Tanjung Bias, Oase Wisata Berbasis Ekonomi Kreatif dari Desa Senteluk

Suasana sore di Pantai Tanjung Bias, Dusun Karang Telaga, Desa Senteluk, Lombok Barat, beberapa waktu lalu. (Suara NTB/aan)

Ketika kehidupan di pesisir semakin sulit, masyarakat di Desa Senteluk menemukan sebuah oase baru tempat mereka menggantungkan mata pencahariannya. Tempat itu bernama Tanjung Bias.

SORE di Tanjung Bias adalah sore yang menenangkan. Ada pantai dengan latar pemandangan Gunung Agung di kejauhan. Ada suara ombak, udara segar dan angin yang semilir. Juga gugusan awan dan matahari yang bersiap pulang.

Iklan

Semakin sore, sinar matahari semakin indah. Warnanya menguning. Sinarnya jatuh ke laut, merajut garis dan berkas-berkas serupa emas. Beberapa menit sebelum benar-benar tenggelam, ia akan meninggalkan kesan yang tak lekang dari ingatan.

“Kadang-kadang, dia pas, matahari itu jatuhnya persis di puncak Gunung Agung. Itu indah sekali,” ujar pengelola Kedai An-Nabil, Tanjung Bias, Dedi Lailatul Akbar (33), Senin, 10 Agustus 2020.

Dedi telah hampir dua tahun berjualan di Tanjung Bias. Selama itu, Dedi ikut menjadi saksi keajaiban ekonomi yang tercipta di pesisir barat Pulau Lombok itu.

Kedai An-Nabil yang dikelola Dedi adalah satu dari puluhan kedai yang kini semarak di Tanjung Bias, Dusun Karang Telage, Desa Senteluk, Kabupaten Lombok Barat.

Kedai-kedai di sini, memiliki kekhasan tersendiri. Tidak hanya menyediakan kuliner. Kedai-kedai ini juga didesain sedemikian rupa agar terlihat instagrammable–sebutan untuk lokasi yang terlihat menarik sebagai tempat berfoto bagi para pengguna media sosial instagram.

Demi menciptakan kesan instragrammable itu, para pengelola kedai memasang berbagai hiasan pemanis. Dari kursi-kursi berjenis bean bags dengan warna-warna yang menarik, tirai, lampu-lampu dengan cahaya temaram, hingga ayunan yang terlihat sangat menarik untuk berswafoto.

Tidak heran jika enam hari dalam sepekan, setiap sore, Tanjung Bias akan dibanjiri pengunjung. Akhir pekan akan menjadi puncak keramaian di Tanjung Bias. Warga dari berbagai daerah datang untuk menikmati matahari terbenam, menyantap kuliner, berswafoto sembari melepas penat.

Tidak hanya warga NTB. Wisatawan dari luar daerah, hingga turis mancanegara pun berdatangan. Dedi mengungkapkan, jika sedang ramai, ia bahkan harus berulangkali menolak pelanggan yang tak kebagian tempat duduk.

Dengan tingginya jumlah pengunjung, Dedi mengaku kini hidupnya menjadi lebih baik secara ekonomi. Dedi dulunya berjualan di Jalan Udayana, Mataram. Setelah Udayana tidak lagi ramai, ia mengelola lapak di Tanjung Bias.

Bukan hanya Dedi seorang. Ratusan warga Desa Senteluk juga ikut kecipratan berkah dari ramainya Tanjung Bias. Tukang parkir, pelayan, hingga penjaga portal, mendapatkan sumber penghasilan baru.

Dedi mengungkapkan, tak sedikit warga yang meninggalkan profesi lamanya sebagai kusir cidomo dan beralih menyewakan kuda kepada pengunjung di Tanjung Bias. Setiap pengunjung yang ingin menikmati suasana pantai sembari menunggang kuda, cukup membayar sekitar Rp30 ribu untuk sekali naik. Dalam sehari, pengelola bisa mengantongi ratusan ribu rupiah dari menyewakan kuda.

Tanjung Bias juga menyerap komoditas lokal. Dedi mengungkapkan, sebagian besar makanan dan minuman yang dijual di sini, bahan bakunya berasal dari produsen lokal. Dari ikan bakar, hingga nasi goreng. Dengan kata lain, ada warga lain yang ikut mendapatkan berkah secara tidak langsung dari keberadaan Tanjung Bias.

Bagi pengunjung, Tanjung Bias juga menawarkan konsep wisata kuliner yang halal, menarik, murah dan cukup menyenangkan. “Buat teman-teman, jadi nggak usah takut ke sini, karena harganya itu terjangkau, tidak mahal,” ujar Rama Pratama, salah seorang YouTuber lokal yang berkunjung ke Tanjung Bias, beberapa waktu lalu.

Membangun Optimisme di Desa

Setelah hampir dua tahun, Tanjung Bias telah memberikan banyak manfaat bagi warga, Pemerintah Desa Senteluk dan Pemkab Lombok Barat. Namun, untuk mencapai titik ini, perjuangannya cukup panjang dan berliku.

