Tanpa Penerjemah dan Penasihat Hukum, Dakwaan terhadap Dorfin Felix Batal Dibacakan

Terdakwa kasus impor sabu senilai Rp3,1 miliar, Dorfin Felix warga negara Perancis, Kamis, 21 Februari 2019, batal menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Mataram. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Pembacaan dakwaan perkara penyelundupan narkoba senilai Rp3,1 miliar batal. Perkara dengan terdakwa WNA asal Perancis, Dorfin Felix ini urung sebab jaksa penuntut umum belum bisa menghadirkan penerjemah. Dorfin juga tanpa didampingi penasihat hukum. Sidang bakal digelar dua pekan lagi.

Iklan

Ketua majelis hakim Isnurul Syamsul Arif membuka sidang di Pengadilan Negeri Mataram Kamis, 21 Februari 2019. Didampingi anggota majelis Ranto Indra Karta dan Kurnia Mustikawati. Jaksa penuntut umum, Ginung Pratidina mengatakan, surat dakwaan sudah siap namun belum bisa dibacakan. “Penerjemahnya tidak ada. Penasihat hukumnya juga belum tahu ini apakah penunjukkannya sampai sidang atau tidak,” ucapnya kepada majelis hakim.

Isnurul menjawab, penuntut umum wajib menghadirkan penerjemah agar terdakwa memahami isi dakwaan yang ditujukan. Hal itu juga sesuai dengan peraturan KUHAP. “Harus translator yang bersertifikat,” tegasnya. Terdakwa Dorfin menjelaskan dirinya sanggup berbahasa Inggris. Majelis kemudian memutuskan jaksa menghadirkan penerjemah bahasa Inggris.

Pembacaan surat dakwaan kemudian ditunda sampai Senin (4/3) mendatang. Usai persidangan, Ginung menyebutkan pada penyidikan di Polda NTB, Dorfin didampingi penerjemah yang dihadirkan tim penasihat hukum. “Kami berupaya di sidang mendatang dengan mencari yang bersertifikat. Kami upayakan dari Unram atau dari Kantor Bahasa,” jelasnya.

Terdakwa Dorfin sedianya diajukan ke persidangan dengan dakwaan pasal 113 ayat 2 UU RI No35/2009 tentang Narkotika. Dorfin didakwa mengimpor sabu masuk ke wilayah Indonesia melalui Lombok. Dorfin sebelumnya ditangkap atas penyelundupan narkoba dengan barang bukti Barang buktinya sabu 2,47 kg, ditambah lagi dengan ekstasi 206,83 gram, ketamine 256,6 gram, dan 850 butir ekstasi 253,1 gram, yang nilainya mencapai Rp3,1 miliar.

Dorfin ditangkap ketika menjalani pemeriksaan X-ray di Bandara International Lombok, Praya Lombok Tengah Jumat 21 September 2018 lalu. Kemudian Dorfin kabur dari Rutan Polda NTB Senin (21/1) lalu. Kemudian akhirnya tertangkap lagi pada Jumat (1/2) di Dusun Gunung Malang, Mangsit, Sengigi, Lombok Barat. (why)