Tangani Kasus Jembatan Ambruk, Polres Lotim Libatkan ITS

Selong (Suara NTB) – Aparat Polres Lombok Timur (Lotim) mendatangkan tim dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya untuk menelusuri kualitas jembatan penghubung antara Kelurahan Pancor dan Kelurahan Sekarteja Kecamatan Selong yang ambruk beberapa waktu lalu. Didatangkannya tim dari ITS ini terkait pengkajian kembali terhadap pangkal atau pondasi jembatan sebelum dilanjutkannya pembangunan.

Dikonfirmasi Suara NTB, Sabtu, 29 Oktober 2016, Ketua Tim Pengkaji Fuzi Irmawan menjelaskan, dilakukan pengkajian terhadap sampel pada pondasi jembatan untuk mengetahui secara kualitas dan kuantitas pembangunan jembatan.

Iklan

“Jaraknya bagaimana kita gambar semua. Nantinya akan diperiksa di laboratorium kami, dengan gambar kerja yang dibuat oleh konsultan pengawas dan konsultan perencana. Kenapa ini harus dilakukan, karena sebelumnya telah terjadi kerusakan pada lantai jembatan pada saat proses pengecoran,” ujar Dosen Jurusan Teknik Sipil ITS ini.

Dari sejumlah sampel yang diambil berupa bagian beton dalam dalam pondasi jembatan itu, pihak dari UTS akan melakukan pengkajian apakah sudah memenuhi syarat ataupun belum. Untuk hasilnya akan diserahkan kembali ke Polres Lotim sebagai bahan untuk memberikan saran apakah ditindaklanjuti ataupun mungkin dilakukan penguatan kembali supaya pondasi yang sudah dibuat ini bisa dimanfaatkan dengan kemampuannya menahan beban.

Dalam tahap pengkajian ini, pihak dari UTS akan bekerja kurang lebih selama 10 hari. Untuk cek fisik, lanjutnya, akan lakukan selama dua hari dan dua minggu ke depan hasilnya bisa diketahui dan dievaluasi. Alasannya, untuk mengetahui mutu beton harus dulakukan tes kordril (tes inti). “Besi-Besi tulangan yang kita ambil untuk dilakukan uji lab. Berapa beton yang muncul akan kita kaji nantinya,” jelasnya.

Sementara, Kapolres Lotim melalui KBO Satreskrim Polres Lotim, Iptu I Made Sutama menambahkan, didatangkannya ahli dari ITS ini untuk melakukan pemeriksaan terhadap fisik jembatan. Tujuannya, untuk mengetahui kualitas pekerjaan khususnya pada tahap pertama meliputi besi dan beton. Bagian fisik jembatan dan beberapa sampel diambil untuk dilakukan uji laboratorium yang kemudian hasil atau BAPnya akan dikirimkan kembali.

Tim juga, lanjutnya, berencana melakukan pemeriksaan pada badan jembatan. Dalam tahap penyidikan di tahap kedua senilai Rp 760 juta itu sudah ditetapkan satu orang tersangka, karena terjadi unsur kelalaian, yakni Bambang selaku kepala tukang yang saat ini masih dalam tahap pengembangan.

Sedangkan, Hj. Kartini selaku PPK dan KPA dalam pengerjaan tahap pertama jembatan saat dikonfirmasi mengatakan kontraktor yang mengerjakan proyek itu adalah CV Marong asal Masbagik dengan nilai kontrak sebesar Rp 1. 360.125.770 bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas PU tahun 2015 yang dikerjakan selama tiga bulan mulai Oktober sampai Desember 2015. Sekretaris Bappeda Lotim yang saat itu menjabat sebagai Kabid Bina Marga Lotim ini menegaskan tidak ada masalah dalam tahap pengerjaan tahap pertama itu. “Kalau tahap pertama tidak ada masalah, sementara untuk pengerjaan tahap kedua sudah pindah ke Bappeda,” ungkapnya. (yon)