Tangani Sampah di Tiga Gili, Pemdes Nekad akan Beli Boat

Tanjung (Suara NTB) – Penanganan sampah Tiga Gili di Kabupaten Lombok Utara (KLU), hingga kini masih belum terintegrasi dengan baik. Jika Pemkab Lombok Utara sudah mengambil alih persoalan biaya penanganan sampah Gili Trawangan pasca OTT aparatur dusun setempat, tidak demikian dengan Gili Meno dan Gili Air. Sebagai solusinya, Pemerintah Desa Gili Indah pun harus menyiapkan langkah strategis salah satunya dengan mengadakan boat pengangkut sampah.

Kepala Desa Gili Indah, H. M. Taufik, kepada wartawan Sabtu, 18 Februari 2017 mengaku, pihaknya berencana untuk membuat boat angkutan sampah untuk mengakomodir Gili Meno dan Gili Air. Besar kemungkinan pembuatan boat ini dibiayai dari dana yang dikelola Pemdes.

Iklan

Persoalan sampah 3 Gili saat ini ditangani secara berbeda. Taufik menjelaskan, sampah di Gili Trawangan dikelola di TPA setempat. Sedangkan sampah Gili Air, ditangani dengan mengangkut material sampah ke darat melibatkan Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup.

Sebaliknya, sampah Gili Meno sama sekali tak tertangani. Namun meski Dinas KLH terlibat menangani sampah Gili Air, penanganannya pun tidak pernah maksimal.

Ia menjelaskan, pengadaan boat sampah milik Pemdes ini sedang dibuatkan desain. Keberadaan boat dimaksud sangat diperlukan untuk mendukung penanganan sampah, sehingga tidak menimbulkan keluhan dari wisatawan akibat tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang gang rumah warga.

Perihal pengadaan boat sampah desa, Taufik enggan menyebut detail armada, begitu juga dengan besaran biayanya. Namun rencananya, sumber anggarannya akan berasal dari ADD, sebab jika mengandalkan sumbangan pihak ketiga dikhawatirkan masuk dalam perkara pungutan liar.

Seiring upaya pengangkutan sampah oleh Pemdes ke depan, Taufik meminta dukungan dari SKPD terkait. Di mana, pengangkutan sampah ke Pelabuhan Ombak Beleq Sire) harus didukung kesiapsiagaan petugas kebersihan.

Saat boat bersandar di Ombak Beleq, armada berupa truk sampah harus stand by di tempat. Taufik bahkan menyebut, ketersediaan truk sampah dengan hanya 1 armada saja tidak akan cukup untuk menampung kapasitas boat yang akan dibuat pemdes.

Taufik mencatat, volume sampah yang dihasilkan Gili Meno dan Gili Air mencapai 12 ton. Angka ini bisa melonjak menjadi 20 ton pada saat kunjungan ramai (high season).

Ia mengingatkan, agar Pemkab Lombok Utara mengambil langkah jangka panjang untuk menangani sampah khususnya di Gili Trawangan. Pasalnya keberadaan lahan TPA sementara di Trawangan saat ini sudah melampaui kapasitas dan tak mampu menampung volume harian sampah yang dihasilkan perhotelan dan tumah tangga. (ari)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here