Tanaman Petani di NTB Terancam Puso

Amaq Nurjanah memperlihatkan tanaman tembakaunya  yang terancam mengering karena tidak dapat pengairan. (Suara NTB/rus)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Sedikitnya 200 hektar  tanaman padi di tiga lokasi di Desa Marente, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, terancam puso atau gagal panen. Pasalnya sejak pertengahan Mei lalu, tanaman padi petani sudah kekurangan air. Kondisi ini membuat para petani gigit jari dan bakal merugi.

Tiga lokasi sawah dimaksud, yakni Orong Sanero 1, Orong Sanero 2, dan Orong Marente. Ke tiga lokasi tersebut luasnya sekitar 500 hektar. Dari luas itu, sekitar 200 hektar yang terancam gagal panen.

Iklan

‘’Yang terancam gagal panen di lokasi Orong Sanero 1, Orong Sanero 2, dan Orong Marente. Dari luas sekitar 500 hektar, sekitar 200 hektar yang terancam gagal panen,’’ kata Ahmad, salah seorang petani yang ditemui di lokasi bersama beberapa petani lainnya.

Tanaman padi yang terancam gagal panen ini kondisinya hampir sama. Daunnya sudah layu dan mulai menguning. Tak sedikit juga yang sudah berbuah, namun tidak berisi. Yang paling parah di Orong Sanero 2, sekitar 45 hektar dipastikan tidak terselamatkan. Bahkan di lokasi setempat juga ada yang sudah dipotong untuk dijadikan pakan ternak. Termasuk sawah miliknya di lokasi setempat sekitar 1 hektar juga tidak bisa diharapkan.  Hal ini membuatnya merugi, karena sudah mengeluarkan biaya produksi jutaan rupiah.

‘’Kondisi tanaman padi hampir sama untuk yang lebih kurang 200 hektar. Ada yang belum berbuah tapi sudah layu. Ada juga yang sudah berbuah tetapi tidak berisi. Airnya tidak mencukupi. Makanya padi ini sudah mau mati semua. Yang sudah ditanam ini, tidak diapa-apakan. Tinggal dikasih makan sapi. Kalau saya biaya produksi sekitar Rp 2,5 juta. Itu untuk biaya bibit, bajak, tanam, pungut rumput dan pupuknya,’’ terangnya.

Para petani tidak bisa berbuat apa-apa, karena petani hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi lahan pertaniannya. Sedangkan hujan sudah berhenti sejak Mei lalu. Sementara lokasi sawah setempat belum tersentuh irigasi teknis. ‘’Ditanam sejak April. Sejak selesai pupuk pertama pertengahan bulan Mei, sudah tidak ada lagi hujan. Irigasi juga belum sampai,’’ akunya.

Tahun lalu, kata Ahmad, petani juga gagal panen. Petani berani menanam padi karena diperkirakan hujan masih akan berlangsung hingga Juni. Tetapi kondisinya juga sama seperti tahun lalu. Tetapi jika irigasi bisa terjangkau hingga lokasi sawah, maka lahan petani bisa terairi.  Makanya pihaknya berharap kepada pemerintah agar bisa dibuatkan saluran irigasi permanen.

“Kalau Sanero 2 airnya dari Sungai Brang Semit. Airnya sedikit, kebetulan saluran irigasinya belum permanen. Kemungkinan kalau permanen bisa cukup. Harapan kita kalau bisa dipasang pipa dari Sungai Brang Sebra untuk mencukupi airnya. Kalau Orong Sanero 1 dan Orong Marente airnya dari Sungai Brang Sanero. Tapi tidak ada irigasi teknis. Kami berharap kepada pemerintah supaya ini dapat diperhatikan,” harapnya.

Ke depannya, petani juga berharap bisa dibangunnya Embung Sanero. Jika pembangunannya terealisasi, maka bisa mengairi lokasi ketiga sawah. Dalam hal ini pihaknya sudah mengusulkan untuk pembangunannya.

Sementara Kades Marente, Syahril, berharap dinas terkait dapat turun tangan untuk memperhatikan nasib para petani. Karena lokasi sawah yang  berada di selatan Marente ini notabenenya daerah tadah hujan dan tidak mempunyai irigasi teknis.

‘’Karena di sini yang ada irigasi teknis hanya 100 hektar yang punya lahan Marente. Yang 500 hektar tidak punya irigasi teknis. Maka disitulah letaknya ketidak berhasilan dan gagal panen. Jadi kami dari pemerintah mewakili masyarakat petani, inginnya turun tangan dinas terkait, seperti Dinas Pertanian atau pengairan untuk ditindaklanjuti supaya masyarakat kami yang tidak lagi gagal panen,’’ ujarnya.

