Tanjung Bias, Destinasi Wisata Kuliner “Seafood” dan Berkuda yang Romantis

0
Wisata Berkuda di Tanjung Bias (Suara NTB/bul)

Giri Menang (Suara NTB) – Bibir Pantai Tanjung Bias, Desa Senteluk Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat sejatinya adalah pantai biasa. Namun belakangan sudah menjadi tak biasa.  Tanjung Bias menjadi latar berswafoto yang romantis. Apalagi di sore hari menikmati sunset (matahari tenggelam). Di media-media sosial, swafoto (selfie) dengan menu khas laut (seafood) sudah banyak berseliweran. Hanya saja, di masa Covid-19 ini, terlihat berkurang.

Sejak Covid-19 mewabah di NTB, Tanjung Bias juga tak luput. Pemerintah daerah menutupnya. Bersama dengan sejumlah tempat-tempat wisata dan keramaian di daerah ini untuk mengendalikan penularan virus corona. Dua bulan terakhir, Tanjung Bias kembali dihidupkan dengan tetap mengedepankan protokol Covid-19.

IKLAN

Kedai seafood berjejeran di sepanjang pesisir Tanjung Bias. Masing-masing dihiasi aneka properti untuk menarik minat pengunjung. Tak lupa, di setiap pintu ada yang menawarkan, mempersilahkan masuk pengunjung yang baru datang. Akses menuju Pantai Tanjung Bias tak susah. Dari arah Ampenan menuju Senggigi di Jalan Raya Senggigi, ada gang masuk di samping Kantor Desa Senteluk. Gang beraspal. Mobil bisa masuk dan berpapasan. Tak beratus-ratus meter masuknya, kita bisa menjumpai pesisir Tanjung Bias di arah utara.

Dari sore hari sudah mulai ramai. Di malam hari apalagi. Sepanjang Pantai Tanjung Bias, berhias lampion dan properti yang dibuat oleh pemilik kedai untuk berswafoto. Kita bisa memilih tempat duduk. Apakah yang menggunakan kursi kayu, bambu, atau yang menggunakan bing bed. Pilihan tempat duduknya juga ada untuk sepasang, atau berkelompok. Ada juga ayunannya.

Menikmati Tanjung Bias sore hari dibalut suasana romantis jelang senja. Menghadap laut menikmati matahari menuju peraduannya. Ada beberapa pemilik kuda di pinggir pantai ini menawarkan sensasi berkuda di pesisir. Namun hanya dijumpai pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Malam menyambut 17 Agustus 2020, Suara NTB berkesempatan menikmati wisata kuliner di Tanjung Bias yang sudah ramai ini ba`da Isya. Memilih salah satu kedai yang agak longgar tempat duduknya.

“Silahkan masuk,” kata pelayan-pelayan kedai ini ramah. Lalu berdua memilih duduk di bing bed. Seorang pelayan datang membawa buku pilihan menu. Isinya aneka pilihan menu ikan, menu ikan laut, menu nasi goreng, menu sayur, menu camilan, aneka jus, aneka kopi dan menu minuman lainnya. Saya memilih menu kepiting asam manis. Harganya Rp60 ribu lebih seporsi. Menu-menu laut adalah andalan di Tanjung Bias. Tak terlalu lama menunggu, menunya datang. Bisa juga memesan terong bakar bebero` (sambal khas Lombok). Jika ingin menambah variasi menu.

Angin pantai tenang, menyapu. Ombak kecil juga seolah terus menyapa. Beriringan dengan musik reggae dari sound system yang disediakan pemilik kedai. Di sebelah utara, terdengar sajian musik yang berbeda. Ada yang memperdengarkan lagu-lagu dangdut. Ada juga yang memperdengarkan lagu-lagu romantis. Rasa bercampur, sambil menikmati sajian kepiting asam manis yang nikmat. Bing bed rasanya tak ingin membangunkan kita dari duduk. Menghadap pantai nun jauh terlihat kerlip – kerlip lampu perahu nelayan.

Disamping kiri kanan banyak orang menikmati suasana yang sama. Ada yang bersama pasangannya, ada yang bersama keluarga besarnya. Ada di tempat duduk di bawah lampu yang terang, ada juga yang memilih di bawah lampion yang remang-remang. Begitulah suasana setiap malam di Tanjung Bias. “Alhamdulillah, setelah diperbolehkan buka. Sudah dua bulan tempat ini buka,” kata Sanusi, pemilik Kedai Nabil.

