Tangkap 19 Tersangka, Polresta Mataram Bersih-bersih Pelaku Kejahatan Jelang WSBK Mandalika

0
Kapolresta Mataram Heri Wahyudi didampingi Kasatreskrim Kadek Adi Budi Astawa Kamis, 28 Oktober 2021 menginterogasi para pelaku 3C yang tertangkap dalam operasi cipta kondisi jelang WSBK Mandalika.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Polresta Mataram mengungkap 18 kasus kejahatan konvensional seperti pencurian, jambret, dan curanmor. Sebanyak 19 tersangka diamankan. Empat diantaranya anak remaja di bawah umur. Kegiatan ini untuk menciptakan kondusivitas jelang World Superbike Mandalika 19-21 November mendatang. “Untuk menekan angka kriminalitas untuk jamin keamanan kondusif sehingga kita laksanakan kegiatan rutin yang ditingkatkan,” sebut Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi, Kamis, 28 Oktober 2021 didampingi Kasatreskrim Kompol Kadek Adi Budi Astawa.

Operasi ini digelar sejak 22 Oktober lalu dan masih akan berlangsung hingga 5 November mendatang. Dalam sepekan pelaksanaan, Polresta Mataram sudah mengamankan 15 tersangka dan empat tersangka anak berhadapan hukum. “Pelakunya juga ada yang residivis. Ada yang memang buruan kita,” imbuhnya. Sejumlah kasus ini kumpulan dari pengungkapan Satreskrim dua kasus; Polsek Cakranegara dua kasus; Polsek Ampenan dua kasus; Polsek Mataram empat kasus; Polsek Narmada dan Polsek Pagutan masing-masing satu kasus; Polsek Gunungsari empat kasus; dan Polsek Lingsar dua kasus.

IKLAN

“Modusnya beragam. Tetapi kebanyakan dengan cara merusak kunci, merusak jendela, untuk yang curanmor modusnya dengan menggunakan kunci T. Rata-rata dilakukan pada malam hari,” terangnya. Sejumlah barang bukti yang diamankan antara lain satu unit mobil pikap, tujuh unit sepeda motor, satu set kunci T, satu unit ponsel pintar, dua unit sepeda, satu unit Playstation, tujuh unit tabung gas, satu unit mesin air, dan uang tunai Rp418 ribu.

Para pelaku dijerat sesuai dengan perbuatannya yang diantaranya pasal 362 KUHP tentang pencurian biasa dengan ancaman penjara paling lama lima tahun, pasal 363 KUHP dengan ancaman penjara paling lama tujuh tahun, dan pasal 365 KUHP yang ancaman pidananya paling lama sembilan tahun penjara. Heri menyebutkan, para pelaku anak ini mendapat kebijakan penanganan kasus secara keadilan restoratif.

Mereka dilepaskan status tersangkanya dengan pertimbangan tertentu. Yakni pencurian dalam keluarga, kerugian relatif kecil, tidak menimbulkan keresahan, sudah ada pernyataan damai, dan bukan residivis. “Terhadap yang diselesaikan melalui restorative justice, mereka tetap dikenai wajib lapor,” tandasnya. (why)