Tangis dan Pengakuan Gatot Brajamusti Saat Bacakan Nota Pembelaan

Mataram (Suara NTB) – Terdakwa kepemilikan sabu, Gatot Brajamusti membaca nota pembelaan dalam lanjutan sidang di Pengadilan Negeri Mataram, Senin, 10 April 2017. Artis asal Sukabumi, Jawa Barat itu mengaku salah.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Dr Yapi, Gatot mengakui perbuatannya dan berjanji tidak mengulangi lagi. Ia memohon pada majelis hakim agar memberikannya keringanan hukuman agar kembali dapat menata padepokannya di Sukabumi.

Iklan

“Pada prinsipnya saya tidak lagi akan menggunakan narkoba. Saya ingin kembali menata padepokan saya dan mendengar lantunan ayat suci dibacakan,” terangnya, air matanya mulai terurai.

Pria yang dikaruniai lima anak itu jera hidup dari penjara satu ke penjara lainnya. “Enam penjara saya lalui selama hampir delapan bulan. Dari Polres Mataram, Polda NTB hingga diterbangkan ke Jakarta,” keluhnya.

Dalam pengakuan lainnya, ekses dari perbuatannya itu membuat kehidupan keluarganya berantakan. Mulai dari anak yang berhenti sekolah, serta hilangnya pemimpin keluarga.

“Saya dan keluarga saya tertekan dan terpojokan. Anak saya yang masih kecil harus berhenti sekolah. Dikata bapaknya penjahat oleh teman-temannya. Sementara anak saya yang besar harus cuti kuliah untuk merawat adik-adiknya,” kata dia. Suaranya terbata-bata menahan tangis.

Usai pembacaan pleidoi, majelis hakim kemudian menunda sidang untuk dilanjutkan Senin pekan depan dengan agenda pembacaan putusan.

Gatot Brajamusti sebelumnya dituntut penjara 13 tahun. Jaksa Penuntut Umum berpendapat mantan Ketua PARFI itu terbukti memiliki sabu 13,36 gram, serta berpesta narkoba di Lombok dengan sabu 0,94 gram.

Pemain film D.P.O itu juga dituntut membayar denda Rp 1 miliar subsidair penjara 6 bulan bilamana terdakwa tidak sanggup membayar.

Jaksa menuntut dengan dakwaan pasal 112 dan pasal 114 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here