Tantangan Berat, Guru Perlu Intensif Arahkan Murid di Simulasi Pembelajaran SD

Murid SDN 32 Cakranegara mengantre mencuci tangan sebelum memasuki ruang kelas saat simulasi pembelajaran secara tatap muka tatap muka pertama, Kamis (14/1). (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Sekolah jenjang PAUD, SD, dan SMP di Kota Mataram mulai melaksanakan simulasi pembelajaran secara tatap muka pada Kamis, 14 Januari 2021 sampai dengan Sabtu, 30 Januari 2021. Simulasi pembelajaran di jenjang SD memiliki tantangan berat terutama bagi murid kelas awal yang perlu tuntunan. Oleh karena itu guru perlu intensif mengarahkan murid agar menghindarkan terjadinya kerumunan.

Salah satu SD yang melaksanakan simulasi pembelajaran di Kota Mataram yaitu SDN 32 Cakranegara.

Iklan

Kepala SDN 32 Cakranegara, Sri Suhartini ditemui di sela-sela simulasi pembelajaran, Kamis, 14 Januari 2021 pagi mengatakan, tantangan berat saat murid kelas awal mengikuti simulasi pembelajaran. Guru perlu intensif membimbing para murid.

“Anak SD agak lebih susah diatur kalau tidak dijaga oleh guru. Makanya kami kerahkan banyak guru untuk membimbing protokol kesehatan anak-anak,” katanya.

Terlihat para murid diantar oleh orang tua mereka di depan sekolah. Sebelum memasuki gerbang sekolah, ada dua orang guru berjaga untuk memeriksa suhu tubuh murid dengan menggunakan thermo gun. Setelah itu murid diarahkan berbaris antre cuci tangan menggunakan sabun.Seusai cuci tangan, murid langsung diarahkan ke dalam kelas.

Sri menjelaskan, untuk menghindari kerumunan, tidak ada jam istirahat kepada murid, sehingga tidak kerumuman saat murid bermain.

Di SDN 32 Cakranegara, tambahnya, menggunakan sistem blok, murid kelas VI masuk di hari Senin, menyusul kelas V di hari Selasa, kelas IV di hari Rabu, Kelas III di hari Kamis, kelas II di hari Jumat, dan kelas I masuk di hari Sabtu. Guru juga menjaga di depan sekolah agar siswa tidak berkerumun di para penjual jajanan.

“Jadi selama seminggu murid hanya masuk satu kali, totalnya selama simulasi dua minggu ini murid hanya hadir dua kali di sekolah,” kata Sri.

Dalam satu dibagi menjadi dua sif, yaitu sif pertama dari pukul 7.30 sampai dengan 9.30 Wita. Jeda itu digunakan untuk penyemprotan disinfektan. Kemudian sif kedua pada pukul 10.00 sampai dengan 12.00 Wita. Jumlah maksimal di satu kelas sebanyak 18 orang. Pihaknya juga sudah menyiapkan berbagai sarana pendukung protokol kesehatan antara lain tempat cuci tangan, thermo gun, hand sanitizer, disinfektan, dan lainnya.

Sosialisasi kepada orang tua juga telah dilaksanakan melalui grup WhatsApp masing-masing kelas. “Standar operasional prosedur dari Dinas Pendidikan sudah saya sebar ke orang tua siswa, sosialisasi kami tidak lakukan secara langsung untuk menghindari kerumunan,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H. Lalu Fatwir Uzali, S.Pd., M.Pd., menyampaikan, pihaknya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk simulasi. Ia menegaskan, sekolah melaksanakan simulasi pembelajaran bukan langsung pembelajaran tatap muka. Nantinya pihak sekolah dan dinas akan melakukan evaluasi. “Melihat situasi selama dua minggu, kami dapatkan catatan, baru sekolah akan menemukan formulasi pembelajaran tatap muka sesuai kondisi masing-masing sekolah,” ujar Fatwir. (ron)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional