Tampung PMI yang Pulang, Gedung Sekolah Disiapkan Jadi Tempat Karantina

Sejumlah warga Desa Barabali menolak rencana pemerintah daerah yang akan menjadikan SMPN 5 Batukliang sebagai tempat karantina PMI yang pulang. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Pemkab Lombok Tengah (Loteng) berencana akan memanfaatkan gedung SMP yang ada di masing-masing kecamatan, sebagai tempat karantina bagi ratusan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bakal habis masa kontraknya triwulan pertama tahun ini. Di mana total ada sekitar 986 PMI yang habis masa kontraknya dan kemungkinan pulang kampung dalam waktu dekat ini.

Wabup Loteng, H.L.Pathul Bahri, S.IP., kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa, 14 April 2020, mengatakan, mengantisipasi banyaknya PMI yang bakal pulang kampung, Loteng mau tidak mau harus menyiapkan lokasi karantina khusus. Keberadaan RMI yang saat ini dijadikan rumah karantina tidak akan mampu menampung PMI yang pulang, karena daya tampung RMI terbatas. Sementara PMI yang akan pulang jumlah cukup banyak, mencapai ratusan orang.

Kalau pun kemudian PMI yang pulang diberikan kebijakan untuk melakukan karantina mandiri di rumahnya masing-masing, dikhawatirkan tidak akan maksimal, sehingga harus ada lokasi khusus untuk mengkarantina PMI yang bakal pulang tersebut.

“Kalau kita lakukan karantina langsung, itu akan lebih mudah proses pengawasannya. Dari pada karantina mandiri di rumahnya masing-masing,” ujarnya. Apalagi sekolah-sekolah di Loteng saat ini sedang diliburkan, sehingga gedung yang ada bisa dimanfaatkan sebagai tempat karantina.

Untuk saat ini pihaknya sudah memulai di beberapa kecamatan dulu, seperti di Kecamatan Jonggat dan Kecamatan Batukliang. “Polanya nanti RMI difokuskan sebagai tempat pemeriksaan awal dulu. Untuk tempat karantinanya diarahkan di gedung SMP yang ada di masing-masing kecamatan, sesuai asal PMI bersangkutan,” tandasnya.

Disinggung adanya penolakan dari masyarakat sekitar tempat karantina, Pathul menjelaskan akan dikomunikasikan kembali dengan masyarakat setempat. Bisa jadi masyarakat belum mendapat penjelasan secara detail terkait pola karantina tersebut.

Karantina ini dilakukan juga demi kebaikan masyarakat itu sendiri. Dari pada dibiarkan melakukan karantina mandiri, khawatir tidak maksimal. Kalau dengan pola karantina langsung, pemerintah bisa melakukan pengawasan secara ketat. Pola perawatannya juga jelas. Jika kemudian muncul gejala terpapar virus Corona, bisa langsung ditangani. (kir)