Tarik Investor, Aturan Pajak KEK Mandalika Disiapkan

Pembangunan saluran pengendali banjir dibangun di kawasan The Mandalika. (Suara NTB/kir)

Mataram (Suara NTB) – Pandemi virus Corona (Covid-19), berpengaruh pada pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Terutama terkait pembangunan hotel-hotel di dalam kawasan oleh investor yang telah menandatangani perjanjian pemanfaatan lahan.

‘’Sudah ada 9-10 (investor) yang menandatangani Land Utilization and Development Agreement (LUDA). Desain mereka sudah jalan, sudah kita pagari juga beberapa (lahan) di kawasan (sebelah) barat,’’ ujar Managing Director Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), I Wayan Karioka, dikonfirmasi, Rabu, 24 Juni 2020.

Iklan

Kendati demikian, pandemi saat ini diakui memberi pengaruh pada realisasi investasi tersebut. ‘’Sebelumnya ada gempa kemudian sekarang Covid ini. Jadi banyak yang proses dari design (investasi) itu pelaksanaannya menunggu situasi agak tenang dulu,’’ ujarnya.

Diterangkan Karioka, ada dua hal yang perlu disiapkan untuk mendukung realisasi investasi di dalam kawasan, terutama pascapandemi nanti. Antara lain fasilitasi dari sisi biaya konstruksi serta promosi untuk meningkatkan kunjungan ke dalam kawasan saat masa operasi.

Untuk menfasilitasi biaya konstruksi, pihaknya saat ini tengah menyiapkan aturan fasilitas perpajakan untuk KEK Mandalika. ‘’Jadi untuk KEK itu petunjuk pelaksanaannya belum tuntas soal fasilitas perpajakannya. Bagi investor ambilah contoh PPN 10 persen, dengan investasi Rp300 miliar, 10 persen itu cukup besar,’’ ujar Karioka.

Pertimbangan soal perpajakan tersebut menurutnya masih perlu dikaji. Dicontohkan investasi pengembangan hotel di dalam kawasan. Di mana barang-barang hotel harus diimpor dengan biaya mahal. ‘’Selama masa konstruksi itu bagaimana biayanya bisa rendah, salah satunya dengan pengecualian pajak untuk KEK,’’ ujarnya.

Untuk meningkatkan jumlah kunjungan disebutnya masih mengandalkan gelaran MotoGP yang akan digelar di dalam kawasan. Mengingat Indonesia telah mendapatkan perpanjangan kontrak untuk gelaran balap motor internasional tersebut, peningkatan kunjungan diproyeksi pasti terjadi.

Di sisi lain pengembangan kawasan yang dilakukan oleh ITDC juga terus dilakukan. Terutama memanfaatkan pembiayaan dalam negeri dengan National Interest Account (NIA) yang disediakan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dengan besaran mencapai Rp1,2 triliun.

Dicontohkan seperti pembangunan Pullman Hotel yang sempat terhenti dan akan segera dilanjutkan kembali.  ‘’Pendanaan sudah disetujui dengan NIA. Tinggal memfinalkan kontrak lamanya dan akan segera dilanjutkan kembali. Harapan kita pada bulan Juli, jadi tidak lama lagi,’’ ujar Karioka.

Diterangkan, dengan selesainya kajian lahan dan masalah pendanaan maka pembangunan Pullman Hotel dipastikan akan berjalan. Untuk pembangunan struktur hingga instalasi diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat setahun.

Soal pendanaan, disebut Karioka melihat kelayakan bisnis di dalam kawasan serta sejauh mana rasio-rasio keuangan yang ditimbang. ‘’Karena ini (dana) pinjaman, kita harus bisa memberdayakan lahan yang ditugaskan oleh pemerintah,’’ pungkasnya.

Bangun Saluran Pengendali Banjir

Pada bagian lain dijelaskan bahwa ITDC membangun saluran pengendali banjir sepanjang lebih dari 5 Km. Langkah tersebut sebagai salah satu bagian dari mitigasi bencana, guna meminilisir potensi bencana alam berupa banjir yang selama ini kerap melanda sejumlah wilayah di kawasan The Mandalika. Pembangunan saluran pengendali banjir tersebut dengan menggandeng Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara (NT) I.

“Pelaksanaan proyek ini merupakan kerjasama ITDC sebagai pengelola kawasan The Mandalika, dengan BWS NT I dan PT. Mari Bangun Nusantara serta PT Bagun Mitra Anugerah Lestari selaku rekanan,’’ jelas Karioka.

Ia menjelaskan, saluran pengendali banjir tersebut menghubungkan dua sungai besar masing-masing Sungai Ngolang dan Balak yang selama ini menjadi penyebab banjir di beberapa ruas jalan provinsi di area desa penyangga The Mandalika di wilayah Desa Kuta dan Desa Mertak. Dengan panjang 5 Km dan bermuara di lagoon The Mandalika.

Proyek pembangunan saluran tersebut merupakan salah satu bentuk kesiapsiagaan ITDC dalam mengantisipasi bencana banjir di kawasan The Mandalika. Di mana setiap musim penghujan, beberapa kawasan The Mandalika kerap dilanda banjir. Sekaligus untuk menyambut fase new normal pembukaan kembali kawasan pariwisata The Mandalika.

‘’Saluran ini juga merupakan upaya kami sebagai pengelola kawasan, dalam mengembangkan kawasan pariwisata terintegrasi dengan infrastruktur yang lengkap,’’ tandasnya.

Kepala BWS NT I, Hendra Ahyadi, ST, MT, menjelaskan bahwa saat ini proyek pembangunan telah sudah berjalan sejak awal Juni kemarin. Dan, sampai saat ini progresnya sudah mencapai 19 persen. Lebih tinggi dari perencanaannya sebesar 12 persen sampai akhir bulan Juni. Hal itu dikarenakan, pola pengerjaan proyek dilakukan melalui pola padat karya.

‘’Tercapainya progres yang melebihi target ini disebabkan penerapan program padat karya sebagai upaya pemerintah untuk menanggulangi meningkatnya pengangguran akibat PHK yang disebabkan dampak dari penyebaran Covid -19,’’ jelasnya. Proyek pembangunan saluran pengendali banjir tersebut ditargetkan tutas selama dua bulan sampai akhir bulan Juli mendayang. Dengan melibatkan tenaga kerja sebanyak 34 orang.

Karioka menambahkan, di kawasan The Mandalika saat ini juga sudah ada kantor unit SAR Kuta Mandalika di gedung Balawista di area Kuta Beach Park The Mandalika. Yang siap memberikan pertolongan secara profesional bagi para pengunjung kawasan The Mandalika selama 24 jam penuh.

Guna mendukung kinerja pelayanan, kantor unit SAR Kuta Mandalika dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Mulai dari dengan peralatan SAR laut, peralatan SAR darat dan mobil khusus rescue. (bay/kir)