Tangkal Pandemi, Tarian Sakral “Sang Hyang Jaran” Dipentaskan

Salah satu prosesi tarian sakral “ Sang Hyang Jaran”

Mataram (Suara NTB) – Warisan budaya leluhur untuk menolak bala dan bencana banyak dijumpai dalam setiap komunitas atau ajaran keagamaan. Pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia, termasuk NTB sejak bulan Maret 2020 telah menjadi bencana yang berdampak terhadap semua lini kehidupan.

Untuk itulah Krama Pura Pemaksan Sweta menggelar pementasan tarian sakral “ Sang Hyang Jaran”. Tarian ini kata Ketua Krama Pura Pemaksan Sweta I Gede Terang merupakan tradisi yang dimainkan untuk menolak bala atau bencana atau gering dalam bahasa Bali.

Iklan

Tarian sakral “ Sang Hyang Jaran” dipentaskan di Mandala Utama Pura Pemaksan Sweta, Jalan Selaparang, Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, pada Sabtu, 10 Oktober 2020. Tradisi ini dilaksanakan sekitar pukul 19.00 Wita dengan memperhatikan protokol Covid-19.

“Tarian Sang Hyang Jaran merupakan tarian sakral yang diyakini oleh leluhur umat Hindu di Lombok maupun di Bali dari dulu sampai sekarang dalam upaya menolak bala,” kata Ketua Krama Pura Pemaksan Sweta I Gede Terang kepada Suara NTB di sela acara.

Ia mengatakan, pementasan tarian sakral “ Sang Hyang Jaran” ini bukan merupakan tontonan atau hiburan, namun pementasan khusus keagamaan yang dibawakan oleh kelompok (sekehe) dari Kebon Babakan, Kecamatan Sandubaya dengan kelompok dari Pura Pemaksan Sweta.

“Yang terlibat dalam pementasan maupun pendukung lainnya diatur dari Polsek Cakranegara dan pihak  Koramil, dibantu oleh Pecalang Tri Dharma Sweta agar sesuai dengan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, tari ‘’Sang Hyang Jaran’’ ini memang sudah lama tidak dipentaskan. Terakhir kali dipetaskan di Pura ini yaitu tahun 1966 silam saat terjadi gejolak sosial dan politik pasca G30 S/ PKI. Kini tradisi leluhur tersebut kembali dipentaskan oleh umat Hindu dengan satu tujuan yaitu semoga bencana pandemi Covid-19 ini bisa segera hilang dengan bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Sejak terjadinya Covid-19 sudah berbagai upaya dilakukan secara ritual oleh Umat Hindu, dan sekarang ini diupayakan secara spiritual,” terangnya.

Ia berharap tidak hanya di Pura Pemaksan Sweta tradisi tarian sakral “ Sang Hyang Jaran” ini dipentaskan, namun di tempat-tempat lainnya juga diharapkan ada kegiatan serupa meskipun dengan tari ‘’Sang Hyang’’ yang lain seperti ‘’Sang Hyang Penyalin’’, ‘’Sang Hyang Memedi’’, ‘’Sang Hyang Dedari’’, atau dengan tarian ‘’Sang Hyang’’ yang lain.

Acara ini diinisiasi oleh Letkol (Purn) Drs.I Made Metu Dahana, SH.MH selaku Penasehat Pura Pemaksan Sweta. Metu yang didampingi Sekretaris Krama Pura Pemaksan Sweta, I Komang Walinegara, Pemangku Pura I Gede Mandra serta Ketua Kelompok Sekehe ‘’Sang Hyang Jaran’’ Kebon Babakan, I Dewa Komang Geredeg menambahkan, dalam tarian sakral saat pentas yang diukup   atau dimohonkan untuk kesurupan ada enam orang. Dua orang dari Kebon Babakan dan empat orang dari Pura Pemaksan Sweta. Namun yang berhasil masing-masing dua orang dari Kebon Babakan dan Pura Pemaksan Sweta.  (ris)