Kades Senteluk, Fuad Abdul Rahman yang diwawancarai suarantb.com, Selasa, 11 Agustus 2020 mengisahkan, pendirian Tanjung Bias awalnya diniatkan untuk mengubah citra negatif kawasan pinggir pantai itu. “Dulunya itu tempat mesum, mabuk miras dan sebagainya. Capek kita lakukan penertiban dan sebagainya, tidak bisa berhenti,” ujarnya.

Dengan mendirikan lapak-lapak kuliner di sana, Fuad dan warga setempat berharap aktivitas-aktivitas negatif di sana bisa diminimalisir. Keramaian dan aktivitas usaha, akan membuat energi mereka beralih ke kegiatan yang lebih positif.

Namun, menurut Fuad, di awal pendiriannya, banyak warga yang meragukan ide tersebut. “Dua bulan kami tawarkan, ndak ada yang mau,” ujarnya. Masyarakat beranggapan bahwa lokasi di Tanjung Bias tidak cocok untuk wisata kuliner. Bahkan, ia mendengar ada yang menganggap ini adalah ide sinting.

“Siapa mau belanja di sana? Suasananya panas begitu,” ujar Fuad mengutip pernyataan sebagian kalangan yang meragukannya.

Setelah dua bulan meyakinkan warga, Fuad dan BUMDes Senteluk akhirnya berhasil meyakinkan beberapa warga untuk membuka tiga lapak di lokasi tersebut. “Yang tiga lapak ini bisa dibilang kami paksakan. Kami minta mereka bantu di sini. Kami janjikan, nanti kita bisa kerja sama dengan travel-travel untuk mendatangkan pengunjung. Saya sendiri juga agak malu dan ketakutan kalau ide ini gagal,” kenang Fuad.

Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah dibuka, tiga lapak yang menjadi pelopor itu cukup diminati pengunjung. Perlahan, warga mulai percaya bahwa ide ini bisa berhasil.

Namun, sukses di lapak-lapak perdana itu justru mendatangkan persoalan baru. Dari awalnya tidak mau, kini warga justru berebutan ingin berjualan di situ. “Sampai kami kewalahan. Sampai ribut. Di facebook, di kampung dan sebagainya,” tutur Fuad.

Untungnya, dengan pendekatan dan tekad kuat untuk membangun kebaikan bersama, problem ini bisa menemukan jalan keluarnya. Bersama-sama, mereka memoles Tanjung Bias menjadi semakin cantik dengan penataan yang lebih baik.

Problem lain yang dihadapi adalah munculnya sengketa lahan. “Setelah ditata, muncul persoalan, ada klaim tanah, sertifikat, jual beli, sporadik dan sebagainya. Kami tuntaskan masalah ini berbulan-bulan. Kami dipanggil polisi, kesana-kemari. Tapi alhamdulillah, akhirnya juga tuntas,” ujarnya.

Kini, perjuangan membesarkan dan mempopulerkan Tanjung Bias telah berbuah manis. Melalui BUMDes Senteluk, mereka kini bisa menghimpun retribusi senilai Rp300 ribu untuk lapak kecil, hingga Rp1 juta untuk lapak besar di Tanjung Bias. Hingga saat ini, Fuad mencatat sekitar 54 lapak sudah beroperasi di Tanjung Bias 1 dan Tanjung Bias 2.

Dengan retribusi itu, investasi awal untuk mendirikan lapak-lapak di Tanjung Bias bisa dikatakan telah kembali modal hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Bahkan, telah menghasilkan keuntungan. Fuad menyebutkan, sebagian dari retribusi dipakai kembali untuk penataan fasilitas di Tanjung Bias. Misalnya, untuk pembersihan dan pembuangan sampah, membangun taman, mendirikan 10 unit berugak atau balai-balai, hingga perbaikan rutin untuk lampu-lampu penerangan yang kerap rusak di sana.

Fuad mengaku, masalah demi masalah yang hadir telah banyak menempa dirinya dan warga desa. Baginya, manfaat terbesar yang diberikan Tanjung Bias adalah berupa adanya efek pemberdayaan dan perubahan perilaku bagi warga setempat. Khususnya generasi mudanya.

“Yang dulunya miras dan narkoba, alhamdulillah sekarang berkurang. Karena semua kami libatkan di sana,” ujarnya.

Di masa pandemi ini, Fuad menegaskan pihaknya telah menerapkan tatanan baru dalam pengoperasian Tanjung Bias. Untuk memastikan disiplin penerapan protokol Covid-19, telah dipasang sejumlah perangkat pendukung mulai dari baliho, penerapan protap wajib masker dan jaga jarak, hingga pengawasan yang ketat.

“Linmas kami tugaskan di sana. Setiap yang ke sana, kami suruh balik kalau ndak pakai masker,” ujarnya.

Terlepas dari masih banyaknya kekurangan, keberhasilan yang dicapai di Tanjung Bias telah menyuntikkan kepercayaan diri dalam dada para pemangku kepentingan di Desa Senteluk.

