Target Pembangunan Rumah Tuntas Maret, Fauzan : Di Depan Wapres Bilang Siap. Nyatanya?

CETAK - Aplikator di Gunungsari yang sedang mencetak panel Risha. Panel ini jadi kendala pengerjaan rumah korban gempa, karena jumlahnya terbatas. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Hujan lebat yang mengguyur Lombok Barat (Lobar) dan sekitarnya berdampak fatal bagi korban gempa yang masih tinggal di pengungsian. Bagaimana tidak? Akibat diguyur hujan lebat, tenda pengungsian mereka roboh bahkan ada yang hanyut. Kondisi ini menjadi keluhan warga, lantaran tempat pengungsian yang tak layak.  Belum lagi mereka harus dihadapkan pada ancaman penyakit dampak hujan.

“Karena tenda-tenda pengungsian nyaris roboh, akibat hujan. Bahkan tergenang,” kata warga Medas, Hanafi pada Suara NTB, Senin,  5 November 2018.

Iklan

Diakuinya, saat ini warga tidak hanya dihadapkan pada pengungsian yang tak layak, namun hujan yang turun juga menjadi persoalan yang dihadapi. Sebab dengan kondisi tempat pengungsian yang kurang layak tak tahan terhadap guyuran air hujan.  Belum lagi persoalan logistik yang masih menjadi kendala untuk bisa dipenuhi oleh korban gempa.

Dengan kondisi musim hujan yang mulai melanda wilayahnya, Bupati Lobar H. Fauzan Khalid selaku kepala daerah pun mendesak agar proses pengerjaan rumah dipercepat. Lebih-lebih, imbas kedatangan  Wakil Presiden Drs. H. M. Jusuf Kalla ke Mataram, Minggu ,  4 November 2018 membuat Bupati Lobar H. Fauzan Khalid ikut bergegas.

Fauzan merasa gerah juga dengan sinyalemen bahwa Lobar dianggap lamban dalam pembangunan rumah bagi para warga yang terdampak bencana gempa bumi. “Harus segera diproses. Pembentukan pokmas (kelompok masyarakat, red) tidak boleh menunggu. Percepat tidak usah menunggu panel.  Nanti kita lagi yang disalahkan,” ujar Fauzan saat bertemu dengan puluhan tenaga teknis rekrutan Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) di Ruang Rapat Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Lobar, Senin  5 November 2018.

Fauzan menyindir pihak-pihak yang menyatakan siap untuk menuntaskan pembangunan Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) dengan segera. Seperti diberitakan beberapa media, Wakil Presiden H. M. Jusuf Kalla mendesak agar pihak yang ditunjuk mempercepat pembangunan Risha bisa tuntas bulan Maret 2019 nanti. “Di depan wapres, bilang siap. Nyatanya?” ujar Fauzan agak kecewa.

Di tempat yang sama,  Kepala Dinas Perkim Lobar H. Lalu Winengan mengatakan lambannya pengerjaan tersebut, karena minimnya aplikator atau penyedia panel Risha.”Mereka hari ini,  baru rencana untuk bisa memproduksi 75 unit/ hari. Nyatanya (hari ini, red) 20 unit saja belum bisa,” ungkapnya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kuswara dari Litbang Kementerian PUPR. “Kapasitas produksi panel sangat terbatas. Sekarang baru ada 17 aplikator atau 17 titik workshop dengan kemampuan produksi paling banyak untuk 6 unit,” ujar Kuswara.

17 aplikator penyedia panel Risha itu tersebar di seluruh Provinsi NTB. Ia lalu membandingkan lebih dari 72 ribu rumah rusak berat se-NTB yang harus dilayani oleh 17 aplikator itu. Kuswara pun pesimis target yang ditetapkan wakil presiden bisa terpenuhi. “Kita harus kerja sangat-sangat keras untuk bisa memenuhi target tersebut,” aku Kuswara.

Untuk itu, pihaknya mendorong agar aplikator-aplikator lokal bisa membantu produksi panel untuk Risha tersebut. “Tidak ada kualifikasi khusus. Yang penting mau berinvestasi untuk alat cetak, bahan baku, dan penyediaan SDM. Kita siap melatih untuk membuatnya,” harap Kuswara.

Selain mendorong aplikator lokal, Kuswara juga berharap agar masyarakat bisa menggunakan rumah konvensional anti gempa asal sesuai dengan juklak-juknisnya. Kuswara memastikan struktur rumah konvensional harus anti gempa di mana teknis utamanya ada pada dimensi pembetonan. (her)