Diakuinya, di lokasi sawah yang terancam gagal penen biasanya dua kali tanam untuk padi dan palawija. Namun untuk tanam kedua ini petani menanami padi. Namun karena tidak adanya irigasi teknis, membuat tanaman petani kekurangan air. Petani hanya mengharapkan air hujan untuk mengairi.  “Sekarang sudah menanam padi. Karena tidak ada irigasi teknis, maka disitulah gagal panen. Lokasinya itu irigasi non teknis dan hanya tadah hujan,” terangnya.

Petani berharap supaya bisa diberikan pompa air ataupun sumur bor. Hal ini dimungkinkan untuk bisa mengantisipasi terjadinya gagal panen untuk jangka pendek. “Harapan petani jangka pendek, bisa mendapat pompa air yang bisa mengairi supaya tidak gagal panen. Dan di situ ada mata air dan bisa sumur bor. Mungkin salah satunya, yang bisa mengurangi gagal panen yang ada di Marente,” ujarnya.

Pihaknya juga sudah mengusulkan untuk pembangunan Waduk Sanero sejak 2014 lalu. Proposalnya juga sudah diusulkan kepada Gubernur. Karena Waduk Sanero tersebut kapasitasnya bisa mengairi untuk lahan 2.700 hektar. Bahkan airnya tidak hanya mengairi lahan di Kecamatan Alas tetapi juga bisa sampai ke Kecamatan Alas Barat.

“Kami sudah mengusulkan proposal untuk pembangunan Waduk Sanero. Kapasitasnya bisa mengairi 2.700 hektar lahan bahkan lebih. Kalau ada waduk itu, pasti bisa terairi sampai Mapin Alas Barat,” pungkasnya.

Tembakau Terancam Puso

Terbatasnya ketersediaan air mengancam tanaman tembakau  khususnya di wilayah Lombok Timur (Lotim) bagian selatan. Musim kemarau kali ini mengakibatkan tanaman tembakau mengalami gagal tumbuh dan bahkan terancam puso.

Amaq Nurjanah, petani tembakau di Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru yang ditemui Suara NTB di ladangnya usai menyiram tanaman tembakaunya dari sisa air hujan yang tertampung di  embung, menuturkan saat ini air sudah mulai menipis. “Saya mulai tanam bulan puasa lalu,” tuturnya.

Tembakau Amaq Nurjanah ini terlihat masih kecil dan masih lama baru bisa panen. Melihat embung sudah mulai mengering, ia pun sudah mulai siap-siap memasang jurus baru untuk menyelamatkan tanaman tembakaunya.

Sisa air embung yang ada saat ini diakui tidak akan mencukupi kebutuhan selama satu musim ini. Sehingga jurus baru yang disiapkan adalah dengan membeli air. ‘’Kita akan terpaksa membeli air nanti untuk menyiram tanaman tembakau,’’ katanya.

Ladang tembakau terlihat sudah tak lagi basah. Bahkan terlihat berdebu dan mengering. Kondisi ini harus segera diantisipasi dengan melakukan penyiraman. Setidaknya, tembakau terselamatkan sampai nanti tiba waktunya panen.

Keharusan membeli air ini membuktikan biaya produksi tembakau virginia Lombok jauh lebih mahal. Tambahan kebutuhan air ini saja, Amaq Nurjanah ini membeli satu tangki Rp 125-150 ribu dengan volume 5.000 liter. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan ini disebut tidaklah menjadi soal. Di mana, saat air embung pun masih tetap juga mengeluarkan biaya proses penyiraman. Di mana, harus menaikkan air dengan mesin penyedot. Pastinya, mesin penyedot bisa bekerja setelah terisi bahan bakar minyak (BBM).

Kebutuhan BBM dalam sekali musim tanam ini pun beragam tergantung kebutuhan. Karena disadari sebentar lagi air embung tak bisa disedot, maka pilihan lain dengan cara membeli.

Besarnya biaya pengadaan air itu tidaklah menjadi masalah. Terpenting katanya, tanaman tembakau bisa terselamatkan. Besar sekali harapan Amaq Nurnajah ini ada saluran irigasi teknis yang bisa digunakan untuk mengairi sawahnya. Sejauh ini sebagian besar petani di wilayah Jerowaru ini mengandalkan air tadah hujan. Khusus di Sekaroh sendiri sampai saat ini belum ada saluran air irigasi teknis. Semua petani mengandalkan embung-embung rakyat. (ind/rus)