Fuad bersama aparatur desa, pengelola BUMDes dan warga desa kian optimis. Mereka yakin bisa mendirikan destinasi baru di Desa Senteluk. Mereka punya resepnya. Tahu cara membuatnya, dan mampu memasarkannya. Belum lagi, mereka mendapatkan banyak dukungan dari Pemkab Lobar, Pemprov NTB hingga media massa.

Kebetulan, di Senteluk ada kawasan persawahan yang cocok untuk disulap menjadi destinasi wisata sawah dan kebun yang dipadukan wisata kuliner dan alam. Sementara di sisi utara desa, ada perbukitan yang bisa dikelola menjadi wisata perbukitan.

“Dari situ, pemandangannya bagus sekali. Bisa melihat hamparan wilayah Kota Mataram, Lombok Barat, dan sampai pantai. Dan lahannya cukup luas,” ujar Fuad. Ia mengakui, saat ini warga memang sedang menggandrungi wisata alam yang diperkuat dengan sentuhan estetika untuk memberikan efek mengesankan saat diunggah ke media sosial.

Kepala Dinas Pariwisata Lobar, H. Saepul Ahkam mengemukakan, sebagai sebuah konsep destinasi wisata berbasis potensi lokal, Tanjung Bias sudah memberikan manfaat yang cukup menggembirakan. “Luar biasa. Kalau sebagai titik awal, sudah bagus,” ujarnya.

Hanya saja, ia mengakui masih banyak hal yang perlu dibenahi di destinasi ini. Misalnya, pengintegrasian potensi nelayan lokal dengan pariwisata yang masih bisa diperkuat. Ia menegaskan, pihaknya ingin mendorong agar pariwisata di Desa Senteluk ini, bisa dikembangkan dengan melibatkan nelayan yang saat ini terkonsentrasi di Dusun Aiq Genit.

“Saat ini memang masih hanya terkonsentrasi di (Dusun) Karang Telaga. Maka kita sedang berupaya bagaimana menciptakan amenitas di dua dusun ini, agar kemudian tidak hanya melulu jadi wisata kuliner pantai saja saat sunset. Bagaimana interkoneksinya dengan masyarakat sekitar di lebih utara lagi,” ujarnya.

Lewat advokasi BUMDES dan Pokdarwis di Senteluk, Ahkam mengemukakan pentingnya memperkuat sejumlah unsur vital dalam tata kelola destinasi wisata. Yaitu, unsur amenitas, aksesibilitas dan atraksi. Di masa pandemi Covid-19 ini, Ahkam menegaskan pentingnya menambahkan dua elemen lainnya, yaitu hygiene dan healty (bersih dan sehat). Semua elemen itu disebutnya sebagai konsep 3A dan 2H.

Ahkam menyadari pentingnya menyeimbangkan upaya menekan penyebaran wabah Covid-19 di satu sisi, dengan upaya mencegah kelesuan ekonomi di sisi lain. Karenanya, penerapan protokol kesehatan di tempat-tempat wisata seperti Tanjung Bias terus disosialisasikan dan diawasi.

“Kami menerbitkan protokol kesehatan yang sudah kita sosialisasi dan kita supervisi. Dan hasil supervisi itu harus terus meningkat dan menjadi lebih baik lagi,” ujar Ahkam.

Menurut Ahkam, tidak hanya Tanjung Bias. Sejumlah destinasi lain di Lombok Barat juga akan diarahkan untuk dikelola dengan memaksimalkan elemen 3A dan 2H. Dengan demikian, daya ungkit pariwisata terhadap ekonomi lokal bisa diwujudkan, tanpa harus mengesampingkan upaya menekan wabah Covid-19.

“Tahun ini, kita akan melakukan bimtek semua pelaku kuliner, desa wisata, tempat wisata, homestay yang berbasis masyarakat, fashion, kita akan latih untuk kembangkan 3A dan 2H itu,” pungkasnya.

Pemerhati ekonomi NTB, Dr. M. Firmansyah menilai, resep pembangunan pariwisata berbasis potensi desa seperti di Tanjung Bias sangat memungkinkan untuk diadaptasi di desa-desa lain di NTB. Ia menilai, konsep pariwisata di tengah tren digital dan pandemi Covid-19 saat ini harus mengedepankan pendekatan daring dan luring.

“Nah, ketika pandemi, yang online ini yang bisa dimaksimakan. Pemuda di sana bisa diajarkan membuat konten yang menarik,” ujarnya. Firmansyah juga mendukung perlunya pengembangan destinasi dengan membuat destinasi dan atraksi baru yang lebih bervariasi.

Firmansyah menilai, Provinsi NTB telah dianugerahi potensi alam yang sangat luar biasa. Semua ini bisa dimaksimalkan lewat pembangunan pariwisata dengan pendekatan ekonomi kreatif.

Potensi kesenian, budaya dan kuliner lokal, menurutnya bisa dipromosikan lewat destinasi-destinasi tersebut. Untuk membuat destinasi wisata lokal lebih dikenal, para pengelola media dan jurnalis lokal bisa mengambil peran.

“Yang seperti ini perlu diperkenalkan ke luar. Dan media perlu memperbanyak eksplorasi lewat konten-konten yang memperkenalkan destinasi seperti ini,” seru Firmansyah. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here