Kunjungan wisatawan rasanya sudah mulai normal. Namun wisatawan dominan adalah lokal. Tempat ini selalu ramai, karena harga menunya ramah di kantong. Cocok untuk kalangan menengah ke bawah. Sebelum Covid-19, dalam sehari Sanusi bisa mendapatkan hingga Rp4 juta. Pada kondisi sepi, yang didapatkan hanya ratusan ribu.

Ada enam pelayan di Kedai Nabil ini, diantara meraka ada juga dari luar desa yang dipekerjakan. Di masa pandemi Covid-19 ini, kedai-kedai di Tanjung Bias menerapkan protokol Covid. Menyediakan tempat cuci tangan. Bahkan masker juga diberikan kepada pengunjung yang tak bermasker, kata Sanusi. Tempat duduknya juga sudah diatur berjarak dengan tempat duduk lainnya. Untuk mengantisipasi kontak dekat kelompok yang satu dengan yang lainnya.

Pelayannya juga wajib menggunakan masker. Pengawasan juga dilakukan rutin oleh Pemda, TNI dan Polri untuk memastikan protokol Covid sudah dilaksanakan. Sudah hampir tiga tahun terakhir, Tanjung Bias menjadi lahan bekerja banyak orang. “Sebelum Covid-19, tempat ini bisa dibuka sampai jam 12 malam. Karena ramai pengunjung, sekarang disesuaikan, bisa sampai jam 10 malam,” demikian Sanusi.

Wisata Berkuda di Tanjung Bias (Suara NTB/bul)

Faozan, salah satu pemilik kuda di Desa Senteluk sudah setahun terakhir ini menjajakan kudanya kepada pengunjung untuk ditunggangi. Ada dua kuda yang selalu ia tawarkan kepada pengunjung yang menikamti makan dan suasana di Tanjung Bias. Faozan sehari-hari menjadi kusir becak di Pantai Senggigi, Lombok Barat. Setelah Covid-19 ini, ia benar-benar kehilangan pendapatan. Wisatawan sangat sepi. Untungnya masih ada tempat di Tanjung Bias. Dalam sehari ia bisa mendapatkan Rp50 ribu dari sewa kudanya. “Harganya tergantung yang menunggangi. Disesuikan. Tapi Alhamdulillah sudah sangat membantu pendapatan,” demikian Faozan.

Kepala Desa Senteluk, Fuad Abdulrahman sebagai pemilik ide mengelola pesisir Tanjung Bias, kepada Suara NTB mengatakan, sepanjang 300 meter pesisir yang dimanfaatkan untuk membangun kedai, ada 52 kedai berjejer. 18 kedai diantaranya dibangun dari penyertaan modal dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dulunya Pantai Tanjung Bias adalah tampat yang tak ramah. Tujuan pembuangan sampah, bahkan tempat kegiatan amoral. Mabuk-mabukan. Sudah dua tahun lebih Tanjung Bias ditata sebagai pusat kuliner seafood.

Wajah Pantai Tanjung Bias telah berubah. Menjadi destinasi rekreasi yang romantis menikmati kuliner laut. Pemuda-pemuda setempat sudah produktif di desanya sendiri. Setidaknya menjadi penata parkir dan keamanan. Tanjung Bias juga menjadi lahan mencari rizki bagi para pemilik cidomo yang sudah kebingungan di tengah sepinya pengguna jasa angkutan tradisional ini. Ada delapan pemilik kuda yang biasa mangkal di Senggigi kata Fuad, sekarang lebih memilih menjajakan kudanya ditunggangi untuk berjalan-jalan dipesisir oleh pengunjung. Sewanya Rp30 ribu sekali berjalan-jalan, atau bisa kurang, tergantung siapa yang akan menunggangi kudanya. Dewasa, atau anak-anak.

Alhamdulillah, malah sekarang kita kebingungan cari pemuda-pemuda di sini bekerja di tempat lain. Semuanya sudah terlibat dalam satu sistem di Tanjung Bias. Para pengusaha juga sudah bisa memberikan PAD kepada Pemkab Lobar dalam bentuk retribusi,” ujarnya. Di akhir pekan, Tanjung Bias sudah dikunjungi sampai lebih dari seribu pengunjung. (bul)