Tangkap Peluang MotoGP, Pemda Lobar Berencana Kembangkan Wisata Garam di Sekotong

Para Petani garam di Cendimanik Sekotong memanen garam hasil teknologi gioisilator. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Barat (Lobar) menargetkan penambahan luas areal pengembangan garam di wilayah Sekotong. Untuk memperluas pengembangan produk yang disebut emas putih ini, Dinas terkait telah mengusulkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) agar mendapatkan program Tugas Perbantuan (TP) senilai Rp8,7 miliar dengan luas areal mencapai 30 hektare.

Kepala DKP Lobar, L. Sukawadi mengatakan, potensi garam di Lobar khususnya di Sekotong begitu besar. Hal ini mengacu hasil panen beberapa hari lalu, petani di Desa Cendimanik memanen 5 meja dengan hasil panen mencapai 7 ton per meja sehingga totalnya mencapai 35 ton. Ditambah lagi hasil panen petani di wilayah Bengkang, Desa Buwun Mas mencapai 40 ton.

Iklan

“Total produksi (hasil panennya) sekitar 75 ton,” jelas dia akhir pekan kemarin. Sebenarnya hasil panen ini bisa lebih besar lagi, kalau saja tidak terjadi hujan beberapa hari lalu.

Ia menjelaskan, garam yang dihasilkan petani ini memiliki pangsa pasar yang jelas. Selain dijual ke masyarakat umum, juga dijual ke Pemda untuk para ASN. Di samping itu, untuk kebutuhan garam industri untuk PDAM. Rinciannya, garam untuk PDAM mencapai 36 ton per buan. Sedangkan ASN ada penurunan menjadi setengah kilogram sekali kirim. Jika ditotal mencapai 4-6 ton per bulannya.

Pengembangan garam ini sendiri ada dua, yakni garam kasar dan garam halus (beryodium). Produksi garam halus mencapai 250 ton, sedangkan garam kasar mencapai 900 ton sehingga totalnya 1018 ton lebih. Di mana jumlah kelompok untuk garam kasar empat kelompok dengan 80-100 orang petani garam, sedangkan garam halus ada 11 kelompok dengan 120 orang petani nelayan.

Pihaknya juga berencana membantu akses pasar garam ini dengan memasukkan ke ritel modern. Pihaknya tengah meminta data ke Disperindag terkait jumlah ritel modern yang bisa diakses oleh petani garam. Menurutnya, dari sisi kualitas, garam yang dihasilkan termasuk bagus, bahkan masuk kategori premium. Saat ini, tengah dilakukan pengurusan izin edarnya dari Balai POM. Lebih lanjut, kata dia, garam ini menjadi salah satu produk unggulan Bupati dan Wakil Bupati Lobar, sehingga pihaknya pun berupaya memperluas pengembangan garam.

Pihaknya mengusulkan ke pemerintah pusat seluas 30 hektare dengan anggaran mencapai Rp8,7 miliar. “Kami usulkan ke pusat melalui TP sebesar Rp8,7 miliar dengan luas mencapai 30 hekta, itu nanti kami arahkan ke Sekotong,”ujar dia.

Kalau program ini terealisasi, pihaknya akan berupaya mempeluas jaringan pasar hingga ke luar daerah. Bahkan sejauh ini, daerah Bali sudah meminta kerja sama untuk suplai garam. Di samping dipasarkan, pihaknya juga berencana mengembangkan pengolahan produk garam ini. Seperti untuk SPA, dan beberapa kebutuhan lain antara lain uap (sauna). Sehingga, kata Sukawadi , ke depan garam ini bisa menjadi wisata produk garam yang bisa dinikmati oleh para tamu MotoGP. “Kalau motoGP berjalan, nanti kita akan buat wisata garam, ini untuk menangkap peluang MotoGP ini,” ujar dia. (her)