga harus memunculkan pertanyaan mendasar tentang teater. Anda bisa sekali waktu mentas baik dan jelek. Itu biasa, tapi yang penting itu serius berproses, karena ketika prosesnya baik akan menghasilkan pertunjukan yang baik,” ujarnya, Jumat, 9 Agustus 2016.

Hal senada dikatakan pegiat teater lainnya, Naniek I. Taufan. Ia melihat, teater kampus harus mulai lebih terbuka untuk saling mengapresiasi peristiwa seni. Menurutnya, ada kesan eksklusif di antara kelompok teater kampus yang selama ini membudaya.

Ia menyebut hal tersebut sebagai momok yang harus dihilangkan ketika teater kampus di NTB mau beranjak dari stagnasi yang membelit selama ini. “Harus ada kerjasama yang baik sesama teman-teman teater. Saya belum melihat teater kampus saling menssuport,” sarannya.

Menurutnya, dulunya teater kampus memiliki nama karena semua mereka terlibat dan bekerjasama. “Yang penting itu prosesnya bukan pertunjukannya,” katanya.

Terpisah, Sastrawan yang juga Pentolan Komunitas Akar Pohon Mataram Kiki Sulistyo menambahkan, selain proses dan kegelisahan yang harus berubah, hal lain yang perlu diperhatikan oleh teater kampus menjawab tantangan kedepan adalah menambah intensitas pertunjukan. Karena bagaimanapun besar gagasan dan harapan yang diinisiasi jika tak diimbangi dengan kuantitas pertunjukan, tidak akan memberikan dampak apapun bagi perkembangan dunia teater di NTB.

“Sebenarnya poin yang paling penting adalah kelompok teater kampus harus lebih sering mengadakan pementasan. Itu saja dulu. Persolan yang lainnya pasti akan menyusul. Sekarang yang paling penting itu pentas sebanyak-banyaknya,” ujarnya.

Hal yang juga diamini oleh Sutradara Teater Lho Indonesia R. Eko Wahono. Menurut Eko, kelompok teater kampus harus segera berkumpul dan mengerucutkan ide besar dalam bentuk proses bersama.

“Sekarang kalian kumpul, dan buat konkret, misalkan membuatan garapan bareng dengan satu pimpinan produksi.Kemudian pada masing-masing kelompok ada sub-sub produksi lagi,” ujarnya memberi masukan.

Kegiatan diskusi masa lalu dan masa kini teater kampus diinisiasi oleh Syamsul Fajri Nurawat bersama tiga kelompok teater Kampus yang ada di Mataram.Hadir dalam kesempatan tersebut beberapa tokoh dan pegiat teater NTB, di antaranya Zaini Muhammad, Naniek I Taufan, Kiki Sulistyo, Kongso Sukoco, Eko Wahono, Majas Pribadi, Winsa Prayitno, Aspari, Abenk, beberapa mshasiswa dan masyarakat pegiat seni di Kota Mataram. (ast)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here